Followers

Rabu, 13 Juni 2012

Hujan dan Matahari (Full Story)




Prolog

Nara baru saja selesai mengepak barang-barangnya, kemudian menghela nafas. Genap sudah 8 tahun dia meneruskan pendidikannya di Amerika. Dia masih mengingat jelas betapa heboh teman-teman sekolahnya begitu tahu dia berasal dari Indonesia. Betapa ramah dan menyenangkan sikap mereka padanya. Betapa seru meneruskan sekolah hingga kelas XII, menemani teman-temannya flirting saat jam istirahat, bercanda heboh, dan mengikuti berbagai ekstrakulikuler, bahkan menjadi ketua klub fotografi di Lynnwood High School. Melihat bakat Nara yang sangat bagus, pimpinan dari Academy of Art University pun berjanji akan memperpanjang hadiah Nara hingga lulus SMA. 4 tahun di Academy of Art pun, Nara menemukan banyak teman baru yang seru dan baik. Dia tidak rela pulang ke Jakarta. Kemudian matanya tertuju pada sebuah pigura. Foto seorang cowok SMA yang sangat berarti buat Nara. Nara mengambil pigura foto itu, lalu tersenyum. Lamunannya terhenti saat ada suara yang mengganggu telinganya.
"Nara, when is your flight actually?" tanya Emma, room-mate Nara. "3.15, Em. whassup?" tanya Nara. "Is it okay if we go to SFO in a half past 2? It's cloudy.." jawab Emma. Nara tersenyum lalu mengangguk. "Oki doki.. Just make sure that your car is ready. It's kinda annoyed me everytime  it strikes.." goda Nara. “When did the last time it strike?? I’m forget..” tanya Emma. “When we are going to the ball for our graduation party?? Remember?? And we need for more than 3 hours waiting for the help..” goda Nara. Emma tertawa. “Okay okay, Ma’am.. It won’t happen again. I’m promise..” sahut Emma, lalu pergi. Nara kembali memandang pigura itu, sambil melirik sekilas jam tangannya. Masih jam 2. 30 menit cukuplah untuk mengenang masa-masa indah di SMA, waktu dia masih di Indonesia dulu...











Sekolah  Baru
Nara menghela nafas lelah. Inilah efek yang dia terima karena sakit selama masa orientasi. Tidak tahu dimana dia harus duduk dan siapa pun dikelas itu. Nara memilih keluar dan menunggu teman-temannya. Untunglah, ketiga sahabatnya memilih sekolah yang sama, dan sangat beruntung dapat sekelas lagi. Nara menunggu di depan pintu, sambil menggoyang-goyangkan back-pack miliknya. 'BUKK' Nara menoleh cepat ke arah asal suara. Seorang cowok yang memakai kacamata memegangi perutnya yang terkena back-pack Nara. Nara cemas. Dia menatap cowok itu dengan tatapan khawatir dan berharap dalam hati semoga cowok ini bukan senior yang menyebalkan.
                "Maaf ya. Aduhh, sumpah deh nggak sengaja. Benerannnn. Maaf yaa." Nara menggaruk-garuk rambut keritingnya dan tampak sangat ketakutan. Namun Nara sempat tertegun. Cowok ini jelas nyaris sempurna. Garis rahangnya sangat tegas, alisnya tebal, matanya bewarna cokelat namun tertutup oleh kacamata, tubuh yang tinggi atletis, dan karisma yang membuat Nara hampir jatuh cinta.
 "Mata lo dimana sih?! Jalan luas gini, lo malah goyang-goyang!" Cowok itu mulai membentak Nara, kasar. Nara langsung terbangun dari lamunannya. Nara  memasang wajah kesal. Tepat saat Nara mau membalas ucapan kasar cowok itu, seorang cowok lain--temannya-- mendatanginya.
"Ga, santai aja kenapa sih?! Kasian banget sih anak baru, udah lo bentak aja. Kasian dia. Baru mau ngerasain nyamannya SMA ini. Lo gimana sih?! Baru disenggol dikit doang, marahnya udah sampe kedengeran ke kelas.. Parah banget lo!" ucap seorang cowok, yang menurut Nara super handsome ini. Cowok yang dipanggil 'Ga' ini cuma bisa menarik napas kesal. Dia menatap Nara, dengan tatapan dingin dan kemudian melangkah pergi. "hai! Anak baru ya?" Nara cuma bisa mengangguk. "Nama gue Fatih Ananda. Yang jutek tadi namanya Yoga Bayuputra. Maafin dia ya? Dia emang gitu! nyebelin dan suka bentak. Tapi tenang aja, ntar kalo udah kenal, Yoga tuh baik banget kok" jelas Fatih. Nara memutar bola matanya. "yea, like he will be nice" gumam Nara, namun terdengar oleh Fatih. Fatih tertawa. "lo lucu juga ya. ya udah deh, see you very soon junior!" Fatih melambaikan tangannya dan berlari pergi.
 Nara masih kesal. Dia harus tahu dimana kelas cowok menyebalkan itu! Dia tidak bisa terima kalau dia dipermalukan, padahal dia masih anak baru yang nggak tahu apa-apa! Nara mencatat jadwal barunya. Dia duduk sendirian, paling depan dekat meja guru karena 2 sahabat karibnya, Juwita dan Ghina sudah tercatat duduk bersama sejak masa orientasi. Nara menghela nafas pelan. Walaupun sahabat-sahabatnya duduk dibelakangnya, namun rasanya tidak mungkin dia akan ikut bersenang-senang dalam lelucon-lelucon aneh Juwita atau saat-saat Ghina tidak bisa diajak bercanda.
Jam istirahat tiba. Nara, Ghina, dan Juwita berjalan menuju cafetaria sekolah. Setelah mengambil jatah makan mereka, mereka mencari tempat duduk. Dan Nara terkejut bukan main saat melihat cowok dingin itu duduk di situ juga!

                "Mau duduk dimana nih??" tanya Juwita. "Disitu aja yuk" ajak Ghina. Nara langsung menggelengkan kepala kuat-kuat. "Nggak mau!! Horor banget sih kalo mesti disitu. Cari tempat lain ajalah! Kayak bangku di cafetaria ini dikit aja!" "Mau dimana jeng?? Bangku udah penuh! Mending disitu aja, aman. Ada kakaknya Ghina" ucap Juwita yang membuat Nara tidak bisa membalas kata-katanya. "uuhh~ kalian kan tahu tadi gue berantem sama cowok dingin itu?! Nggak mau ah, liat mukanya!!" Nara pasang wajah ngambek. Tapi 2 sahabatnya tidak peduli. Mereka terus berjalan menuju meja Yoga dan Fatih, serta kakak Ghina, Citra.
 "Kak, aku numpang makan disini ya?" tanya Ghina. Sabrina mengangkat kepalanya dari buku Fisika yang super tebal itu. "OK, you may" Sabrina dan Fatih tersenyum ramah pada Juwita dan Nara. Namun Yoga?? Yoga tampak terkejut melihat gadis itu duduk di samping Ghina. "Lo ngapain disini?!" tanya Yoga, ketus.
Nara menatap Yoga. Dia baru mau mengisi tenaga yang habis karena habis berantem tadi pagi dengan Yoga, sekarang sudah diajak berantem lagi?? Cari masalah cowok satu ini!
 "Menurut lo, gue ngapain?? Ada sendok ada mangkuk berisi cream soup, ada air mineral botol, dan ada susu di nampan makan gue. Pendapat lo gue ngapain?? Apa perlu gue jelasin tentang pengertian 'makan' secara harafiah??" ucapan Nara tidak terdengar ketus. Lembut malah. Namun jelas setiap kata yang dia ucapkan membuat Yoga mendidih.
 "Lo masih junior aja nyebelin banget!" seru Yoga, kesal.
"Sama! Lo senior tapi rese banget!" balas Nara, emosi. Fatih dan Sabrina yang jarang melihat Yoga berdebat sangat terhibur. Sementara Juwita dan Ghina yang sudah mengenal sifat nggak mau kalah Nara, cuma bisa tersenyum simpul.
 Dan akhirnya perdebatan dimenangkan oleh Nara, karena Yoga memilih untuk berdiri dan pergi.
"bro! wait up!!" Fatih berdiri dan melangkah pergi. Baru 3 langkah, Fatih kembali lagi ke meja tadi. "hey junior! you're the best clown I've ever met!! You're the one who can make Yoga so mad! Good job!" Fatih mengajak Nara untuk toast dan dia pin langsung mengejar Yoga.
 Nampaknya, sekolah barunya akan memberi Nara banyak pengalaman baru yang sangat menyenangkan...







