Prolog
Nara baru saja
selesai mengepak barang-barangnya, kemudian menghela nafas. Genap sudah 8 tahun
dia meneruskan pendidikannya di Amerika. Dia masih mengingat jelas betapa heboh
teman-teman sekolahnya begitu tahu dia berasal dari Indonesia. Betapa ramah dan
menyenangkan sikap mereka padanya. Betapa seru meneruskan sekolah hingga kelas
XII, menemani teman-temannya flirting saat
jam istirahat, bercanda heboh, dan mengikuti berbagai ekstrakulikuler, bahkan
menjadi ketua klub fotografi di Lynnwood
High School. Melihat bakat Nara yang sangat bagus, pimpinan dari Academy of Art University pun berjanji
akan memperpanjang hadiah Nara hingga lulus SMA. 4 tahun di Academy of Art pun, Nara menemukan
banyak teman baru yang seru dan baik. Dia tidak rela pulang ke Jakarta. Kemudian
matanya tertuju pada sebuah pigura. Foto seorang cowok SMA yang sangat berarti
buat Nara. Nara mengambil pigura foto itu, lalu tersenyum. Lamunannya terhenti
saat ada suara yang mengganggu telinganya.
"Nara, when is your flight actually?"
tanya Emma, room-mate Nara. "3.15, Em.
whassup?" tanya Nara. "Is
it okay if we go to SFO in a half past 2? It's cloudy.." jawab Emma.
Nara tersenyum lalu mengangguk. "Oki
doki.. Just make sure that your car is ready. It's kinda annoyed me everytime it strikes.." goda Nara. “When did the last time it strike?? I’m forget..” tanya Emma. “When we are going to the ball for our
graduation party?? Remember?? And we
need for more than 3 hours waiting for the help..” goda Nara. Emma tertawa.
“Okay okay, Ma’am.. It won’t happen
again. I’m promise..” sahut Emma, lalu pergi. Nara kembali memandang pigura
itu, sambil melirik sekilas jam tangannya. Masih jam 2. 30 menit cukuplah untuk
mengenang masa-masa indah di SMA, waktu dia masih di Indonesia dulu...
Sekolah
Baru
Nara menghela nafas
lelah. Inilah efek yang dia terima karena sakit selama masa orientasi. Tidak
tahu dimana dia harus duduk dan siapa pun dikelas itu. Nara memilih keluar dan
menunggu teman-temannya. Untunglah, ketiga sahabatnya memilih sekolah yang sama,
dan sangat beruntung dapat sekelas lagi. Nara menunggu di depan pintu, sambil
menggoyang-goyangkan back-pack miliknya. 'BUKK' Nara menoleh cepat ke arah asal
suara. Seorang cowok yang memakai kacamata memegangi perutnya yang terkena
back-pack Nara. Nara cemas. Dia menatap cowok itu dengan tatapan khawatir dan
berharap dalam hati semoga cowok ini bukan senior yang menyebalkan.
"Maaf ya. Aduhh, sumpah deh
nggak sengaja. Benerannnn. Maaf yaa." Nara menggaruk-garuk rambut
keritingnya dan tampak sangat ketakutan. Namun Nara sempat tertegun. Cowok ini
jelas nyaris sempurna. Garis rahangnya sangat tegas, alisnya tebal, matanya
bewarna cokelat namun tertutup oleh kacamata, tubuh yang tinggi atletis, dan
karisma yang membuat Nara hampir jatuh cinta.
"Mata lo dimana sih?! Jalan luas gini, lo
malah goyang-goyang!" Cowok itu mulai membentak Nara, kasar. Nara langsung
terbangun dari lamunannya. Nara memasang
wajah kesal. Tepat saat Nara mau membalas ucapan kasar cowok itu, seorang cowok
lain--temannya-- mendatanginya.
"Ga, santai aja
kenapa sih?! Kasian banget sih anak baru, udah lo bentak aja. Kasian dia. Baru
mau ngerasain nyamannya SMA ini. Lo gimana sih?! Baru disenggol dikit doang,
marahnya udah sampe kedengeran ke kelas.. Parah banget lo!" ucap seorang
cowok, yang menurut Nara super handsome ini. Cowok yang dipanggil 'Ga' ini cuma
bisa menarik napas kesal. Dia menatap Nara, dengan tatapan dingin dan kemudian
melangkah pergi. "hai! Anak baru ya?" Nara cuma bisa mengangguk.