Semua Tentang Yoga
"Jadi, lo bakal ikut ekskul apa Ra??" tanya Ghina, sambil membaca novel Pride and Prejudice miliknya. Pulang sekolah, 3 Sekawan itu berkumpul dirumah Nara. Nara yang sibuk membolak-balik selebaran, menggelengkan kepala.
 "Nggak tau..." jawab Nara. Juwita menarik napas, kesal. "Lo mau ikut apa Ra?? Gue ikut basket, Ghina udah positif ikut Science Club. Lo gimana??" tanya Juwita. Nara menggelengkan kepala, bingung.
                "ikut fotografi aja gimana? Lo kan hobi banget tuh foto-foto nggak jelas.." usul Ghina. Nara tersenyum senang. "boleh boleh! Wahh.. Thanks ya buat bantuan kalian!!" seru Nara, girang.
                "hahaha. sama-sama Nara.." sahut Ghina. Sementara Juwita sibuk mengemil pop corn yang ada di atas meja. Nara kemudian mengambil kamera SLR dari lemari dan sangat semangat untuk besok... Mendaftar menjadi anggota klub fotografi
***
 Nara mencari pintu klub fotografi. Begitu menemukannya, Nara langsung membuka pintu dengan semangat.  "Halo" sapa seorang cewek. Nara tersenyum ramah.
                "Hai, kalo mau daftar jadi anggota gimana caranya ya?" tanya Nara. "Oh, mau daftar? Gampang.. Nih, kamu isi aja formulirnya, besok dibalikkin" ucap cewek itu. Nara mengangguk semangat. "Oh iya, kenalkan, aku Livi anak XI IPA 2. Kamu?"  tanya Livi. Nara tersenyum, "Nara, kelas X-4" jawab Nara, senang. "OK Nara, besok kamu bawa lagi formulirnya ya.." ucap Livi. Nara mengangguk dan berbalik.
 Baru 2 langkah mendekati pintu, pintu itu sudah terbuka dan ada seseorang yang melangkah masuk. Jantung Nara terasa berhenti berdetak. Senyum dan semangatnya pudar, terganti dengan rasa gugup yang membara. Kenapa sih harus ketemu cowok ini lagi??!!
 "Hai, Ga. Dari mana?" tanya Livi. Yoga menatap Nara sambil menjawab, "Dari lab fisika bentar, nemenin si Fatih ngerjain PR" Nara menundukkan kepala dengan salah tingkah. Perlahan, senyum tipis menghiasi wajah Yoga. Tidak tahan dengan suasana aneh ini, Nara buru-buru menabrak Yoga dan melangkah keluar.
                Yoga menatap Livi. "Tadi siapa?" Livi tersenyum. "Calon anggota baru, Ga. Kenapa?" Yoga menggeleng, "Nggak papa, penasaran aja" Dan seulas senyum nakal, menghampiri wajah tampan itu...
***
"So why do you think recount text is needed?" tanya mrs. Rebecca, guru Bahasa Inggris. Ghina langsung angkat tangan, "Because recount told us about our experience in the past" jawab Ghina. mrs. Rebecca tersenyum. "Yep, good answer!" pujinya. "So before you leave my class, don't forget homework, page 9 until 11" dan semua murid pun keluar, untuk mengikuti pelajaran PE.
 'JDEERR' suara petir yang cukup keras terdengar bersahutan. Para murid yang sudah bersiap untuk olahraga di lapangan out-door terpaksa kecewa. Dengan sangat terpaksa, mereka bergabung dengan kelas lain di lapangan in-door.
 Nara lemas. Sudah bagus tidak jadi olahraga, tapi malah tetap diadakan. Dan yang membuat Nara makin lemas, ternyata kelasnya harus gabung dengan kelas XI IPA 1. Nara mengeluh dalam hati, "kenapa harus kelas ini??!!"
"Ghin, gue tuh jodoh atau ada ikatan musuh bebuyutan sih sama dia?" bisik Nara pelan di sela pemanasan. Ghina melirik Nara. "Sama siapa Ra?" tanya Ghina. Nara menunjuk Yoga dengan lirikan matanya. "Hahahaha" Juwita tertawa pelan. "Lo jodoh banget tuh sama dia! Berantem, di cafetaria, klub fotografi, dan sekarang disini! Baru 2 hari kita sekolah, udah nemu gebetan aja lo!" lanjut Juwita. Ghina cuma bisa menggelengkan kepala, sementara wajah Nara mulai memerah.
 Pelajaran PE dimulai dengan basket. Buat Juwita dan Ghina, itu bukan hal yang sulit. Tapi buat Nara, dia lebih memilih sakit 3 hari daripada main basket.
 "For this time, let's play it with the seniors!" seru mr. Danu membuat anak-anak perempuan berteriak senang.
 Seruan "Yeay! Fatih!" atau "Yogaaaa!!" menggema di dalam lapangan. Hanya 3 Sekawan itu yang tampak kalem. "Apa sih bagusnya Yoga?!" tanya Nara, sebal.
 "Gue nggak hobi goyang-goyang dan nabrak kayak lo!" bisik seorang cowok, tepat di telinga Nara. Nara berbalik. Yoga sudah berdiri di belakangnya, ditemani dengan sohib setianya, Fatih dan Sabrina.
 "Ghina, kita main basket bareng yuk!" ajak Fatih. Ghina mengangguk dan pergi. Juwita langsung mengajak Sabrina. Tinggal Yoga dan Nara.
 "Yoga, wanna play with us?" ajak seorang cewek cantik, blasteran. Yoga menatap cewek itu dengan tatapan dingin.
 "nahhhh~ I'm booked to play with her" Yoga menarik tangan Nara dan membawanya ke tengah lapangan. Cewek blasteran itu, yang bernama Karren memandang Nara dengan pandangan ddendam bercampur iri.
 Nara menghela nafas, kesal. Yoga sibuk men-dribble bola itu. mr. Danu menghampiri mereka berdua sambil menggelengkan kepala.
 "Come on people! play the ball!" perintahnya. Yoga mengangguk, kemudian menatap Nara.
 "Bisa main basket nggak?" tanya Yoga. Nara menggeleng. "Nggak punya bakat sama sekali dalam basket!" jawab Nara, lirih. Yoga menatap Nara tepat di manik mata.
 "Lo jago dalam hal apa dong?" pancing Yoga. Nara tersenyum semangat. "Fotografi!" seru Nara senang. Yoga ikut tersenyum. "Ya udah, anggap aja bola ini momen yang harus lo tangkap!" Yoga mendekati Nara, kemudian memegang tangan Nara.
 "Anggap tangan lo ini adalah kamera dan bola yang bakal gue pass ke lo adalah momen yang bagus banget!" ucap Yoga. Nara mengangguk. Dia pun mulai membayangkan dan tersenyum.
 "OK! Bisa, bisa!" seru Nara, girang. Yoga tersenyum. Dia mulai mem-pass bola oranye itu dan ditangkap Nara dengan baik.
 "Ah! Gue bisa!! Ghina, Juwita, gue bisa nangkep bola!!" teriak Nara, membuat anak-anak kelasnya dan kakak-kakak kelas tertawa terbahak, serta membuat senyuman di wajah mr. Danu dan...... Yoga.
***
 Hujan belum mau berhenti. Nara mengeluh pelan. "Mau bareng nggak?" tawar Ghina, khawatir. Nara menggeleng. "Papa mau jemput. Katanya dia dateng abis jemput Tara" sahut Nara. Ghina mengangguk. "Well then. Kita duluan ya Ra.." ucap Sabrina.
 Nara melirik jam tangan sport miliknya. "Papa kemana sih?!" gerutunya. Kemudian, ring tone HP Nara bunyi. Nara segera mengangkatnya.
"Papa dimana?!"
 "Papa stuck, sayang"
 "Stuck?! Terus Tara gimana??"
 "Papa stuck dijalan mau jemput Tara. Air sungainya ngeluap.." Nara menggerutu.
 "Pa, Tara nggak bawa HP! Aduhhh.. Kasihan banget dia!!"
 "Jangan marah dong Ra.."
 "Nara nggak marah Papa. Ya udah deh, Nara cari taksi aja!" dan sambungan pun terputus.
 Nara mengeluh. Haruskah dia menembus hujan?? Saat sibuk mengambil ancang-ancang, sebuah suara memanggilnya.  "Lo mau ngapain?" Nara berhenti. Cowok ini lagi! "Mau nembus hujan dan cari taksi!" seru Nara. "Lo nggak dijemput?" tanya Yoga. "Papa kena macet" jawab Nara. "Dan gue masih harus jemput adik gue" lanjut Nara. Yoga diam. "Kita nggak ada masalah kan? Gue buru-buru banget soalnya!" tanya Nara. Yoga akhirnya bergerak.  "Bareng aja." ucap Yoga, singkat. Nara mengerutkan dahi. "Ayo, kita bareng aja" Yoga menarik tangan Nara, dan menuntun Nara ke mobil Jazz silver miliknya.
 Nara menatap mobil Yoga. Wangi mobil itu sangat maskulin. Mobil itu sangat rapi dan bersih. Yoga menatap Nara. "Mau pasang musik nggak?" tanya Yoga. Nara mengangguk. "Tolong ambilin disc di dashboard dong. Pilih aja yang mau lo denger" Nara menatap Yoga. "Apa aja?" Yoga mengangguk. "OK kalo gitu." Nara membuka dashboard dan memilih disc. Nara memilih lagu Bruno Mars. "Ini gimana?" tanya Nara. Yoga tersenyum. "You know what I like" jawaban Yoga menimbulkan semburat merah di pipi Nara.
***
 "Taraaaa!" seru Nara. Tara menatap Nara. "Papa mana?! Aku lapar banget! Untung aja aku bawa novel Harry Potter!" seru Tara. Nara spontan memeluk adiknya. "Kamu nggak papa kan Ta? Nggak ada yang ganggu?" Tara tertawa. "Siapa yang mau ganggu aku coba? Ketua klub karate gitu.. Kamu parno banget sih?" Tara melepas pelukan dari Nara. Nara pun mengacak-acak rambut Tara.
 "ehemm~ Jadi itu siapa?" lirik Tara dengan tatapan menggoda. Wajah Nara memerah, kemudian menatap Yoga, dengan gugup. "Yoga, ini Tara. Tara, ini Yoga.."
 Yoga memandang Tara. "Hai" sapa Yoga. Tara cuma mengangguk. "Kita nggak pulang?" tanya Tara. Nara mengangguk, kemudian menatap Yoga. "Gue mau pulang.. Makasih ya buat tebengannya.." ucap Nara. Yoga menggeleng. "Lo pulang bareng gue aja." sahut Yoga. "Nggak usah, nggak masalah" tolak Nara. "Lo nggak denger tadi adek lo bilang apa? Dia udah lapar, mau cepat pulang. Pokoknya, lo pulang bareng gue." tegas Yoga. "uuh! Cowok egois!" gerutu Nara. "biar, daripada lo? Frauen dumm und leichtsinnig!" balas Yoga. Tara tertawa keras. "Kak Yoga jahatt~" goda Tara. Yoga menatap Tara, "bisa bahasa Jerman?" tanya Yoga. Tara mengangguk. Nara memandang Yoga dan Nara, bergantian.
 Wah, cowok menyebalkan dan adeknya berteman? Pertanda bahaya ini!! Siaga 1, Siaga 1!!
***
 Yoga menatap ruang tamu Nara yang sangat simple dan sangat menggambarkan keramahan keluarga itu. Yoga memandang foto-foto keluarga Nara, foto-foto Nara dan Tara dari kecil sampai sekarang, dan piala-piala Nara dan Tara. Perlahan, dia tersenyum.
"nak Yoga, ayo makan dulu.." ajak Mama Nara. "Nggak usah tante. Nggak papa" jawab Yoga. Mama Nara memandang Nara yang bersender pada dinding dengan penuh arti. Nara terpaksa bergerak dan melangkah mendekati Yoga.
 "Mama gue mau lo makan. Lo nurutin aja deh permintaan Mama gue.." bisik Nara. Yoga tersenyum. "Lo sebenernya nggak mau kan?" tanya Yoga. "Nggak! Cuma, karena lo udah nebengin gue, ya udah..... Apa boleh buat? Ayo, makan gih!" jawab Nara. Yoga tersenyum, kemudian mengikuti Nara ke meja makan.
 Di meja makan, tersedia berbagai makanan. Ayam semur, cah kangkung, dan rolade ikan. Yoga duduk di meja makan, berhadap-hadapan dengan Nara.
 Sambil makan, Mama Nara memandang Yoga dan Nara. Mama Nara tersenyum. "Jadi, nak Yoga ini pacarnya Nara bukan?" Nara hampir menyemburkan makanannya dan Yoga terbatuk saat minum.
 "Bukan Ma! Nggak mungkin lah aku jadian sama cowok egois kayak dia.." jawab Nara, jujur. "Saya juga nggak mungkin lah jadian sama cewek ceroboh kayak dia.." balas Yoga.
 Mama Nara dan Tara saling berpandangan dan tersenyum menggoda. "Mama kayak nggak tahu Rara aja. Rara kan gituu. Malu-malu tapi mauu" goda Tara. "TARA!" seru Nara, malu. Adeknya ini emang nggak bisa mengerti situasi dan kondisi! Seenaknya aja! Yoga menatap wajah merah Nara, dan perlahan tersenyum.
 "Bilang sama nyokap lo, makasih banyak ya. Gue kenyang banget. Jarang-jarang gue makan enak gini.." ucap Yoga. Nara cuma bisa mengangguk.
 "Emang dirumah lo nggak pernah makan rumahan gini?" tanya Nara. Yoga menggeleng. "Nggak selalu. Tapi jarang banget bisa makan itu.." jawab Yoga. Nara mengangguk. "eh, makasih buat tumpangannya tadi" kata Nara, sedikit canggung dengan suasana ini. "iya, sama-sama. Gue pulang dulu ya..." baru membuka pintu mobil, Yoga menatap Nara lagi. "Besok anak klub fotografi kumpul. Jangan lupa, habis pulang sekolah" ucap Yoga. Nara mengangguk. "Sip. Tenang aja!"
 Yoga melangkah masuk ke mobil, dan membawanya pergi. Dalam mobil, Yoga mengacak-acak rambutnya. Kenapa bayangan Nara mendadak memenuhi kepalanya?? Kenapa dia merasa tidak akan melupakan wangi bunga Nara?? Dia tidak boleh merasakan jatuh cinta! Dia sedang mati rasa dengan semua jenis perempuan!!! Namun, apakah dia benar-benar sedang mati rasa???



















Bukan Mati Rasa
Nara mengejarkan PR dengan penuh konsentrasi. Matanya melirik soal-soal yang tersedia di buku cetak, sementara tangannya sibuk mencorat-coret rumus. Mama Nara memperhatikan putri sulungnya dengan penuh kasih sayang. Dia ingat betapa besar perjuangan Nara untuk dapat masuk ke SMA bergengsi seperti SMU Nusa Bangsa. Mama Nara memilih untuk mendekati putrinya yang sedang dalam masa pubertas.
“Rara, lagi apa??” Nara menoleh. Mamanya sedang tersenyum penuh kasih sayang kepada  Nara. “Ngerjain PR Fisika Ma. Walaupun Rara nggak suka pelajarannya, tapi kan paling nggak jangan sampai keliatan banget nggak sukanya” jawab Nara.
“Mama tadi perhatikan kamu gugup sekali dengan cowok itu.. Dia siapa sih?? Rara mau cerita sama Mama??” Wajah Nara memerah lagi. Kenapa sih belakangan ini wajahnya sering memerah??!! “Dia senior Rara Ma. Dia orang pertama yang Rara liat di sekolah. Jujur aja, Nara sempat suka liat dia.. Secara gitu kan, dia cakep banget dan karismanya terasa banget.. Tapi karena dibentak sama dia, Rara jadi sebal sama dia. Kalo ketemu, kita pasti bertengkar terus. Tapi Ma, Rara ngerasa yang anehh.. Rara suka pas bertengkar sama dia! Rara kenapa ya Ma????” inilah pemandangan yang paling disukai Mama Nara. Keluguan putrinya sering kali membuatnya gemas.
“Rara suka kali sama dia??” goda Mama Nara. Nara spontan tertawa. “Apa Ma??! Rara suka sama cowok galak itu?? Wahh, Mama salah banget deh!!” bantah Nara. “lahh, Mama kan Cuma berpendapat...” Mamanya tersenyum menggoda. “MAMA!!!” seru Nara, dengan wajah yang merah seperti tomat matang.
***
Kelas X-4 sedang sibuk observasi diluar kelas. Memandangi tanaman-tanaman disekitar sambil mencatat tentang keadaan tanaman itu. 3 Sekawan itu sibuk memandangi bunga mawar yang tumbuh subur di taman sekolah dan sering kali disalahgunakan menjadi bunga untuk menyatakan cinta. “Ra, petik satu deh bunga mawarnya” pinta Juwita. Nara yang sedang sibuk menggambar rupa bunga mawar itu mengerutkan dahi. “Buat apa??” tanya Nara. Juwita dan Ghina kompak memutar bola mata mereka. Inilah momen yang paling mereka tidak suka dari Nara. Lemah otaknya!
“buat diteliti, Nara Ragil Aditya!!! Astaga, gue ragu. Sebenernya lo masuk sini beneran atau nyogok sih?!” tanya Juwita, kesal. Ghina tertawa. “Udah jangan gara-gara ini kita berantem. Udah Ra. Petik aja satu..” pinta Ghina. Nara mengangguk dan berusaha memetik satu mawar yang jarang duri. Namun... “aw!” seru Nara. Goresan di jari telunjuknya mengeluarkan darah segar. “Ra, lo nggak papa??” tanya Ghina, cemas. Nara menggeleng. “Lo ke UKS aja sana! Ntar infeksi lho!!” seru Ghina. “Bener??” tanya Nara. “Iyaaa.. Sana minta izin sama ms. Devi!” seru Juwita. Nara mengangguk dan buru-buru minta izin ke ms. Devi.
Nara memandang UKS dengan penuh kagum. Memang SMU bergengsi! UKS aja luas banget!! Nara melangkah ke kotak P3K, saat dia melewati tempat-tempat tidur dan melihat Fatih tertidur. Nara melupakan luka telunjuknya dan menghampiri Fatih yang tertidur. Baru mau memandangi wajah tampan Fatih, lagi-lagi suara itu mengejutkannya.
“Fatih udah suka sama Ghina. Lo nggak akan bisa ngerubah itu!” ucap suara itu, pelan. Nara berbalik dan menatap cowok itu untuk kesekian kalinya. Apakah ini takdir atau kebetulan?? Nara melewati Yoga dan mengambil plester untuk menutupi lukanya. “Lo kenapa??” tanya  Yoga. “Luka nggak sengaja kena duri bunga mawar..” jawab Nara. Yoga mengangguk, kemudia melirik Nara. Niat isengnya mulai tumbuh lagi.
“Kita kayaknya ketemu terus yaa? Jangan-jangan kita jodoh lagii” goda Yoga. Nara mendelik. “Jodoh apaan?? Ogah banget punya jodoh galak dan menyebalkan kayak lo! Udah gitu kayak hantu tahu nggak?? Muncul tiba-tiba.. Hobinya bisik-bisik kayak nggak bisa ngomong kenceng aja!” ucap Nara, sebal. Kenapa sih cowok ini jago membuatnya marah?! Seruan Nara  membuat Fatih terbangun. Namun melihat Nara dan Yoga sedang sibuk berdebat, Fatih memilih untuk pura-pura tidur, namun dalam hati menikmati perdebatan mereka.
Nara melangkah keluar UKS. “Jangan lupa ngumpul!” seru Yoga. Nara memandang Yoga sekilas kemudian memeletkan lidahnya. Yoga tidak bisa menahan tawa. Tingkah Nara persis seperti anak berumur 5 tahun. Yoga melangkah mendekati tempat tidur Fatih dengan penuh senyuman. “Udah nggak mati rasa bos??” tanya Fatih, sambil tetap tutup mata. Yoga terkejut. Fatih membuka mata dan kemudian terkekeh pelan. “Lo cocok banget sih sama junior satu itu. Lo nggak pernah tuh sebahagia pas sama gue, Sabrina, atau Isna...” Yoga menatap Fatih, tajam. “Nggak usah sebut-sebut nama Isna lagi!” tegur Yoga, galak. Fatih meringis. “Sorry bro. Maaf banget” ucap Fatih. Yoga mengangguk kaku. “Jadi, kapan gue bisa nimpuk kepala lo yang bebal itu?” Yoga menatap Fatih, bingung.”Jujur aja deh.. Lo suka kan sama Nara?" lanjutnya. Yoga diam, namun wajahnya mulai memerah. Persis seperti yang seing terjadi pada Nara. “Ya elah.. Kita udah temenan lama, bos. Nggak usah ngomong juga gue pasti tahu. Sabrina aja kemaren sampai ngajakin gue taruhan, apa lo suka atau nggak sama Nara. Bayangkan betapa mudahnya ekspresi lo itu bisa terbaca.. Bego banget yang bilang kalo lo itu dingin dan nggak punya belas kasihan dan perasaan..” jelas Fatih, dengan nada menggoda.
“Gue mati rasa, bro.. You know it very well!” bantah Yoga. Fatih menggeleng. “Kepala gue baru kena timpuk bola aja bisa tahu kalo lo suka sama Nara! Gimana kalo pas gue dalam keadaan sehat dan hyperactive??” goda Fatih. Yoga menggelengkan kepala. “Gue mati rasa. Titik.” Fatih tertawa terbahak. Karren baru mau masuk untuk mengunjungi Fatih. Mendengar percakapan Fatih dan Yoga membuatnya marah dan yakin bahwa dia harus melabrak Nara.
***
Diajak Karren, dengan alasan dipanggil Yoga menimbulkan kecurigaan kepada Juwita dan Ghina. Buru-buru mereka berdua mencari Sabrina, yang ternyata juga sedang sibuk mencari 5 anggota cheerleader yang belum datang. Mereka makin khawatir karena nama Karren masuk dalam anggota cheers yang hilang. “Ayo kita cari Yoga dan Fatih. Mana tahu mereka liat..” ajak Sabrina, berusaha postif.
Nara memandang telur-telur yang dipegang oleh geng Karren. “Lo harus diberi pelajaran! Jangan karena Yoga baik sama lo, lo jadi ngerasa penting!!” seru Karen. “Dekat gimana??!! Gue kan berantem mulu sama dia!!” bantah Nara. Karren mengibas-ngibaskan tangannya. “Never lie to me!!” seru Karren, marah. “girls, silakan acara utamanya kita mulai..” ucap Karren. “NO! NO! NO! NO! NO! NO! NO!!!!” seru Nara. Namun terlambat. Telur-telur itu sudah melayang mengenai seragam, rambut, tangan, sepatu, dan semua bagian tubuh Nara tanpa terkecuali. Nara meringis. Telur itu keras. Terasa seperti batu-batu kerikil yang memukul badannya. Baunya amis. TUHAN, dia harus gimana untuk pulang??? “STOP!!!” seru sebuah suara. Karren dan gengnya menoleh. Yoga tampak terengah-engah. “Ngapain kalian semua??!!!” tanya Yoga dengan nada tinggi. Karren dan gengnya terdiam. Yoga mendekati Nara, yang sudah jatuh terduduk. Kemudian memberikan jaketnya kepada Nara. Nara menatap Yoga. Tatapan Nara membuat hati Yoga teriris. Begitu rapuh dan ketakutan. Air mata Nara menunjukkan bahwa dia menderita. “Ayo, gue antar lo pulang..” Yoga memapah Nara dan memberikan kode kepada Sabrina dan Fatih. “Girls, kalian resmi bukan anggota cheers lagi!!” putus Sabrina. Sementara Fatih menunjukkan iPhone miliknya. “don’t be so scared girls. You’ll be very popular tomorrow in school’s web” Sabrina dan Fatih pun toast kemudian meninggalkan Karren dan gengnya. “Makasih Kakak..” ucap Ghina, sambil tersenyum. “Sama-sama..”  sahut Sabrina. Fatih yang melihat senyuman Ghina pun semakin meleleh.
“Mobil lo bau gue..” gumam Nara, pelan. Yoga memandang Nara. “Nggak papa.. Tenang aja..” sahut Yoga. “Kita mau kemana??” tanya Nara. “Ke rumah gue. Lo mandi dan bersih-bersih sampe lo wangi dirumah gue. Nyokap lo pasti bakal dendam kesumat kalo tahu anaknya kena timpuk telur karena gue..” jawab Yoga. Nara sudah terlalu lemas. Dia tidak bisa membantah lagi. Dia pun setengah sadar saat Yoga memapahnya ke dalam rumah Yoga. “Ra, lo mandi dulu yaa??” Nara cuma bisa mengangguk dan melangkah pelan ke kamar mandi dan memulai aktivitas mandi dan membersihkan bau amis telur dari tubuhnya.
1 setengah jam berlalu. Yoga sedang menonton kartun tentang 2 anak laki-laki yang menghabiskan liburan musim panasnya dengan menciptakan hal-hal aneh, sementara kakak perempuan mereka sibuk berusaha membuat mereka tertangkap basah oleh ibu mereka. Nara keluar dari kamar Yoga, dengan mengenakan T-Shirt yang kepanjangan di badan Nara dengan celana training.”Ga, lo nggak punya baju yang lebih panjang nggak? Kaos lo yang ini Cuma sepanjang paha gue.. Yang semata kaki nggak punya??” tanya Nara, polos. Yoga menatap Nara. Dia tidak bisa menahan senyum. “hahahahaha. Mau kaos yang segitu??” goda Yoga. “Mau banget! Taruhan deh sama gue! Ini pasti dress cewek yang lo paksa buat jadi kaos di badan lo!” ejek Nara. Yoga tertawa terbahak. Dia tidak menyangka akan menikmati obrolan dengan Nara ini. “Makan yuk Ra..” ajak Yoga. Nara tampak ragu. “Kenapa Ra??” tanya Yoga, ramah. “Lo tiba-tiba baik gini sama gue.. Lo ngaku mau ngapain gue??!” tuduh Nara. “Gue emang baik Ra! Lo aja yang nyebelin..” balas Yoga. Nara memasang wajah sebal. “Gue pulang aja deh mending sekarang!” Yoga tertawa. “Bercanda Ra. Bercanda..” Yoga menarik tangan Nara menuju meja makan. Nara teringat kata-kata Fatih. Yaa, tampaknya Yoga memang sebaik apa yang dikatakan Fatih. “hahaha. Ayo makan dulu” ajak Yoga. Nara mengangguk.
***
Di meja makan sudah tersedia banyak pilihan makanan. Perut Nara makin keroncongan.  “Gue tadi suruh pembantu buat masak.. Lo kan suka makanan kayak gini.. Yuk, kita makan..” ajak Yoga. Nara dan Yoga pun makan dalam diam. Tidak ada suara. Nara yang biasanya rebutan lauk dengan Tara, hanya bisa diam. Mau tambah, tapi gengsi. Yoga melirik Nara lalu tersenyum.
 "Lo mau? Ambil aja lagi.. Rumah sepi kok. Daripada dibuang, mending lo makan.." ucap Yoga. Nara menatap Yoga sambil meringis malu. Dilihatnya sepiring perkedel dibiarkan begitu saja.
 "Lo nggak makan perkedel?" tanya Nara. Yoga menggeleng. "Nggak suka. Nggak enak.." jawab Yoga. Nara menatap Yoga. "Enak tahu!" Nara mengambil satu perkedel dan menatap Yoga.
 "aaaa..." ucap Nara. Yoga tampak kesal. "Apa sih?!" tolak Yoga. Nara tetap memaksa Yoga membuka mulutnya. Terpaksa, Yoga menurut. Perlahan, dia mengunyah perkedel itu.
 "Enak kan? Kalo lo nggak makan perkedel, lo nggak boleh masuk ke rumah gue tahu nggak??! Orang rumah tuh doyan banget sama perkedel. Gue aja sering rebutan sama Tara.." jelas Nara, semangat. Yoga tertawa. Betapa polosnya gadis ini. Nara merasa ada yang aneh dirumah itu. Terlalu suram dan sepi.
 "Orang tua lo kemana?" tanya Nara. Yoga tidak berekspresi. "Pada kerja semua. Mereka aja nggak tau kalo gue kenapa-kenapa. Rumah udah kayak kuburan aja.." jawab Yoga, ketus.
 "Tapi rumah lo besar banget! 2 kali rumah gue mungkin ada kali yaa??" puji Nara, benar-benar kagum.
 Nara berdiri dan menyusun piring-piring kotor di bak cucian. Setelah itu, Yoga mengajak Nara berkeliling. Mata Nara berhenti pada sebuah foto yang dibingkai dengan pigura berbentuk hati.
 "Ini siapa, Ga??" tanya Nara. Yoga memandang foto itu dan mengambilnya, kemudian mengambil foto itu dan melemparnya ke tempat sampah.
 "Ga?" panggil Nara.
 "Ayo, gue antar lo pulang..." putus Yoga.
***
 Pulang mengantar Nara, Yoga mengambil foto itu dari tempat sampah. Wajah gadis yang memiliki senyum manis. Gadis yang pernah membuat dia bahagia. Yoga menghela nafas, kesal. Gadis itu cuma masa lalu. Gadis yang bernama Isna Firstiana itu MEMANG masa lalu. Dia sedang mati rasa dengan yang namanya perempuan.
 Namun, ada perasaan yang aneh pada Nara. Apa ini? Apa perasaan ini namanya bukan mati rasa???








Dunia Fantasi

Jumat malam. Rumah Ghina. Ghina akan diajak Fatih kencan di DUFAN. Ghina, yang memang juga memiliki perasaan untuk Fatih, mengangguk setuju.
 Dan karena itu, Ghina sibuk sekali. Ghina mengacak-acak lemari bajunya. Beda dengan kakaknya yang fashionable, Ghina lembih simple dan cuek. Tiba-tiba diajak nge-date begini, berhasil membuat Ghina amburadul.
 "Ini gimana?" tanya Ghina. Dia mengenakan hot pants dengan T-Shirt. Nara, Juwita, dan Sabrina kompak menggeleng. "Nggak!" seru mereka.
 Ghina merengut kemudian memilih lagi. Kemudian melangkah keluar dengan memakai kemeja dengan bahan lace dan rok mini. Ditambah dengan ripped stocking dan heels. "Ini gimana?" tanya Ghina. Mereka kembali menggeleng.
 "You're going to have fun! Not being this awkward!" seru Sabrina. Ghina duduk dan menatap kakak dan sahabat-sahabatnya.
 "Aku kan bukan Kakak. Aku bukan cewek feminin kayak Kakak. Kakak sih enak. Cantik, fashionable, ratu cheers lagi!" ucap Ghina, lirih. Juwita  mengangguk. "hhmm, gimana kalo Kakak bantuin dia aja pilih baju?? Katanya calon fashion designer.." tantang Juwita. Sabrina tersenyum, lalu mengangguk menerima tantangan Juwita.
 "Do you want to be feminime or casual, ms. Lellan?" tanya Sabrina. Ghina tertawa. "I want to be me, please.." jawab Ghina. Sabrina mengangguk dan kemudian tersenyum. "OK, then.." sahut Sabrina.
***
 Sabtu pagi. Fatih dan Yoga sudah menunggu di ruang tamu. Fatih tampak gugup sementara Yoga sibuk memainkan HP-nya.
 "Ga, gue gugup nih. Gue masih cakep kan?" tanya Fatih. Yoga mengangguk, tanpa memandang Fatih. Fatih sebal.  “YOGA!” seru Fatih. Yoga menatap Fatih. “Apa?!” tanya Yoga. “Lo nyebelin tahu nggak? Kayak orang autis! Apa sih untungnya main HP mulu? Mending lo berusaha meyakinkan diri buat nembak Nara!” ejek Fatih. Yoga langsung melempar bantal ke badan Fatih.
 “hahaha. Salting kan lo! Udah sana, makanya tembak dia.. Payah, payah..” Fatih semakin semangat menghina Yoga. Yoga melempar bantal lagi. Fatih dan Yoga tertawa.
 When do you guys stop being childish?” tanya Sabrina. Yoga dan Fatih meringis. Sabrina memang udah seperti ibu untuk mereka berdua. “Ghina mana?” tanya Fatih. “Ada.. Tenang aja, gue nggak bakal ngumpetin adek gue dari lo..” goda Sabrina, yang tampak makin fashionable dengan T-Shirt lengan panjang puth garis kuning, hot pants dan ankle boots..
 Dan keluarlah 3 Sekawan itu Juwita tampak cuek mengenakan T-Shirt putih polos dengan sweater hitam garis putih, dan pipe-jeans dengan oxford shoes warna cokelat muda.  Fatih melongo saat melihat gadis yang ditaksirnya keluar dari kamar. Ghina tampak sangat manis dengan floral dress selutut bewarna pink dan cardigan putih, dengan flat shoes warna pink. Dan Yoga pun ikutan dibuat kagum dengan pakaian Nara yang —menurutnya—sangat manis. Nara memakai T-Shirt warna pink dengan pipe jeans bewarna biru, dia memakai sepatu kets bewarna biru tua.
 Let’s go!” seru Fatih, dengan semangat membara a la orang yang sedang jatuh cinta.
***
                Mereka naik mobil terpisah. Fatih dengan Ghina, di sedan bewarna merah. Juwita dan Sabrina, di SUV bewarna hitam. Dan Nara bersama Yoga di mobil Jazz miliknya.
 Nara cuma bisa merengut sambil memandang jendela di mobil. Yoga melirik Nara. "Lo kenapa?" tanya Yoga. " nggak papa. Cuma merhatiin langit. Gelap. Kayaknya mau hujan. Nggak bagus.." jawab Nara. "Lo nggak suka hujan?" Nara menggeleng. "Nggak.. Hujan tuh nggak sehat. Bikin sakit. Bikin banjir dimana-mana. Enakkan juga panas. Matahari tuh bikin semangat, walaupun panas!" seru Nara.
 Yoga menatap Nara. "Gue lebih suka hujan. Hujan tuh bikin hati jadi teduh. Bikin gue galau" ucap Yoga. Nara tertawa. "Galau kok suka sih?! Galau itu adalah hal yang paling menyebalkan yang pernah gue alami!" balas Nara. Yoga kini menatap Nara.
 "Emang lo pernah galau?" tanya Yoga, penasaran. Nara mendelik sebal pada Yoga.
 "Menghina! Emang gue robot, nggak punya perasaan?! Pernah lah galau! Pas hujan lagi. Bikin gue makin sebel aja sama musim hujan!" jawab Nara.
 Yoga menatap Nara. Secara fisik, Nara memang tidak bisa dikategorikan cantik. Biasa saja malah. Namun wajahnya yang lengkap dengan 2 lesung pipi, membuat Nara tampak manis dan menggemaskan.
 "Emang lo diapain sama hujan??" Yoga masih penasaran. Nara tertawa. "bukan sama hujan! Sama seorang cowok jahat!! Gue dulu suka banget sama cowok itu. Pas kita jadian, dia minta jangan sampai ada yang tahu dengan status kita. Ya udah, karena gue cinta mati sama dia... Gue turutin. Kita pacaran ngumpet-ngumpet, biar orang nggak tahu. Tapi, suatu hari dia bertindak menyebalkan! Pas lagi hujan deras dan gue ngharep dia ngajak gue pulang bareng, dia malah nawarin cewek lain! Gue ditinggal sama dia, padahal dia liat gue!! Sumpah.. Habis itu gue nangis dirumah!! Gue hapus sms-sms dia dan gue robek semua foto dia!" cerita Nara, berapi-api.
 "Terus??"
 "Besoknya, dia gue kerjain. Biarin kena karma.. Gue traktir dia makan mie ayam tapi gue taruh 10 sendok sambel. Setelah itu, dia nggak masuk seminggu karena diare!" cerita Nara, semangat.