"Nama gue Fatih Ananda. Yang jutek tadi namanya Yoga Bayuputra. Maafin dia
ya? Dia emang gitu! nyebelin dan suka bentak. Tapi tenang aja, ntar kalo udah
kenal, Yoga tuh baik banget kok" jelas Fatih. Nara memutar bola matanya.
"yea, like he will be nice" gumam Nara, namun terdengar oleh Fatih. Fatih
tertawa. "lo lucu juga ya. ya udah deh, see you very soon junior!" Fatih melambaikan tangannya dan
berlari pergi.
Nara masih kesal. Dia harus tahu dimana kelas
cowok menyebalkan itu! Dia tidak bisa terima kalau dia dipermalukan, padahal
dia masih anak baru yang nggak tahu apa-apa! Nara mencatat jadwal barunya. Dia
duduk sendirian, paling depan dekat meja guru karena 2 sahabat karibnya, Juwita
dan Ghina sudah tercatat duduk bersama sejak masa orientasi. Nara menghela
nafas pelan. Walaupun sahabat-sahabatnya duduk dibelakangnya, namun rasanya
tidak mungkin dia akan ikut bersenang-senang dalam lelucon-lelucon aneh Juwita
atau saat-saat Ghina tidak bisa diajak bercanda.
Jam istirahat tiba.
Nara, Ghina, dan Juwita berjalan menuju cafetaria sekolah. Setelah mengambil
jatah makan mereka, mereka mencari tempat duduk. Dan Nara terkejut bukan main
saat melihat cowok dingin itu duduk di situ juga!
"Mau duduk dimana
nih??" tanya Juwita. "Disitu aja yuk" ajak Ghina. Nara langsung
menggelengkan kepala kuat-kuat. "Nggak mau!! Horor banget sih kalo mesti
disitu. Cari tempat lain ajalah! Kayak bangku di cafetaria ini dikit aja!"
"Mau dimana jeng?? Bangku udah penuh! Mending disitu aja, aman. Ada
kakaknya Ghina" ucap Juwita yang membuat Nara tidak bisa membalas kata-katanya.
"uuhh~ kalian kan tahu tadi gue berantem sama cowok dingin itu?! Nggak mau
ah, liat mukanya!!" Nara pasang wajah ngambek. Tapi 2 sahabatnya tidak
peduli. Mereka terus berjalan menuju meja Yoga dan Fatih, serta kakak Ghina,
Citra.
"Kak, aku numpang makan disini ya?"
tanya Ghina. Sabrina mengangkat kepalanya dari buku Fisika yang super tebal
itu. "OK, you may" Sabrina
dan Fatih tersenyum ramah pada Juwita dan Nara. Namun Yoga?? Yoga tampak
terkejut melihat gadis itu duduk di samping Ghina. "Lo ngapain
disini?!" tanya Yoga, ketus.
Nara menatap Yoga.
Dia baru mau mengisi tenaga yang habis karena habis berantem tadi pagi dengan
Yoga, sekarang sudah diajak berantem lagi?? Cari masalah cowok satu ini!
"Menurut lo, gue ngapain?? Ada sendok ada
mangkuk berisi cream soup, ada air
mineral botol, dan ada susu di nampan makan gue. Pendapat lo gue ngapain?? Apa
perlu gue jelasin tentang pengertian 'makan' secara harafiah??" ucapan
Nara tidak terdengar ketus. Lembut malah. Namun jelas setiap kata yang dia
ucapkan membuat Yoga mendidih.
"Lo masih junior aja nyebelin
banget!" seru Yoga, kesal.
"Sama! Lo senior
tapi rese banget!" balas Nara, emosi. Fatih dan Sabrina yang jarang
melihat Yoga berdebat sangat terhibur. Sementara Juwita dan Ghina yang sudah
mengenal sifat nggak mau kalah Nara, cuma bisa tersenyum simpul.
Dan
akhirnya perdebatan dimenangkan oleh Nara, karena Yoga memilih untuk berdiri
dan pergi.
"bro!
wait up!!" Fatih berdiri dan melangkah pergi. Baru 3 langkah, Fatih
kembali lagi ke meja tadi. "hey
junior! you're the best clown I've ever met!! You're the one who can make Yoga
so mad! Good job!" Fatih mengajak Nara untuk toast dan dia pin
langsung mengejar Yoga.