 Yoga tertawa. "Jadi cuma karena itu lo benci sama hujan?" Nara menggeleng. "Benci sih nggak... Cuma ill-feel aja.. Tahu nggak? Kalo pas hujan, Ghina sama Juwita harus tahan emosi sama gue. Karena biasanya pas hujan, mood gue tuh bagus banget buat diajak berantem..." jelas Nara. Yoga tertawa.
 Betapa manisnya gadis ini! Yoga rasanya ingin memeluk Nara kuat-kuat sampai dia lelah. Namun Yoga tahu, dia harus mampu menahannya
***
Gerimis-gerimis kecil tidak terlalu mengganggu kegiatan yang mereka lakukan. Namun, untuk mencegah sakit mereka memilih makan siang lebih dulu. Sesuai dugaan, Nara merengut. Dia benci segala bentuk hujan! Gerimis lah. Hujan panas lah. Apalagi hujan deras.
 Juwita dan Ghina sudah mengingatkan yang lain agar tidak mengganggu Nara. Tapi, Yoga tidak peduli. Dia pun memulai perbedatan.
 "Muka lo nggak usah begitu! Nggak banget!" Nara menatap Yoga.
 "Diem deh! Berisik!" balas Nara, ketus.
 "Ini bukan hujan tahu! Ini namanya gerimis! Bedain dong antara gerimis dan hujan!" ucap Yoga.
 "Gerimis itu kan awal dari hujan!" sahut Nara.
 "Beda! Gerimis itu rintik-rintik! Hujan itu kayak tumpahan air!"
 "Bodo! Pokoknya dimata gue, hujan dan gerimis itu sama!"
 "Kok bisa ada sih cewek bodoh kayak lo?!"
 "Biar! Daripada lo, egois! Nggak mau ngalah!"
 Fatih dan Ghina memilih untuk menahan senyum mereka. Sementara Juwita dan Sabrina sudah tertawa keras, membuat Yoga dan Nara memandang mereka.
 "Apa yang lucu?!" tanya mereka kompak.
 "You guys.." jawab Sabrina.
 "Kalian kayak Tom and Jerry, tahu nggak? Berantem terus! Nggak pernah sekali damai..." tambah Juwita.
 "Tapi, dalam hati yang paling dalam, mereka saling peduli dan menyayangi.." goda Fatih, lalu toast dengan Sabrina dan Juwita.
 "Mending kalian jujur sama diri sendiri deh.. Kalian itu serasi banget" Ghina tersenyum. Nara dan Yoga saling berpandangan. Mereka memasang wajah tidak suka, namun dalam hati.. Mereka merasa jantung mereka berdebar kencang....
***
 Fatih dan Ghina duduk di bianglala. Ghina menatap pemandangan yang sangat indah itu, sementara Fatih tampak sangat gugup. Fatih menunggu hingga bianglala berhenti di puncak. Beberapa saat kemudian, bianglala sudah berhenti di puncak. Ghina tampak ketakutan sekaligus kagum.
 "Ghina.." panggil Fatih. Ghina menoleh, lalu tersenyum.
 "Ya?" tanya Ghina.
 "hhmm~ mungkin kamu udah tahu apa maksud aku ngajak kamu ke sini dan naik bianglala"
 "Sepertinya begitu..." Ghina masih tetap tersenyum. Bianglala sudah bergerak turun.
 "Lalu?? Apa respon kamu?" tanya Fatih.
 "Well, you knew it..." jawab Ghina, wajahnya mulai memerah. Fatih tertawa keras. Lalu spontan memeluk Ghina. "I guess I'm in love!!" seru Fatih. Ghina tertawa bahagia.
***
 Nara, Juwita, Sabrina, dan Yoga sudah menunggu di bawah. Begitu Fatih dan Ghina keluar, Nara dan Juwita langsung menyerbu Ghina.
 "Jadi?" tanya Juwita. Ghina cuma diam, namun wajahnya memerah. "AAAHH! Congrats!!" seru Nara dan Juwita, lalu mereka berpelukan.
 Sabrina dan Yoga menepuk pundak Fatih. "Selamat yaa" ucap Yoga. Fatih tersenyum.
 "Jadi, kapan lo bilang ke dia kalo lo suka sama dia??" tanya Fatih sambil melirik Nara dengan matanya. Yoga terdiam.
 "It's already obvious that you're into her, lil' fella.." tambah Sabrina. Yoga meringis malu. 
"Banget yaa??" tanya Yoga. Sabrina menatap sobat yang paling dia sayang itu. "Gue nggak mau liat lo mati rasa lama-lama. She's gone. Dia nggak layak lo galauin. Dia udah jadi masa lalu" Sabrina melirik Nara. "Dan lagi, Nara manis kok. Gue udah kenal dia lama. You guys are just a perfect mates.." lanjut Sabrina, sambil tersenyum. Yoga menatap Sabrina, lalu tersenyum lembut.
 "Makasih yaa.." Dan Yoga pun menghampiri Nara, kemudian mengajak gadis itu pulang.
***
 Nara sudah tertidur begitu masuk mobil. Perlahan, sambil memasangkan seat belt pada Nara, Yoga mendengar suara Nara mendengkur.
 "Dasar gadis bodoh dan ceroboh.." gumamnya pelan.
 Yoga memandang Nara, ragu-ragu. Pelan, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Nara. Kemudian mengecup bibir gadis itu lembut. Beberapa detik kemudian, Yoga mengangkat wajahnya dan menyentuh bibirnya, dengan senyuman...
***
 Tara masih bangun saat Yoga menggendong Nara, masuk ke kamar.
 "Belum tidur Ta?" tanya Yoga. Tara menggeleng. "Aku nggak bisa tidur kalo nggak ada Nara.. Hehehe" jawab Tara. Yoga memandang Mama Nara, lalu tersenyum. "Tante, saya permisi pulang yaa. Salam buat Oom.." ucap Yoga, lalu melangkah pergi.
 "Dia cakep yaa?" tanya Mama Nara, sebelum menyusul Yoga. "Dia super charming Mam! Sumpah!" jawab Tara, senang.
 Di dalam mobil, Yoga kembali mengacak rambutnya. Melepas kacamatanya dan mengusap-usap wajahnya kasar. Wajah Yoga perlahan memerah! Gadis yang bernama Nara itu, sukses membuat dunianya jungkir balik! Yoga merasa bahwa dia sedang kasmaran, dan dia sangat menikmati itu...



















Gadis Baru
Yoga seterkejut yang bisa dia pikirkan. Dia melepas kacamatamya kemudian memasangnya kembali. Baru beberapa hari yang lalu, dia meyakinkan dirinya kalau dia sedang kasmaran dengan Nara. Namun mengapa gadis ini harus kembali? Gadis itu berdiri kemudian menghampiri Yoga dan memeluknya.
 "I missed you a lott.." bisik gadis itu. Yoga diam. Tidak bisa berkata-kata kecuali, "You??" balas Yoga.
***
 Fatih memandang Yoga dengan prihatin, sambil makan di cafetaria.
  "Lo nggak papa?" tanya Fatih. "Menurut lo?? Pas gue udah yakin tentang perasaan gue sama cewek lain... Dia dateng lagi! Hebat! Dan Isna nggak cerita ke gue kalo dia udah balik dari London.." lanjut Yoga, kesal. Di kejauhan, tampak Nara, Juwita, dan Ghina sedang makan.
 "Gue masih sayang sama Isna... Tapi, gue kayaknya juga lagi suka sama Nara..." ucap Yoga, galau.
 "Come on, bro.. Who do you like better?" tanya Fatih, prihatin.
 "Dunno....." jawab Yoga, sambil memandang Nara yang sedang tertawa karena lelucon Juwita...
***
Nara cuma bisa melongo saat melihat ada seorang gadis cantik yang mengikuti kemana pun Yoga pergi. Kemana pun Yoga melangkah, gadis itu selalu ikut. Nara mulai sebal. Dia mendekati Livi, senior di klub fotografi.
 "Itu siapa sih?" tanya Nara, sambil melirik Isna. Livi mengangkat bahunya.
 "Nggak tahu juga deh. Tapi yang aku denger dari anak-anak lain, katanya dia itu cewek yang disayangi sama Yoga. Cuma, pas SMP, cewek itu dilabrak Karren, jadi dia pindah ke London" jawab Livi.
 "Namanya siapa?" tanya Nara, penasaran.
 "Isna Firstiana..." jawab gadis itu. Nara dan Livi mendongak.
 "Hai, aku Isna.." sapa Isna. Nara tampak gugup. Ada aura yang jelas sekali dalam gadis itu. "Hai, gue Nara" sapa Nara.
 Yoga memandang Nara dan Nara membalas pandangan itu sekilas lalu. Yoga menunduk. Berpura-pura membersihkan kamera SLR miliknya. Yoga resah. Sepertinya, Nara sedang marah padanya...
***
 Fatih tampak sangat sebal. Mau tidak mau, dia pindah duduk sebangku dengan Sabrina. Isna memilih duduk sebangku dengan Yoga. Fatih membanting buku cetak biologinya. Membuat semua anak memperhatikan dia.
 "Apa lo pada liat-liat?! Nggak suka??!" tanya Fatih, keras.
 "Fatih.." tegur Sabrina. Fatih memandang Sabrina.
 "Biarin.. Biar tuh bocah tahu gue lagi kesel sama dia.." sindir Fatih, tajam. Yoga memandang Isna. "Kamu pindah aja deh... Aku nggak enak sama Fatih." Isna memandang Fatih sekilas. "Biarin.. Aku kan kangen sama kamu..." ucap Isna, lalu merangkul tangan Yoga.
***
 Dan begitulah waktu berlalu. Nara semakin sebal, karena setiap  memandang Yoga, pasti ada Isna. Fatih dan Sabrina memilih untuk menghindari Yoga dan makan bareng sama 3 Sekawan itu.
 Ghina memandang Nara yang cuma mengaduk-aduk kuah sup ayamnya, sambil memandang sebal ke arah Isna yang sok mesra dengan Yoga.
 "Kenapa Ra?" tanya Ghina. "BT..." jawab Nara, singkat. "BT karena jealous yaa??" goda Fatih. Tingkat kesensitifan Nara tersinggung. Dia membanting sendok sup, lalu berdiri. "Diem deh! Jangan sok tahu!" seru Nara, hingga terdengar oleh Yoga. Nara melangkah pergi. Ghina menyenggol lengan Fatih.
 "Kamu sihh" gerutu Ghina. "Kan nggak hujan, jadi aku kira nggak masalah.." sahut Fatih, yang disambut dengan jitakan pelan dari Sabrina.
 Yoga tetap tersenyum saat bersama Isna, namun hatinya resah. Apakah Nara marah karena cemburu dengan Isna????











Tanpa Sebab
Pengumuman tentang diklat klub fotografi membuat Nara melongo. 2 hari! Yang benar saja! 2 hari ngeliatin Yoga dan Isna??! Bencana!!
 "Lo ikut kan?" Nara terlonjak kaget. Dia berbalik dan memandang Yoga sedang menatapnya tajam.
 "Kalo gue nggak mau gimana?" tanya Nara.
 "Wajib buat anggota klub.." jawab Yoga.
 "Kalo gue sakit gimana?"
 "Gue nggak bodoh kayak lo! Gue nggak akan percaya..." jawab Yoga. Nara melangkah pergi.
 "Nara Ragil Aditya!" panggil Yoga. Nara berhenti.
 "Apa?"
 "Lo harus ikut diklat! Kalo nggak ikut, lo nggak boleh ikut kegiatan ekskul fotografi.." ancam Yoga. Nara berbalik dan terus melangkah pergi.
***
 Nara berdiri di depan sekolah bersama Livi. "Nanti aku duduk bareng kakak yaa??" pinta Nara. Livi mengangguk. "Sipp. Tenang aja" jawab Livi.
 Di bus, Yoga duduk di bangku samping Nara. Nara duduk berdua dengan Livi, sementara Yoga bareng Isna. Yoga yang kangen berantem dengan Nara, memohon untuk Livi pindah. Nara menutup mata, saat Yoga duduk dan menatap Nara.
 "Ra, lo marah ya sama gue??" tanya Yoga.
 "Nggak.. Ngapain gue marah?" balas Nara.
 "Ra, bilang aja apa yang bikin lo BT sama gue.." ucap Yoga, melas.
 Nara malah diam. Dia mengambil novelnya dan mengambil posisi paling mantap untuk membaca.
 "Gue nggak marah sama lo.. Tenang aja.." jawab Nara, lirih. Yoga menatap Nara. Dia yakin, Nara pasti berbohong.
***
 Begitu tiba di villa, Nara memilih sekamar dengan teman-teman Livi. Nara membantu mereka mempersiapkan makan siang. Nara tertawa. Ternyata, kakak-kakak kelas itu sangat kompak dan lucu. Nara sempat memandang Yoga yang diikuti Isna. Perasaannya sedikit kesal. Namun dia memilih diam saja.
 Yoga memandang semua anggota klub. "Hari ini, kalian akan keliling daerah villa dan cari foto yang bagus! Yang menang, nanti malam nggak usah kerja sama sekali!" ucapan Yoga disambut riuh oleh anak-anak. "Kalian kerja sendiri.." tambah Yoga. Isna merengut. "Awas aja yang nggak kerja sendiri!" ancam Yoga. Isna menghampiri Yoga.
 "Aku kan nggak bisa, Ga.." ucap Isna.
 "Latihan.. Nggak selamanya kan kamu bersikap manja begini." sahut Yoga, lalu meninggalkan Isna.
***
 Nara memandang pegunungan dan mulai memfotonya. Burung-burung yang berterbangan di dekat awan, gunung yang tinggi, dan orang yang sedang berjalan di atas gunung. Dia men-zoom kemudian menjepretnya. Sempurna! Senyuman lembut menghampiri wajah Nara.
 "Ra.." sapa Yoga.
 "Apa lagi Ga?" tanya Nara, malas.
 "Kita perlu ngomong.. Gue nggak bisa gini terus. Lo tiba-tiba marah sama gue. Gue nggak tau Ra, gue salah apa.." ucap Yoga, melas banget.
 Nara memandang Yoga. "Lupain aja Ga... Gue nggak marah sama lo.." jawab Nara. Yoga memandang Nara, sedih.
 "Ra..." panggil Yoga. Nara melangkah pergi meninggalkan Yoga.
  Yang mereka berdua tidak tahu, ada Isna yang memperhatikan dengan penuh rasa kecewa....











Mencuri Hati
Yoga menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk, saat Fatih bermain Play-Station 3 milik Yoga. Fatih memandang Yoga sekilas.
 "Gimana diklatnya bos?" tanya Fatih.
 "Suram" jawab Yoga, sambil menutupi wajahnya dengan bantal sofa.
 "Suram gimana? Pemandangan ada 2 begitu!"
 "Ya itu dia! Yang satu udah kayak stalker. Kemana gue pergi, dia ikut. Yang satu diemin gue, tanpa gue tahu gue salah apa"
 "Menurut gue, Nara jealous deh sama Isna. Secara gitu yaa, lo kemana-mana gandengan sama Isna, padahal selama ini lo suka nyari masalah sama Nara.."
 "Nara nggak suka sama gue..." Fatih mem-pause gamenya dan memandang Yoga.
 "Gue mau tanya... Lo dapet feeling dari mana dia nggak suka sama lo??"
 "Karena dia selalu marah tiap gue ajak ngobrol.."
 "Sadar nggak sih kalo setiap dia ngobrol sama lo, wajahnya selalu merah?" tanya Fatih. Yoga memandang Fatih, sambil mengingat-ingat.
 "Nggak semua sih.. Tapi, iya.. Ada beberapa obrolan yang bikin pipi dia merah.." jawab Yoga.
 "So??"
 "Ah, gue nggak mau berpendapat! Nanti kalo kenyataan nggak seperti itu gue yang galau"
 "Ya udah. Ntar sore gue mau ngajak Ghina sama yang lain nonton. Gimana? Mau ikut?" ajak Fatih.
 "Gila lo! Gue baru pulang jam 10 tadi.. Jam berapa lo mau pergi??" tanya Yoga.
 "Jam 7 lah paling. Gimana??"
 "Nara ikut??"
 "Ntar gue atur..."
 "Kalo dia ikut, gue baru mau ikut.." Lalu melempar bantal sofa ke kepala Fatih kemudian beranjak pergi.
***

 "NARA!" seru Ghina. Nara langsung terbangun. "Apa?!" tanya Nara, lelah.  "Bangun!" Juwita menarik Nara. Nara terduduk di kasur dengan mata mengantuk. "Kenapa sih?? Jangan rusuh deh!" ucap Nara. "Bangun, mandi, terus pake baju bagus! Kita mau nonton!" ajak  Ghina. "Nonton ya udah sana nonton. Gue nggak ikut, mau dirumah aja, tidur.. Gue capek banget!" tolak Nara.
 "Capek apa coba?!" tanya Juwita, sambil bertolak pinggang.  "Capek hati ngeliatin Kak Yoga sama pacarnya.." jawab Tara, yang tiba-tiba muncul dari luar. Nara langsung memerah. "Tara, nggak usah ngegosip deh!" seru Nara, malu.
 "Aku nggak gosip! Kan kamu sendiri tadi yang bilang sambil beres-beres baju.." sahut Tara, lalu memeletkan lidahnya.
 "TARA!" teriakan Nara membuat Mama Nara menghampiri mereka."Kok kalian berisik sih? Papa lagi tidur tuh!" seru Mama Nara."Udah, Rara ikut aja! Lumayan kan, daripada dirumah bawel.."
  "Nara capek Mama.." ucap Nara, memelas. "Kalo lo ikut, gue traktir makan pizza pepperoni!" tawar Juwita. Mata Nara berbinar, lalu mengangguk setuju. "Ya udah, sana mandi!" perintah Juwita. Nara langsung menurut.
 Ghina menatap Tara. "Tara mau ikut?" tanya Ghina. "Mau sihh, tapi..." Ghina tersenyum. "Ya udah, sana ganti baju.." Tara bertepuk tangan riuh, kemudian segera berganti baju.
***
Nara memasang wajah merengut. Bukan karena Tara ikut, tapi karena melihat sosok yang paling tidak ingin dilihatnya berdiri di samping Fatih, sambil memperhatikan banner film. Fatih menyenggol lengan Yoga pelan, membuat Yoga menatap ke arah Nara.
 "Karena ada Tara, kita jangan nonton Breaking Dawn ya.. Nonton Puss in Boots aja" ajak Sabrina. "Tapi Tara mau nonton Breaking Dawn.. Tara mau liat wajah nelangsa Jacob, karena Bella dan Edward.." sahut Tara.
 "Nggak boleh! Emang kamu nggak baca di novelnya, ada adegan 17 tahun ke atas?" tolak Nara. Tara mendelik sebal. "Kamu parno banget sih?? Aku nggak akan sekotor itu lah pikirannya.." bantah Tara. Yoga memandang Nara. Nara bukan tipe cewek munafik. Pas dia tidak setuju, dia pasti langsung bilang.
 "Ya udah, Tara maunya apa?" tanya Ghina. Tara tersenyum. "Breaking Dawn, of course!" jawab Tara, riang. Ghina menatap Fatih. "Kamu beli tiket gih.." ucap Ghina. Fatih mengangguk. Yoga mendekati Tara. "Mau pop corn nggak??" tawar Yoga. "Mau dong!"  Nara memandang langkah Tara dan Yoga. Mereka terlalu akur! Bahaya! Siaga 3! Siaga 3!
***
 Nara memandang curiga ke bangku bioskop. Tinggal 2 bangku yang tersisa. Untuknya dan Yoga. Nara menatap Tara yang pura-pura tidak memperhatikan, duduk disamping Ghina.
 "Ta, kamu duduk situ dong. Aku mau deket Ghina.." pinta Nara.
 "Aku mau disini gimana??" tolak Tara.
 "Tara... Kakak duduk disitu. Tolong banget kamu pindah.." ucap Nara.
 Nara tidak pernah menggunakan kata 'kakak' saat mengobrol dengan Tara. Jadi, bisa dipastikan, begitu Nara mengucapkan kata itu, Tara langsung bergeser untuk duduk disamping Yoga. "Kamu kenapa sih nggak mau duduk disamping Kak Yoga?? Kak Yoga kan baik.. Mau beliin aku pop corn dan soda. Nggak kayak kamu, pelit dan parnoan..." goda Tara, sambil mencomot pop corn. Wajah Nara langsung memerah. Apalagi melihat Yoga mengangkat muka dari HPnya dan tersenyum lebar.
 "Nggak usah senyum!" tegur Nara pada Yoga. Yoga langsung diam.
 Film pun dimulai. Betapa nelangsa Jacob saat menerima undangan dari Bella dan Edward. Yoga menatap Nara, kemudian mencolek lengannya. Nara menoleh, menatap Yoga.
 "Apa??" tanya Nara.
 "Nggak papa" jawab Yoga.
 "Nggak usah ngajak berantem deh! Gue mau nonton!!"
 "Ya ampun.. Gitu doang ngajak berantem?! Gimana kalo gue bawa-bawa pisau sama bensin??"
 "Berarti lo ngajak gue kawin!!"
 "Ya udah, ayo kita kawin sekarang!"
 "Ogah banget! Ntar gue dikutuk sama soulmate lo!"
Tara memandang Nara dan Yoga, kemudian memasang wajah kesal. "Kamu pindah deh! Aku deket Kak Ghina aja! Mau nonton, susah banget..." Tara menarik tangan Nara, hingga Nara duduk disamping Yoga. Mendadak karene dibentak Tara, mereka berdua hening.
 "Soulmate lo mana?" tanya Nara, membuka percakapan.
 "Siapa? Isna?" Nara cuma mengangguk.
 "Gue tinggal. Tadi gue kabur ke rumah Fatih sebelum dia dateng.." jelas Yoga.
 "oohh.." sahut Nara. Padahal dalam hati dia merasa sangat lega dan bahagia. "Kenapa emang?"
 "Nggak papa. Pengen nanya aja.."
 "Kirain...."
 "Kirain apa?" Nara jadi heran.
 "Kirain lo jealous sama Isna.." Wajah Nara langsung merah tomat. Untung saja bioskop gelap, jadi tidak terlihat. Dia memukul lengan Yoga.
 "Jangan ngarang! Enak aja lo!" ucap Nara. Yoga terkekeh. "Mana tahu kan.. Habis lo tiba-tiba diemin gue.. Gue kira lo jealous sama Isna.." Nara menatap Yoga.
 "Nggak kok.." dusta Nara. Yoga tersenyum masam. "Iyaa, gue yakin lo nggak mungkin jealous sama Isna.. Tapi kata Fatih, lo marah karena lo suka gue... Jujur aja, pas dia bilang gitu... Gue seneng banget..." ucap Yoga.
 Jantung Nara berdebar kencang. Nara hanya bisa melongo menatap Yoga. Mendadak Yoga menyentuh pipi Nara dan membuatnya kembali menonton film. "Gue tahu gue keren, tapi jangan segitunya lah kagum sama gue.." goda Yoga. Nara memeletkan lidahnya. Yoga tersenyum. Dia memandang Nara. Dia yakin, nanti malam dia akan bermimpi indah.
***
 Nara tidak bisa tidur! Dia sukses galau karena kata-kata Yoga di bioskop. Nara memukul-mukul kepalanya, membuat Tara terbangun.
 "Heiii, tidur! Udah jam 11 malam!" perintah Tara. "Iyaa bawel!" sahut Nara. Dia melangkah mendekati meja belajar dan mengambil kamera SLRnya. Tersenyum karena pemandangan indah di kamera itu. Perlahan, dia tertidur di meja belajar.
 Papa Nara baru saja pulang kerja dan memeriksa keadaan anak-anaknya. Papa Nara tertegun melihat Nara tidur di meja belajar. Papa Nara mendekat dan matanya tertuju pada sebuah kamera yang ada di atas meja. Papa Nara mengambilnya kemudian menyalakannya. Melihat foto-foto yang membuat Papa Nara tersenyum penuh arti
***
 "Kameraku mana?!" teriak Nara, heboh. Nara keluar dari kamar dan menatap keluarganya. Papa meringis salah tingkah. "Sama Papa, Ra. Tadi malam Papa liat foto-foto di kamera kamu, terus ada yang Papa suka.." jawab Papa. Nara tersenyum masam. "Ya udah kalo gitu.." sahut Nara, lalu berjalan untuk memakai sepatu.
 "Nara masih suka fotografi kan?"
 "Banget Pa. Kenapa?"
 "Nggak papa. Papa penasaran aja.. Udah siap? Biar kita berangkat..." ucap Papa Nara, lalu tersenyum.
***
 Hari Senin.
Yoga menjadi pemimpin upacara. Nara baris paling depan. Yoga berhenti tepat di depan Nara. Wangi Yoga membuat Nara gugup. Dia harus menghindar. Sesaat sebelum Yoga menyiapkan pasukan, Nara sudah berbalik dan mengajak Juwita pergi, dengan alasan ingin ke UKS karena pusing.

 Hari Selasa.
Nara melihat ada Yoga dari ujung koridor bersama Sabrina dan Fatih. Nara langsung merebut novel The Duchess milik Ghina dan  berpura-pura membacanya. Saat melewati Yoga, baru dia kembalikan.
 Hari Rabu.
Nara bertubrukan dengan Yoga. Nara langsung pergi, sebelum Yoga mengajaknya bicara.
 Hari Kamis.
Harusnya klub fotografi kumpul. Namun Yoga berkata hari ini libur, tanpa mengumumkan kepada Nara. Berharap Nara akan datang. Namun gadis itu tak juga datang.
 Hari Jumat.
Tara memperhatikan kakaknya yang makin gemar mengambil gambar matahari dan embun hujan di jendela. Sementara Fatih melihat Yoga yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Seorang Yoga Bayuputra, cowok yang dikenal dingin dan nggak ada belas kasihan sama semua admirernya nampak  semakin galau karena Nara....