Nampaknya, sekolah barunya akan memberi Nara
banyak pengalaman baru yang sangat menyenangkan...
Semua
Tentang Yoga
"Jadi, lo bakal
ikut ekskul apa Ra??" tanya Ghina, sambil membaca novel Pride and Prejudice miliknya. Pulang
sekolah, 3 Sekawan itu berkumpul dirumah Nara. Nara yang sibuk membolak-balik
selebaran, menggelengkan kepala.
"Nggak tau..." jawab Nara. Juwita
menarik napas, kesal. "Lo mau ikut apa Ra?? Gue ikut basket, Ghina udah
positif ikut Science Club. Lo
gimana??" tanya Juwita. Nara menggelengkan kepala, bingung.
"ikut fotografi aja gimana?
Lo kan hobi banget tuh foto-foto nggak jelas.." usul Ghina. Nara tersenyum
senang. "boleh boleh! Wahh.. Thanks
ya buat bantuan kalian!!" seru Nara, girang.
"hahaha. sama-sama
Nara.." sahut Ghina. Sementara Juwita sibuk mengemil pop corn yang ada di atas meja. Nara kemudian mengambil kamera SLR
dari lemari dan sangat semangat untuk besok... Mendaftar menjadi anggota klub
fotografi
***
Nara mencari pintu klub fotografi. Begitu
menemukannya, Nara langsung membuka pintu dengan semangat. "Halo" sapa seorang cewek. Nara
tersenyum ramah.
"Hai, kalo mau daftar jadi
anggota gimana caranya ya?" tanya Nara. "Oh, mau daftar? Gampang..
Nih, kamu isi aja formulirnya, besok dibalikkin" ucap cewek itu. Nara
mengangguk semangat. "Oh iya, kenalkan, aku Livi anak XI IPA 2. Kamu?" tanya Livi. Nara tersenyum, "Nara, kelas
X-4" jawab Nara, senang. "OK Nara, besok kamu bawa lagi formulirnya
ya.." ucap Livi. Nara mengangguk dan berbalik.
Baru 2 langkah mendekati pintu, pintu itu
sudah terbuka dan ada seseorang yang melangkah masuk. Jantung Nara terasa
berhenti berdetak. Senyum dan semangatnya pudar, terganti dengan rasa gugup
yang membara. Kenapa sih harus ketemu cowok ini lagi??!!
"Hai, Ga. Dari mana?" tanya Livi.
Yoga menatap Nara sambil menjawab, "Dari lab fisika bentar, nemenin si
Fatih ngerjain PR" Nara menundukkan kepala dengan salah tingkah. Perlahan,
senyum tipis menghiasi wajah Yoga. Tidak tahan dengan suasana aneh ini, Nara
buru-buru menabrak Yoga dan melangkah keluar.
Yoga menatap Livi. "Tadi
siapa?" Livi tersenyum. "Calon anggota baru, Ga. Kenapa?" Yoga
menggeleng, "Nggak papa, penasaran aja" Dan seulas senyum nakal,
menghampiri wajah tampan itu...
***
"So why do you think recount text is needed?"
tanya mrs. Rebecca, guru Bahasa Inggris. Ghina langsung angkat tangan, "Because recount told us about our experience
in the past" jawab Ghina. mrs. Rebecca tersenyum. "Yep, good answer!" pujinya. "So before you leave my class, don't forget
homework, page 9 until 11" dan semua murid pun keluar, untuk mengikuti
pelajaran PE.
'JDEERR' suara petir yang cukup keras
terdengar bersahutan. Para murid yang sudah bersiap untuk olahraga di lapangan out-door terpaksa kecewa. Dengan sangat
terpaksa, mereka bergabung dengan kelas lain di lapangan in-door.
Nara lemas. Sudah bagus tidak jadi olahraga, tapi
malah tetap diadakan. Dan yang membuat Nara makin lemas, ternyata kelasnya
harus gabung dengan kelas XI IPA 1. Nara mengeluh dalam hati, "kenapa
harus kelas ini??!!"
"Ghin, gue tuh
jodoh atau ada ikatan musuh bebuyutan sih sama dia?" bisik Nara pelan di
sela pemanasan. Ghina melirik Nara. "Sama siapa Ra?" tanya Ghina.
Nara menunjuk Yoga dengan lirikan matanya. "Hahahaha" Juwita tertawa
pelan. "Lo jodoh banget tuh sama dia! Berantem, di cafetaria, klub fotografi, dan sekarang disini! Baru 2 hari kita sekolah,
udah nemu gebetan aja lo!" lanjut Juwita. Ghina cuma bisa menggelengkan
kepala, sementara wajah Nara mulai memerah.
Pelajaran PE dimulai dengan basket. Buat
Juwita dan Ghina, itu bukan hal yang sulit. Tapi buat Nara, dia lebih memilih
sakit 3 hari daripada main basket.
"For
this time, let's play it with the seniors!" seru mr. Danu membuat
anak-anak perempuan berteriak senang.
Seruan "Yeay! Fatih!" atau "Yogaaaa!!" menggema di dalam
lapangan. Hanya 3 Sekawan itu yang tampak kalem. "Apa sih bagusnya
Yoga?!" tanya Nara, sebal.
"Gue nggak hobi goyang-goyang dan nabrak
kayak lo!" bisik seorang cowok, tepat di telinga Nara. Nara berbalik. Yoga
sudah berdiri di belakangnya, ditemani dengan sohib setianya, Fatih dan
Sabrina.
"Ghina, kita main basket bareng
yuk!" ajak Fatih. Ghina mengangguk dan pergi. Juwita langsung mengajak
Sabrina. Tinggal Yoga dan Nara.
"Yoga,
wanna play with us?" ajak seorang cewek cantik, blasteran. Yoga
menatap cewek itu dengan tatapan dingin.
"nahhhh~
I'm booked to play with her" Yoga menarik tangan Nara dan membawanya
ke tengah lapangan. Cewek blasteran itu, yang bernama Karren memandang Nara
dengan pandangan ddendam bercampur iri.
Nara menghela nafas, kesal. Yoga sibuk
men-dribble bola itu. mr. Danu menghampiri mereka berdua sambil menggelengkan
kepala.
"Come
on people! play the ball!" perintahnya. Yoga mengangguk, kemudian
menatap Nara.
"Bisa main basket nggak?" tanya
Yoga. Nara menggeleng. "Nggak punya bakat sama sekali dalam basket!"
jawab Nara, lirih. Yoga menatap Nara tepat di manik mata.
"Lo jago dalam hal apa dong?"
pancing Yoga. Nara tersenyum semangat. "Fotografi!" seru Nara senang.
Yoga ikut tersenyum. "Ya udah, anggap aja bola ini momen yang harus lo
tangkap!" Yoga mendekati Nara, kemudian memegang tangan Nara.
"Anggap tangan lo ini adalah kamera dan
bola yang bakal gue pass ke lo adalah momen yang bagus banget!" ucap Yoga.
Nara mengangguk. Dia pun mulai membayangkan dan tersenyum.
"OK! Bisa, bisa!" seru Nara, girang.
Yoga tersenyum. Dia mulai mem-pass bola oranye itu dan ditangkap Nara dengan
baik.
"Ah! Gue bisa!! Ghina, Juwita, gue bisa
nangkep bola!!" teriak Nara, membuat anak-anak kelasnya dan kakak-kakak
kelas tertawa terbahak, serta membuat senyuman di wajah mr. Danu dan......
Yoga.
***
Hujan belum mau berhenti. Nara mengeluh pelan.
"Mau bareng nggak?" tawar Ghina, khawatir. Nara menggeleng.
"Papa mau jemput. Katanya dia dateng abis jemput Tara" sahut Nara.
Ghina mengangguk. "Well then.
Kita duluan ya Ra.." ucap Sabrina.
Nara melirik jam tangan sport miliknya.
"Papa kemana sih?!" gerutunya. Kemudian, ring tone HP Nara bunyi. Nara segera mengangkatnya.
"Papa
dimana?!"
"Papa stuck,
sayang"
"Stuck?!
Terus Tara gimana??"
"Papa stuck
dijalan mau jemput Tara. Air sungainya ngeluap.." Nara menggerutu.
"Pa, Tara nggak bawa HP! Aduhhh.. Kasihan
banget dia!!"
"Jangan marah dong Ra.."
"Nara nggak marah Papa. Ya udah deh, Nara
cari taksi aja!" dan sambungan pun terputus.
Nara mengeluh. Haruskah dia menembus hujan??