Ujian
Tidak terasa waktu sudah terlalu cepat berlalu. Sudah tiba saatnya ulangan semester ganjil. Beda dengan sekolah lain, SMU NUSA BANGSA tidak menerapkan ulangan mid, namun membuat ulangan mid menjadi ulangan-ulangan harian.
 Nara memandang ruang ujiannya. Ruang 21. Nara menghela nafas. Tadi malam, dia belajar matematika dan sejarah. Seandainya SMU NUSA BANGSA tidak menaruh hidden camera di berbagai tempat... Nara pasti akan gampang mencontek Juwita.
 Nara memandang siapa yang akan menjadi table-mate selama seminggu. Jantung Nara berdebar kencang. Yoga!! Yoga Bayuputra, akan menjadi table-matenya. Sudah beberapa bulan dia tidak mengobrol dengan Yoga, membuatnya merasa sangat gugup.
 Nara melangkah masuk ke dalam ruang ujian dan duduk di tempatnya, yang ada di pojok. Apakah ini hanya kebetulan atau memang takdir? Nara menghela nafas, lelah. Nara mengambil buku cetak matematikanya dan mulai menghitung. Melanjutkan apa yang telah dikerjakannya dari rumah tadi.
 "ciyee Yoga!!" goda Fatih, keras. Yoga yang baru satu langkah masuk ke dalam kelas, menatap Fatih.
 "Apaan sih?? Jangan rusuh deh!" sahut Yoga, sambil melangkah mendekati meja Nara. Nara yang mendengar suara langkah Yoga, mulai berdebar.
 "Stay cool Nara. Just stay cool" gumam Nara, pelan.
 Yoga berhenti tepat di depan meja. Matanya menatap Nara. "Boleh permisi, gue duduk di pojok.." ucap Yoga. Nara mengangguk.
 Yoga cuma diam sambil belajar, membuat Nara makin gugup. Daripada dia gugup, lebih baik dia melanjutkan mengerjakan tugas matematikanya.
 "Yogaaaaa..." panggil Isna. Yoga langsung merengut. Dia langsung menarik buku dari tangan Nara dan memaksa Nara di dekatnya.
 "Yoga..." ulang Isna. Yoga mendongak. "Apa Isna??" tanya Yoga.
 "Ajarin aku.." jawab Isna.
 "Aku juga mau ngajarin dia.. Kamu belajar sama yang lain aja yaa..." sahut Yoga.
 "Aku maunya sama kamu!!" seru Isna.
 "Aku nggak mau sama kamu.." jawab Yoga.
 Nara memandang Yoga tajam. Apa-apaan cowok ini?! Mungkin dia korslet, jadi tidak bisa memperhatikan kalau Isna itu adalah gadis yang cantik jelita. Isna menatap Yoga. Menghentakkan kakinya, kemudian melangkah pergi. Nara langsung memukul paha Yoga.
 "Aduuhh!!" seru Yoga.
 "Lo bilang gue bodoh, tapi faktanya lo lebih idiot daripada gue!" ucap Nara.
 "Lo bilang apa? Gue idiot?! Lo tuh! Udah bodoh, ceroboh, suka goyang-goyang, hobi nabrak lagi!"
 "Biarin! Daripada nyebelin dan egois?!" Nara dan Yoga saling tatap ke manik mata.
 "CIYEE..." anak XI IPA 1 serentak membentuk koor yang dikomando oleh Fatih. Yoga menatap teman-temannya.
 "Yoga ternyata gitu ya? Kenapa kalo dikelas kalem?" goda Mario, teman sekelas Yoga.
 "Yoga diem-diem suka nerkam lho, dek.." goda Satya, teman sekelas Yoga yang lain.
 "Yoga kalo sama gue dingin.. Tapi kenapa sama adek kelas nggak??" goda Willona, lalu tertawa. Fatih makin bersemangat mengoda. “Yoga jatuh cinta!! At last!” seru Sabrina. Wajah Yoga sudah merah sekarang.
 "Berisik..." ucap Yoga, lalu menutup mukanya dengan tangan dan lanjut belajar. Nara hanya bisa tertawa pelan
***
Dan begitulah waktu ujian berlalu. Nara semakin luluh karena Yoga sering memberi jawaban kepada Nara, jika Nara tidak bisa. Seperti saat ulangan fisika. Nara lupa beberapa rumus. Nara mulai gelisah. Menatap Juwita, berharap dia menangkap sinyal telepati dari Nara. Namun nihil. Yoga melirik Nara sekilas. Berpura-pura tidak peduli, tapi dengan lancar menuliskan rumus dengan lancar di kertas coretan.
 Saat Yoga berdiri membuat Nara takjub. Fisika dikerjakan hanya dengan 30 menit?! Yoga menunduk kemudian berbisik, "Tuh udah gue bantuin.. Awas lo kalo bertingkah nyebelin lagi.." Nara memandang Yoga, yang membuat Nara kemudian terdiam dan cuma bisa mengangguk salah tingkah.
***
 Nara sedang benar-benar dalam krisis kebelet. Sesudah memperhitungkan semua kemungkinan, dia akhirnya memilih untuk izin ke toilet. Di toilet, Nara bertemu dengan Isna yang sedang mencuci tangan. Isna menghentikan aktivitasnya kemudian menatap Nara tajam. Nara lega karena sudah mengeluarkan rasa gelisahnya. Begitu keluar, Isna masih ada di depan westafel.
 "Kamu ngapain?" tanya Nara, ramah. Isna malah mengibaskan tangan, tanda tidak peduli. Matanya menatap Nara tajam.
 "Jauhin Yoga. Dia punyaku.." ucapnya, memberi ultimatum.
 "Maksudnya? Kita aja nggak deket kok.." bantah Nara.
 "Nggak deket?? Oh iya, kayak aku bakal percaya.. Mana ada orang yang nggak deket tapi berantem?! Plus senyum-senyum lagi!" bibir Isna bergetar. Nara memandang Isna.  "Ya udah.. Gue bakal jauhin Yoga.. Puas?" tanya Nara. Isna mengangguk puas. Air mata dan bibir bergetarnya hilang. Dia melangkah pergi, tapi sebelumnya sengaja menabrakkan bahunya ke Nara. Badan Nara mendadak gemetar. Dia buru-buru keluar dari toilet, sebelum dia terlanjur menangis.
***
 Pada ulangan kimia, Nara mengabaikan coretan Yoga. Mengabaikan setiap  kebaikan hati Yoga. Mulai bersikap dingin lagi. Tampaknya, Ghina dan Juwita juga sadar akan itu. Mereka pun segera menginterogasi Nara.
 "Lo kenapa sama Yoga??" tanya Juwita.
 "Galau.." jawab Nara.
 "Galau kenapa?" tanya Ghina. Nara menghela nafas. Matanya mulai memerah.
 "Siapa yang bikin lo sedih?!" tanya Ghina.
 "Diri gue sendiri..." jawab Nara, lalu berjalan pergi.
***
 Sabrina sedang mengobrol dengan Fatih ketika melihat Isna berjalan ke belakang sekolah. Penasaran, mereka mengikuti langkah Isna. Mereka berdua sangat terkejut melihat Isna tampak ramah dan akrab dengan Karren, cewek yang pernah mem-bully Nara dan kabarnya juga dulu mem-bully Isna di SMP. Sabrina dan Fatih saling bertatapan. Mengapa gadis manis seperti Isna akrab dengan Karren, sang drama and bully queen???











Rencana Rahasia

 Nara tergolek lemas di meja kantin. Campuran antara terkejut dan galau. Nara mendapat nilai 90 untuk pelajaran fisika. Walaupun dia dapat nilai bagus, Nara harus mengakui bahwa bantuan Yoga sangat berpengaruh. Ghina dan Juwita yang sudah tahu, hanya bisa prihatin.
 "Lo mesti bilang makasih sama Yoga.." ucap Ghina.
 "Yea~ like hell it would be happen.." sahut Juwita.
 "Kenapa?"
 "Nggak perhatiin kalo tiap mereka ketemu, mereka pura-pura nggak kenal??"
 "Iya juga yaa.. Harusnya nggak boleh gitu.. Masa tiba-tiba jauhin tanpa sebab? Nara tega juga ternyata ya? Kasihan Yoga..."
 Nara memandang kedua sahabatnya dengan gemas. "Gue emang benci sama back-stabber... Tapi, jangan frontal di depan gue juga kali ngejeknyaaa..." ucap Nara. Ghina dan Juwita tertawa terbahak, lalu berebut mengacak rambut Nara.
***
 Yoga cuma diam sambil mengetuk-ngetukkan HPnya ke meja. Dia senang karena Isna pergi entah kemana tanpa bilang-bilang saat jam kosong. Namun dia tetap merasa galau. Satya dan Mario mendekati dia dan bertatap-tatapan jahil. Mereka merebut buku cetak kimia milik Sabrina dan mengambil aba-aba.
 'PLAAK' Yoga langsung berdiri. "Satya!! Mario!! Sakit, tahu nggak??!!" seru Yoga. Mario dan Satya malah tertawa terbahak. "heeii teman-teman! Yoga lagi galau!!" seru Satya. Semua mata menoleh. Menghentikan aktivitas dan menatap Yoga. "Galau kenapa? Karena adek kelas kemaren yaa??" goda Mario. Fatih tertawa. "Bantuin tuh woy.. Kasihan gue. Dia dapet 95 buat Kimia gara-gara salah nulis nama. Harusnya Yoga Bayuputra, malah Yoga Aditya.. Gara-gara nama belakang cewek itu ada Aditya juga..." Fatih membuka aib. Wajah Yoga sudah merah sekarang. Menatap Satya, Mario, dan Fatih dengan tatapan ingin membunuh.
 "Mau kita bantuin nggak, Ga?" tanya Willona. Semua teman bersuara dengan penuh semangat. Yoga menatap teman-temannya. "Serius nih?" tanya Yoga. Semua mengangguk. Sabrina menghampiri Yoga dan merangkulnya. "We are pals forever!!" seru Sabrina, keras disambut tawa riuh teman-temannya. "So are guys ready?!" tanya Sabrina. "YEAHHHH~" jawab anak-anak, semangat. Sabrina tersenyum. Perlahan, semangat positif muncul dari Yoga dan dia mulai tersenyum senang.
***

 Nara memandang undangan pesta dansa, 'Christmas Ball'. "Apa ini??" tanya Nara. "Undangan. Lo mesti dateng.." jawab Ghina. "Kenapa mesti dateng?! Nggak ahh, nggak mauu~" tolak Nara. Juwita memandang Nara, galak. "Berani lo nggak dateng??" mental Nara menciut. "Iyaa, dateng, dateng.." jawab Nara dengan wajah sebal. Ghina melangkah keluar dan bertemu Fatih dan Sabrina yang sedang menunggu di depan kelas X.4. "Done.." ucap Ghina. "Thanks babe.." sahut Fatih, lalu mengecup pipi Ghina. Sabrina menjitak kepala Fatih dan menariknya pergi.
***
Nara bergerak cepat menuju rumah, saat melihat sebuah mobil Jazz silver dirumahnya. Dia terkejut melihat Yoga sedang mengobrol sangat akrab dengan Papa, Mama, dan Tara. Nara menghela nafas kesal. Seandainya dia tidak menuruti ajakan Ghina untuk menemani dia membeli keperluan pesta, dia pasti sudah mengusir cowok menyebalkan satu ini dan tidak membiarkan dia mengobrol akrab dengan keluarga Nara. Yoga melirik Nara dari kacamatanya kemudian tersenyum. Dia kembali menatap Papa, Mama, dan Tara. "Makasih banyak ya Tante, Oom, Tara.. Saya pamit pulang.." ucap Yoga, lalu berdiri. "Iya, hati-hati di jalan nak Yoga.." ucap Mama Nara. Yoga melangkah mendekati Nara. "Baru pulang Ra??" tanya Yoga, ramah. Nara hanya mengangguk. "Gue pulang ya Ra.." pamit Yoga. Nara tidak menjawab. Malah masuk ke dalam rumah. Yoga melangkah lunglai ke mobil Jazz miliknya. Memandang ke rumah Nara dan mendesah. "Gue salah apa sih Ra??" gumam Yoga, kemudian menstarter mobilnya dan pergi.
***
 Rumah Yoga penuh dengan siswa XI IPA 1. Willona sibuk mendesain lay-out. Satya dan Mario sibuk mengatur tata letak cahaya lampu. Sabrina mengajarkan Yoga berdansa waltz. Fatih dan beberapa anak lainnya sibuk memilih lagu yang pas. Namun, semua berhenti saat heels Isna mengetuk lantai.  "Hai.. Lagi pada ngapain? Kenapa kalian nggak ngajak aku??" Isna bertanya ramah. Semua anak hanya bisa memandang Yoga. Yoga membenarkan posisi kacamata dan menatap Isna tajam. "Kamu mau apa?" tanya Yoga. Isna menunjukkan undangan ‘Christmas Ball’ kepada Yoga. "Aku cuma mau memastikan kalo kamu dateng ke Christmas Ball samaku.. Soalnya aku udah beli korsage yang sesuyai dengan kita berdua, warna hujan" jawab Isna, lalu tersenyum. Yoga diam. Dia jadi mengingat kembali momen indah bersama Nara. Yoga tersadar dari lamunan saat mendengar Fatih menjawab kencang, "Ya udah. Lo tenang aja.. Dia pasti dateng sama lo.." Isna tersenyum senang. "OK then.. Bye guys! See you there, Yoga!" dan Isna pun pergi.
Yoga menatap Fatih dengan tatapan tidak percaya. "Apa-apaan itu tadi?" geram Yoga. "Lo jangan marah dulu Ga. Gue sama Sabrina punya pendapat sendiri tentang dia, yang mungkin nggak bakal lo percaya.. Lo sabar aja.." jawab Fatih, setengah berbisik. Yoga memandang Fatih dengan penuh tanya. "Lo nggak bohong kan??" tanya Yoga. Fatih memandang Yoga. "Do you think I dare lie to you?" Fatih balas bertanya. Yoga menghela nafas, lalu menggeleng. “Ya udah. Itu tahu..” sahut Fatih, kemudian kembali menyibukkan diri dengan kumpulan CD yang bertebar di lantai. Yoga menghela nafas lelah. Dia ingin semua masalah ini cepat selesai agar dia bisa menghapus momen saat Isna datang dan mempertahankan momen bersama Nara. Jantungnya berdetak kencang saat memikirkan Nara. Yoga terkejut dengan perasaannya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta?? Fatih balas bertanya. Yoga menghela nafas. Dia ingin semua masalah ini cepat selesai agar dia bisa menghapus momen saat Isna datang dan mempertahankan momen bersama Nara. Yoga terkejut dengan perasaannya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta???