Saat sibuk mengambil ancang-ancang, sebuah suara memanggilnya. "Lo mau ngapain?" Nara berhenti.
Cowok ini lagi! "Mau nembus hujan dan cari taksi!" seru Nara.
"Lo nggak dijemput?" tanya Yoga. "Papa kena macet" jawab
Nara. "Dan gue masih harus jemput adik gue" lanjut Nara. Yoga diam.
"Kita nggak ada masalah kan? Gue buru-buru banget soalnya!" tanya
Nara. Yoga akhirnya bergerak. "Bareng aja." ucap Yoga, singkat.
Nara mengerutkan dahi. "Ayo, kita bareng aja" Yoga menarik tangan
Nara, dan menuntun Nara ke mobil Jazz silver miliknya.
Nara menatap mobil Yoga. Wangi mobil itu
sangat maskulin. Mobil itu sangat rapi dan bersih. Yoga menatap Nara. "Mau
pasang musik nggak?" tanya Yoga. Nara mengangguk. "Tolong ambilin
disc di dashboard dong. Pilih aja yang mau lo denger" Nara menatap Yoga.
"Apa aja?" Yoga mengangguk. "OK kalo gitu." Nara membuka
dashboard dan memilih disc. Nara memilih lagu Bruno Mars. "Ini
gimana?" tanya Nara. Yoga tersenyum. "You know what I like" jawaban Yoga menimbulkan semburat merah
di pipi Nara.
***
"Taraaaa!" seru Nara. Tara menatap
Nara. "Papa mana?! Aku lapar banget! Untung aja aku bawa novel Harry Potter!" seru Tara. Nara
spontan memeluk adiknya. "Kamu nggak papa kan Ta? Nggak ada yang
ganggu?" Tara tertawa. "Siapa yang mau ganggu aku coba? Ketua klub karate
gitu.. Kamu parno banget sih?" Tara melepas pelukan dari Nara. Nara pun
mengacak-acak rambut Tara.
"ehemm~ Jadi itu siapa?" lirik Tara
dengan tatapan menggoda. Wajah Nara memerah, kemudian menatap Yoga, dengan
gugup. "Yoga, ini Tara. Tara, ini Yoga.."
Yoga memandang Tara. "Hai" sapa
Yoga. Tara cuma mengangguk. "Kita nggak pulang?" tanya Tara. Nara
mengangguk, kemudian menatap Yoga. "Gue mau pulang.. Makasih ya buat
tebengannya.." ucap Nara. Yoga menggeleng. "Lo pulang bareng gue
aja." sahut Yoga. "Nggak usah, nggak masalah" tolak Nara.
"Lo nggak denger tadi adek lo bilang apa? Dia udah lapar, mau cepat
pulang. Pokoknya, lo pulang bareng gue." tegas Yoga. "uuh! Cowok
egois!" gerutu Nara. "biar, daripada lo? Frauen dumm und leichtsinnig!"
balas Yoga. Tara tertawa keras. "Kak Yoga jahatt~" goda Tara. Yoga
menatap Tara, "bisa bahasa Jerman?" tanya Yoga. Tara mengangguk. Nara
memandang Yoga dan Nara, bergantian.
Wah, cowok menyebalkan dan adeknya berteman?
Pertanda bahaya ini!! Siaga 1, Siaga 1!!
***
Yoga menatap ruang tamu Nara yang sangat
simple dan sangat menggambarkan keramahan keluarga itu. Yoga memandang
foto-foto keluarga Nara, foto-foto Nara dan Tara dari kecil sampai sekarang,
dan piala-piala Nara dan Tara. Perlahan, dia tersenyum.
"nak Yoga, ayo
makan dulu.." ajak Mama Nara. "Nggak usah tante. Nggak papa"
jawab Yoga. Mama Nara memandang Nara yang bersender pada dinding dengan penuh
arti. Nara terpaksa bergerak dan melangkah mendekati Yoga.
"Mama gue mau lo makan. Lo nurutin aja
deh permintaan Mama gue.." bisik Nara. Yoga tersenyum. "Lo sebenernya
nggak mau kan?" tanya Yoga. "Nggak! Cuma, karena lo udah nebengin
gue, ya udah..... Apa boleh buat? Ayo, makan gih!" jawab Nara. Yoga
tersenyum, kemudian mengikuti Nara ke meja makan.