Pengakuan Cinta

 Christmas Ball yang diadakan di aula penuh dengan murid-murid. Semua berdandan dengan harapan dapat membuat pasangan mereka terpesona. Yoga, Fatih, Satya, dan Mario menunggu dengan gelisah di depan jam besar sekolah. Menghela nafas, berputar-putar, dan melirik jam berkali-kali.
 "Udah siap?" tanya Willona."Belum!" seru mereka kompak. "Lama banget.. Pesta udah mau dimulai kan?" tanya Willona. "Kayak nggak tahu gimana cewek dandan.." jawab Mario. Willona mau membalas namun dia terdiam dan bergumam, "gosh! They are so beautiful!" Mereka langsung berbalik dan terpesona.
 Sabrina, sang cheerleader queen mengenakan gaun hasil designnya. tube bewarna emas cerah, sementara terusan kebawah berbentuk tumpukan-tumpukan kain satin bewarna abu-abu sepanjang mata kaki, dan karena itu gaun tersebut terlihat semakin sempurna ditubuh Sabrina, membuat Satya terkagum-kagum.
 Nara, sang calon photographer handal, mengenakan dress bewarna krem one-shoulder selutut. Walaupun sederhana, gaun itu membuat Yoga melongo.
 Juwita, sang anggota tim basket inti itu mengenakan gaun bewarna hitam di atas lutut dengan motif bunga-bunga, membuat Mario berdecak dengan senyum bahagia.
 Sebagai calon dokter, Ghina tahu bagaimana harus berpakaian. Ghina memilih gaun hitam dengan bahan lace dengan motif bunga-bunga. Dan karena gaun itu, Ghina mendapat perhatian penuh dari Fatih.
***
 Isna melihat ke segala arah untuk mencari Yoga. Kemudian matanya tertuju pada seorang gadis yang terlihat kaku berdansa dengan Yoga. Rasa marah dan obsesif membuatnya yakin dia harus melakukan sesuatu. Isna melangkah menghampiri Yoga, menarik gadis yang sedang berdansa, kemudian menampar pipinya keras.
 Semua orang berhenti berdansa. Musik pun berhenti. Yang tersisa hanyalah Nara yang meringis sambil menahan tangis dan deru nafas memburu Isna. "Isna?!!" seru Yoga, marah. Isna menatap Yoga dengan pandangan yang sangat berbeda dengan Isna yang dulu. "Apa?! Aku mau kasih dia pelajaran, biar dia jera deketin kamu!" jawab Isna.
 "Apa??" Yoga tampak sangat terkejut. "Aku cinta banget sama kamu! Aku sampai rela berpura-pura jadi gadis manis dan innocent yang rela tersenyum terus biar kamu tetap disamping aku! Dan aku pengen liat seberapa besar kamu sayang samaku. Jadi aku minta Karren, sahabat baikku berpura-pura mem-bully aku dan mengatur kepergianku ke Inggris. Kamu kira untuk apa? Hanya untuk tahu seberapa besar aku dimata kamu!! Dan tiba-tiba aku dapat kabar dari Karren, kamu suka sama dia.." Isna menunjuk Nara. "Aku udah nyuruh Karren mem-bully dia, tapi dia nggak jera! Jadi aku pulang, berharap kamu masih nungguin aku..  Tapi aku malah berhadapan dengan suasana yang makin suram! Dasar perusak!!" seru Isna, mengamuk sambil berusaha mencakar wajah Nara. Nara bersembunyi dibalik Yoga dengan penuh ketakutan. Ternyata, inilah Isna Firstiana yang sebenarnya. Kejam, palsu, obsesif, kasar, dan  tidak berperasaan.
 Yoga menggenggam tangan Nara erat dan memandang Isna sinis, "Untung aja lo sempat pergi dari hidup gue.." bisiknya. Isna masih tampak tidak terima. Dia lalu bertanya dengan suara lantang. “Apa sih bagusnya dia daripada aku??! Apa yang bikin kamu cepat lupain aku??!" tanya Isna, marah. Yoga melirik Nara sekilas, lalu menatap Isna tajam. "Lo nggak pernah terganti Na. Sampai kapan pun.. Lo tuh cewek yang paling gue sayang.. Lo cewek yang bikin gue mati rasa. Cuma, lo dateng di saat yang salah. Lo dateng dengan harapan yang belum tentu bisa gue kabulkan lagi.. Mungkin, kalo lo dateng lebih cepat, semua nggak bakal begini.. Kenapa gue bisa cepat lupain lo? Karena dia nggak lebih cantik daripada lo. Dia lebih nyebelin, lebih bebal, nggak suka hujan, punya hobi yang super norak dan nggak jelas.." Nara mendelik sebal ke arah Yoga. "Tapi, cuma dia yang berhasil masuk ke zona nyaman gue dan menjungkir-balikkan dunia gue.." lanjut Yoga, lalu tersenyum.  Yoga menggenggam tangan Nara erat dan menarik Nara keluar dari hall menuju taman sekolah. Meninggalkan Isna yang mulai terisak.
 Fatih memandang teman-teman sekelasnya yang masih tidak percaya dengan kata-kata Yoga barusan. "Guys, it's show time!!" serunya, semangat. Siswa-siswi XI IPA 1 langsung buru-buru menuju taman sekolah.
 "Lo nggak papa?" tanya Yoga, sambil membelai pipi Nara lembut. Wajah Nara mendadak memerah. Dia cuma bisa menganggukkan kepalanya. "Sakit sihh, cuma nggak parah banget kayak tadi.. Gue berasa di sinetron! Hahaha. Tapi, kalo tahu bakal ditampar, mending dirumah nonton Ugly Betty bareng Tara, sambil ngemil.." keluhnya. Yoga makin merasa bersalah. "Maaf ya Ra.. Maaf banget.." ucap Yoga, dengan nada memelas. Nara tersenyum tipis. "Iya, nggak papa.." Yoga pun tersenyum lega.
 Perlahan, mistletoe turun dari atas pohon besar di taman sekolah. Yoga dan Nara mendongak. Yoga menatap Nara yang masih memandangi mistletoe. Inilah kode untuk menyatakan perasaannya pada Nara.
 "hhmm~ Ra, gue mau ngomong.." ucap Yoga. "Ngomong aja.." Nara masih memandang kagum mistletoe. "Ra.. Gue mau ngomong.. Dengerin dong.." Yoga mulai gugup, menarik lengan Nara. Nara menatap Yoga kesal.
 "Apaaa??!" Yoga menatap Nara dengan tatapan aneh. Tangannya gemetaran. Nara memandang Yoga, lalu tertawa terbahak. "Lo kenapa sih Ga??"
 Fatih sudah tidak sabar lagi. Dia melangkah menghampiri Nara dan Fatih. Menatap Nara penuh arti dan berkata, "Nara Ragil Aditya, mau nggak jadi pacarnya Yoga??" tembak Fatih langsung. Wajah Nara dan Yoga kompak memerah. Nara cuma menunduk salah tingkah.
 "Mau nggak Ra??" desak Fatih. Nara menatap Yoga, kemudian tersenyum lembut. "Mau.." jawabnya. Semua anak XI IPA 1 kompak bertepuk tangan riuh. Satya dan Mario memutar lagu ‘Mistletoe-Justin Bieber’  lewat speaker sekolah. Yoga memandang Nara. "May I have this dance?" tanya Yoga. "Sure you may.." jawab Nara.
 Nara dan Yoga berdansa dengan penuh senyuman. Seakan yakin bahwa happy ending itu ada di dunia nyata. Yoga dan Nara terus berdansa dengan wajah bahagia, sesuai dengan harapan anak-anak XI IPA 1 dan sahabat-sahabat Nara. Fatih menghampiri Ghina, kemudian tersenyum lembut. “Dansa yuk..” ajak fatih. Ghina menatap Fatih dengan tatapan polos. “Aku nggak bisa dansa, Fatih.. nanti kaki kamu keinjak.. Kasihan..” tolak Ghina. Fatih malah menggelengkan kepala. “Keinjak juga nggak masalah. Ayo, sini nanti aku ajarin..” Fatih menarik tangan Ghina dan ikut berdansa di lantai taaman sekolah. Juwita sedang bersenandung saat Mario melompat turun dari atas pohon. Juwitamenatap Mariotajam. “Ngagetin tahu nggak??” ucap Juwita, Mario tersenyum girang. “Imma under the mistletoe.. How about joining me?? Being alone under mistletoe isn’t romantic at all” tawar Mario. Juwita tertawa. “Seriously??? You’re zero for dancing..” ejek Juwita. “Who cares??” Mario tersenyum lalu menarik Juwita berdansa. Sabrina sibuk membereskan bekas-bekas daun dan pita untuk membuat mistletoe, saat Satya datang. “Sabrina, mistletoe jangan dibuang.. Sayang. Mending buat gue aja..” Sabrina mengerutkan dahi. “Buat apa?? Nanti kalo mau, ambil aja yang punya Nara dan Yoga..” tanya Sabrina. Satya merebut mistletoe dari tangan Sabrina dan berjinjit untuk mengikatkan dibatang pohon. Sabrina dan Satya tertawa kompak karena mistletoe hanya seukuran mata Satya. Padahal, harusnya bisa lebih tinggi lagi. Mereka berdua berdansa dengan penuh aura kebahagiaan. Lampu kerlap-kerlip taman sekolah, hasil kerja anak-anak cowok menutupi beberapa hal indah di taman sekolah....

“I’m feeling one thing, your lips on my lips,
That’s a Merry Merry Christmas...”          Mistletoe-Justin Bieber












Waktu Berputar

 Pagi hari di bulan Februari, tanggal 14. Nara memberikan Yoga sekotak cokelat buatan sendiri, sementara Yoga memberi Nara sebuah boneka Patrick Star yang besar. Nara marah-marah saat Yoga memberi boneka itu.
 "Kenapa Patrick sih?! Kenapa nggak Teddy Bear atau Winnie the Pooh??" tanya Nara. "Soalnya Patrick itu sama kayak lo. Ceroboh dan bodoh!" jawab Yoga, cepat. Nara merengut. "Nyebelin kan?? Gue marah nih!" balas Nara. "Yaa, gitu aja ngambek Ra. Udah, simpen dulu tuh boneka di kamar.." saran Yoga. "Ogah banget di kamar.. Mau gue taruh di gudang!" sahut Nara, lalu masuk ke dalam rumah.
 Nara kembali keluar bersama Papa, Mama, dan Tara. "Hati-hati Yoga. Oom titip Nara." ucap Papa Nara. "Kak Yoga awas kena diare habis makan cokelat Nara.." goda Tara. Nara langsung melotot. "Awas kamu nanti!" ancam Nara, disambut tawa Tara. "Ya udah, Oom, Tante, Tara, kami pergi dulu.." pamit Yoga dan mereka pun pergi.
***
 Lapangan sekolah dipadati banyak murid. Nara dan Yoga yang baru datang, tampak bingung. "Ada apa ya Ra?" tanya Yoga. Nara cuma mengangkat bahu. Ghina dan Juwita berlari mendekati Nara. "Ada apa sih?" tanya Nara. "Katanya sih ada murid yang dapat beasiswa ke Amerika.." jawab Juwita. Nara cuma manggut-manggut.
 Kepala Sekolah, mr. Sebastian tiba di podium bersama dengan 2 orang asing. Senyum bahagia diwajah mr. Sebastian menambah rasa penasaran para murid. "Good morning for all of my beloved ones. Today, I'm here today with pride to tell you that one of your friend is succeed won a competition on web world wide!" seru mr. Sebastian bangga. "And, why do these men here?? Because... She's not only won, but she's on the first place!" Anak-anak makin penasaran. Beberapa mata menatap Ghina, tapi Ghina tetap berkata bahwa dia tidak pernah ikut kontes apa-apa via web.
 "For the prize, she'll have a full scholarship to Academy of Art University.." Para murid langsung bertepuk tangan riuh. Siapa yang tidak tahu universitas hebat satu itu? Universitas dimana para alumnusnya pasti mendapat pekerjaan yang bagus di bidang fotografi dan seni.  "Please congratulate your dearest friend, Nara Ragil Aditya!!" seru mr. Sebastian. Mendadak hening. Nara yang tampak semangat bersama 2 sahabatnya mendadak lemas. Semua mata, termasuk mata Yoga menatapnya tajam. "Gue??" tanya Nara.
***
Papa dan Mama Nara sudah duduk di ruang Kepala Sekolah. Nara masih tidak percaya bahwa dialah pemenangnya. Menerima beberapa dokumen dan foto yang membuat dia menang, berhasil menjadikannya seakan orang ling-lung. Nara menatap Papanya, meminta penjelasan.
 "Papa liat foto-foto di kamera kamu dan Papa ingat kalo ada website yang mengadakan kompetisi itu. Papa ingat gimana obsesi kamu jadi fotografer handal.. Makanya, Papa ikutkan kamu.." jelas Papa.
 "Tapi kenapa Papa nggak minta persetujuanku dulu??" tanya Nara, frustasi. "Papa udah tanya kan? Papa udah tanya apa kamu cinta sama fotografi, dan kamu jawab ya.." jawab Papa.
 Nara memandang mr. Sebastian dengan penuh harap. "When will I go, Sir?? After I graduated?" tanya Nara. "Nope. In your documents, it's been clear that you must go soon. And if you are still a student, you'll continue your studies there.. As a compromize being accepted to the academy.." jawab mr. Sebastian sangat jelas.
 "English please?" tanya Mama Nara. "She has to leave for 2 weeks since today.." putus mr. Sebastian. Nara memandang Papa dan Mamanya. "Jadi gimana Ra??" tanya Mama Nara. Nara cuma diam. "Just give me some time.."  gumam Nara, pelan.
***
Nara menghindari setiap pandangan mata semua orang. Menghindari Yoga dengan cara berpura-pura tidur saat Yoga datang pada jam istirahat, tidak makan di cafetaria, dan memohon pada Juwita untuk pulang bareng. Nara tahu Yoga butuh penjelasan. Namun dia sendiri pun tidak tahu harus menjelaskan apa. Nara tidak mengangkat semua telepon Yoga dan tidak membalas satu pesan singkat pun. Nara hanya bisa berdiam diri, tanpa tahu apa yang sedang dia perbuat. Nara memang bermimpi untuk masuk ke universitas itu. Karena obsesinya menjadi photographer yang handal. Nara akhirnya memilih untuk menggelatakkan tubuh di atas temapt tidur. Tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi..
***
Yoga membetulkan posisi kacamatanya. Ingin membanting HPnya namun dia tidak tega. Ingin berteriak, tapi dia tidak ingin pembantunya cemas. Akhirnya, Yoga pada pilihan terakhir. Memukul-mukul bantal dengan emosi yang campur aduk. Terdengar pintu diketuk. Yoga menghentikan aktivitasnya dan membuka pintu kamar. Terkejut dengan Isna yang sedang tersenyum, ramah padanya. “Mau apa??” tanya Yoga, galak. “Mau nghibur kamu..” jawab Isna. Yoga mengibaskan tangan dan menggeleng. “Nggak usah repot-repot.. Gue nggak perlu dikasihani..” sahut Yoga dingin, lalu membanting pintu. “AARRGHHH!!!!!” serunya kencang. Yoga tidak bisa menuggu. Dia harus menyelesaikan masalah ini. Nanti dia akan pergi ke rumah Nara. Meminta penjelasan dan memohon agar dia jangan pergi.
***
Nara kenal betul sifat egois Yoga. Yang tidak mau mendengar pendapat dan saran dari orang lain. Nara tahu dia harus menjelaskan semua pada Yoga. Dia melangkah mendekati ruang tamu. Yoga sedang menunduk bermain HP. “Hai..” sapa Nara. Yoga mendongak dan menataap gadis yang berhasil membuat dunianya jungkir balik. “You owe me stories..” ucap Yoga. Nara mengangguk pelan. “Aku nggak akan kabur.. Aku bakal jelasin semua. Dari awal sampai keputusanku gimana..” ucap Nara. Yoga cuma mengangguk. Nara sudah menggunakan kata-kata ‘aku-kamu’, berarti dia sedang ingin serius. “Papa yang ngirim foto-fotoku ke lomba itu dengan tujuan semoga aku menang dan bisa diterima di Academy of Art University, karena Papa tahu gimana pengennya aku masuk universitas fotografi.. Dan aku tahu, aku nggak boleh marah sama dia tapi harusnya aku bersyukur karena punya Papa sebaik dan bisa ngerttin aku kayak dia..” ucap Nara sambil memandang langit-langit rumah. Yoga menatap Nara. “Jadi, apa keputusan lo??” tanya Yoga, pelan. “Gue harus pergi Ga.. Karena kesempatan kayak gini nggak mungkin datang 2 kali.. Dapetin cowok egois kayak lo, juga nggak mungkin 2 kali.. Tapi, gue harus ngejar yang ini, karena ini mimpi gue.. Gue nggak berharap apa-apa dari lo.. Cuma berharap semoga lo ngerti posisi dan keadaan gue..” jawab Nara, diplomatis. Nara memandang Yoga. Mata Nara sudah mulai berkaca-kaca. Yoga termenung. Kedatangannya adalah mencegah Nara pergi, namun sekarang dia merasa sangat jahat jika meminta Nara untuk tetap tinggal. “Gue bakal nungguin lo..” ucap Yoga. Nara menatap Yoga. Dia terpaksa tertawa. “Nggak perlu..” jawab Nara. Yoga menatap Nara trepat dimanik mata. “Lo ingat kan gimana dulu gue nungguin Isna?? Gue bisa ngelakuin kayak gitu sekali lagi.. Gue pasti setia nungguin lo disini. Tenang ajaa..” ucap Yoga. “Gue nggak mau bernasib sama kayak Isna.. Gue takut terlalu berharap. Gue takut gue bakal kalah sama ‘Nara’ yang lain..” sahut Nara. “Nara itu cuma satu. Cuma lo doang. Tenang aja, gue nggak bakal bikin lo bernasib sama dengan yang lalu..” jawaban Yoga membuat Nara tidak bisa menghentikan tangisnya. Dia memeluk Yoga, erat. Dari balik dinding, Papa, Mama, dan Tara tersenyum tipis. Berharap janji Yoga benar-benar tidak hilang ditelan waktu...
 










Pergi Untuk Kembali
               
                Nara menggenggam erat hand-bag hitamnya. Dia tampak cemas, seolah menunggu sesuatu yang tak pasti. Keluarganya, Ghina, Juwita, Sabrina, dan Fatih telah menemaninya sejauh ini. Sabrinalah yang menerangakan bagaimana cara dia untuk beradaptasi di Amerika, Fatih dan Ghina yang sibuk mengurus passport dan visanya, sementara Juwita membantu Nara untuk menyelesaikan semua tugas sekolah sebelum dia berangkat ke Amerika. Namun Yoga?? Yoga malah entah kemana. Nara menghela nafas lelah. Dia menyerah.
Dia mengaduk-aduk tasnya dan mengambil sebuah scrap-book buatan sendiri kemudian memberikannya kepada Fatih. “Nanti tolong kasih ke Yoga ya..” ucapnya pelan. Fatih Cuma bisa mengangguk. Nara memeluk Papa-Mamanya. “Kalo ada apa-apa, telepon Papa. Kalo nggak betah, bilang Papa.. Biar Papa sama Mama juga Tara datang kunjungin kamu. Jaga diri ya sayang. Papa sama Mama bakal terus doain kamu..” ucap Papanya. Nara menghapus air  matanya dan tersenyum. “Hati-hati sayang.. Mama berdoa semoga semuanya lancar..” ucap Mamanya. Nara menghampiri Tara yang sudah menangis. “Kamu kenapa nangis?? Bukannya seru ya kalo nggak ada aku? Bisa ngerebut remote TV??” goda Nara. Tara merengut. “Nggak lucu!” sahut Tara, galak. “Take care yaa..” ucap Nara. “Kamu juga. Kamu harus sering-sering skype aku!! Awas kalo nggak!! Kamu nggak boleh pulang..” ancam Tara. Nara memberi sikap hormat pada Tara. “Siap komandan!” seru Nara.
Nara menghampiri kedua sobatnya dan memeluk mereka erat. “I’m gonna miss you girlsssss.....” ucap Nara. Nara memeluk Sabrina dan berbisik, “Kalo ketemu Satya, pukul dia. Dia ada hutang samaku..” Sabrina tertawa. “Aye, Sir!” ucap Sabrina. Nara memeluk Fatih erat. “Jagain temenku yaa.. Jangan dibikin sedih..” Fatih cuma mengangguk sambil tersenyum. Nara melangkah masuk ke dalam bandara untuk check-in. “Aku berangkat yaa...” ucap Nara, lalu masuk tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Polisi bandara wanita menatap Nara yang sedang menahan tangis sambil tersenyum. “Kalau memang ingin nangis, nangis aja.. Ditahan malah akan jadi beban.” sarannya. Nara tersenyum maksa. “Makasih yaa...” sahutnya.
***
Yoga mendengar HPnya bergetar. Buru-buru dia mengeceknya. ‘Aku berangakat yaa.’ Sesak di dada saat melihat pesan itu adalah pesan siaran. Yang berarti, pesan itu tidak hanya untuk dirinya namun juga untuk orang lain. Hpnya bergetar lagi. Dengan malas, dia membacanya. ‘Wish you’ll keep your promise’. Pesan itu bewarna hitam, berarti hanya untuknya. Buru-buru dia mengetikkan balasan, namun balasan itu pending. Yoga menggerutu sebal. Dia menyesal tidak ikut mengantar Nara ke bandara. Tanpa permisi, Fatih masuk ke kamar Yoga dan menggeletakkan badannya  disamping Yoga, kemudian menyerahkan scrap-book kepada Yoga. “Apaan nih?” tanya Yoga, bingung. “Baca aja.. Kalo gue yang nerima itu dari Ghina, sampai mampus juga gue tungguin dia balik..” Fatih memukul-mukul perut rata yoga kemudian melangkah pergi. Yoga langsung mebuka scrap-book itu dan terpesona.
***
Isi scrap-book itu adalah segala hal tentang Nara. Tentang ketakutannya, tentang hobinya, tentang mata pelajaran favorit seklaigus yang paling ingin dia bumihanguskan dari dunia, keluarganya, segala rahasianya, dan.... 3 foto Yoga yang secara candid diambil Nara. Yoga mengerutkan dahinya. Foto-foto itu memang hasil editan Nara, namun.. Kapan Nara mengambil foto-foto itu?? Pada halaman terakhir, tulisan yang terbentuk dari berbagai jenis huruf dari majalah-majalah sangat membuatnya mendadak rindu kepada Nara. Seandainya dia ikut mengantar Nara, dia pasti tidak akan merasa tersiksa seperti ini. Yoga mengacak-acak rambutnya. Apa mau dikata? Nara telah pergi. Meninggalkan dirinya dengan harapan yang tak pasti. Berapa lamakah dia harus menahan rasa galau ini??
***
"Are you done with the day-dreaming? C'mon Nara. You are already 24.. You're mature enough to realize that day-dream is useless.." Emma mengejutkan Nara. Nara tersenyum. "Don't speak it out loud! That's embarrasing.. How's Symoné??" Symoné, adalah nama panggilan untuk mobil VW Emma. "He's okay.. So, are you ready to go home?" tanya Emma. Nara mengangguk. "Come on then.." ajak Emma. Perjalanan menuju bandara San Francisco terasa sangat cepat bagi Nara. Sebentar lagi, dia akan pulang ke rumahnya di Indonesia. Bertemu dengan Papa, Mama, dan Tara yang sudah remaja. Bertemu dengan Ghina yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Fatih, Juwita yang sudah bertunangan dengan Mario, dan menggendong baby Greyson, putra Sabrina dan Satya. Nara kembali mengingat Yoga. Nara menghela nafas. Dia tidak boleh peduli dengan Yoga, karena setiap mengingat Yoga, dia pasti rindu saat-saat bersama Yoga.
 Akhirnya mereka sampai di bandara. Emma menggenggam hand-bag Nara erat. Tidak rela untuk membiarkan Nara pergi. "What?" tanya Nara. "I can't let you go.." jawab Emma. "hahaha. Why?" tanya Nara. "You've been my bestie for 4 years.." jawab Emma. "Em, I'll miss you too.. But I gotta go home. Indonesia misses me.." ucap Nara. Emma tertawa. "Like hell! I'll visit you.. How about that?" tanya Emma. Nara mengangguk. "Sure.. Now let me go.." ucap Nara. Emma menurut. Setelah lepas dari genggaman Emma, Nara masuk ke dalam ruang untuk segera check-in. Buru-buru berlari karena pesawat sudah boarding. Di pesawat, Nara memilih tidur. Perjalanannya pulang ke Jakarta akan memakan waktu yang panjang dan membosankan.
***
 Nara tiba dirumahnya sudah hampir pukul 4 pagi. Nara tidak melihat ada mobil, yang memberi pertanda bahwa Papanya belum pulang. Nara masih ingat kebiasaan keluarganya. Menyembunyikan kunci rumah di bawah pohon kaktus. Perlahan, Nara membuka pagar dan membuka rumahnya.  "SURPRISE!!" seru semua orang. Nara melotot karena kaget. Namun setelah melihat semua teman dan keluarganya, dia kembali ceria. "Aku kangen kaliannnn..." ucap Nara, lalu memeluk mereka satu-satu. "Kamu udah lupa ya sama mobil kita Ra? Papa cuma parkirin di rumah Pak Winto, kamu nggak kepikiran.." ucap Papanya. Nara tertawa. "Aku selama disana, cuma tahu VW doang Papa.." sahut Nara, bercanda, lalu menggendong baby Greyson. "Nara, istirahat dulu yuk.. Nanti, kamu kan bisa main lagi sama Greyson.." saran Mamanya. Nara menurut. "Ra, mau kerjaan?" tanya Mario. Nara menoleh dan mengacungkan jempolnya. "Sippp. Nanti kita omongin yaa" Mario pun mengangguk...






Epilog
Pekerjaan yang diberikan Mario cukup menggiurkan. Mario, yang menjabat sebagai ketua yayasan SMU NUSA BANGSA menggantikan ayahnya meminta Nara untuk hanya memfoto anak-anak SMU NUSA BANGSA dengan bayaran US$500 per jam, karena Nara secara tidak langsung sudah menjadi fotografer bertaraf internasional, karena dia lulusan universitas ternama Amerika.
***
 Yoga sedang menikmati udara di taman sekolah, lalu memandang design lay-out yang sudah dia buat. Dia cukup tidak rela merenovasi taman sekolah, karena menurutnya taman itu punya momen yang membuat dia selalu ingin ke sana. Dia memandang ke arah luar taman dan tertegun. Dia mengenal sosok yang membelakanginya. Rambut keriting itu... NARA! Nara sedang sibuk mengambil foto pohon-pohon sekolah. Yoga merasa ada yang menggelitik dirinya. Rasa rindu, galau, dan senang yang tidak bisa terbendung mendadak meluap. Tangannya gemetaran. Buru-buru dia berlari menghampiri Nara. "Nara?" sapa Yoga. Nara berbalik dan menatap Yoga.
 Nara tidak bisa mempercayai apa yang ada di depan matanya. Dia mengerjap berulang-ulang. Memaksa mata dan hatinya untuk jangan main-main. Namun Yoga tetap berdiri disitu dengan senyuman yang sama.  Tangan Nara gemetar memegang kamera SLRnya. "Yoga??" bisik Nara, pelan. Yoga mengangguk. Nara tidak bisa menahan lagi. Nara langsung memeluk Yoga erat. "I've been missing you for 8 years, cowok egois!!" ucap Nara. Penantian panjangnya terbayar sudah. Janjinya telah dia genapi. Gadis yang sama telah membuat dunianya jungkir balik, gadis yang sama juga lah yang selalu membuat Yoga mengingat Nara setiap matahari bersinar. Sudah kembali untuk menghentikan rasa galaunya. Yoga memeluk Nara lebih erat, seakan tak rela melepaskan gadis itu pergi lagi. Perlahan, Yoga meletakkan kepalanya di atas kepala Nara. Semyuman menghiasi wajahnya. Dia menghela nafas lalu menjawab, "I know, cewek bodoh dan ceroboh.." jawab Yoga, pelan....


I'm so thankful for the moments so glad I got to know ya
The times that we had I'll keep like a photograph
And hold you in my heart forever
I'll always remember you
Nara’s Last Page on Her Scrap-Book

Tidak ada komentar:

Posting Komentar