Di meja makan, tersedia berbagai makanan. Ayam
semur, cah kangkung, dan rolade ikan. Yoga duduk di meja makan,
berhadap-hadapan dengan Nara.
Sambil makan, Mama Nara memandang Yoga dan
Nara. Mama Nara tersenyum. "Jadi, nak Yoga ini pacarnya Nara bukan?"
Nara hampir menyemburkan makanannya dan Yoga terbatuk saat minum.
"Bukan Ma! Nggak mungkin lah aku jadian
sama cowok egois kayak dia.." jawab Nara, jujur. "Saya juga nggak
mungkin lah jadian sama cewek ceroboh kayak dia.." balas Yoga.
Mama Nara dan Tara saling berpandangan dan
tersenyum menggoda. "Mama kayak nggak tahu Rara aja. Rara kan gituu.
Malu-malu tapi mauu" goda Tara. "TARA!" seru Nara, malu. Adeknya
ini emang nggak bisa mengerti situasi dan kondisi! Seenaknya aja! Yoga menatap
wajah merah Nara, dan perlahan tersenyum.
"Bilang sama nyokap lo, makasih banyak
ya. Gue kenyang banget. Jarang-jarang gue makan enak gini.." ucap Yoga.
Nara cuma bisa mengangguk.
"Emang dirumah lo nggak pernah makan
rumahan gini?" tanya Nara. Yoga menggeleng. "Nggak selalu. Tapi
jarang banget bisa makan itu.." jawab Yoga. Nara mengangguk. "eh,
makasih buat tumpangannya tadi" kata Nara, sedikit canggung dengan suasana
ini. "iya, sama-sama. Gue pulang dulu ya..." baru membuka pintu
mobil, Yoga menatap Nara lagi. "Besok anak klub fotografi kumpul. Jangan
lupa, habis pulang sekolah" ucap Yoga. Nara mengangguk. "Sip. Tenang
aja!"
Yoga melangkah masuk ke mobil, dan membawanya
pergi. Dalam mobil, Yoga mengacak-acak rambutnya. Kenapa bayangan Nara mendadak
memenuhi kepalanya?? Kenapa dia merasa tidak akan melupakan wangi bunga Nara??
Dia tidak boleh merasakan jatuh cinta! Dia sedang mati rasa dengan semua jenis
perempuan!!! Namun, apakah dia benar-benar sedang mati rasa???
Bukan
Mati Rasa
Nara mengejarkan PR dengan penuh
konsentrasi. Matanya melirik soal-soal yang tersedia di buku cetak, sementara
tangannya sibuk mencorat-coret rumus. Mama Nara memperhatikan putri sulungnya
dengan penuh kasih sayang. Dia ingat betapa besar perjuangan Nara untuk dapat
masuk ke SMA bergengsi seperti SMU Nusa Bangsa. Mama Nara memilih untuk
mendekati putrinya yang sedang dalam masa pubertas.
“Rara, lagi apa??” Nara menoleh.
Mamanya sedang tersenyum penuh kasih sayang kepada Nara. “Ngerjain PR Fisika Ma. Walaupun Rara
nggak suka pelajarannya, tapi kan paling nggak jangan sampai keliatan banget
nggak sukanya” jawab Nara.
“Mama tadi perhatikan kamu gugup
sekali dengan cowok itu.. Dia siapa sih?? Rara mau cerita sama Mama??” Wajah
Nara memerah lagi. Kenapa sih belakangan ini wajahnya sering memerah??!! “Dia
senior Rara Ma. Dia orang pertama yang Rara liat di sekolah. Jujur aja, Nara
sempat suka liat dia.. Secara gitu kan, dia cakep banget dan karismanya terasa
banget.. Tapi karena dibentak sama dia, Rara jadi sebal sama dia. Kalo ketemu,
kita pasti bertengkar terus. Tapi Ma, Rara ngerasa yang anehh.. Rara suka pas
bertengkar sama dia! Rara kenapa ya Ma????” inilah pemandangan yang paling
disukai Mama Nara. Keluguan putrinya sering kali membuatnya gemas.
“Rara suka kali sama dia??” goda Mama
Nara. Nara spontan tertawa. “Apa Ma??! Rara suka sama cowok galak itu?? Wahh,
Mama salah banget deh!!” bantah Nara. “lahh, Mama kan Cuma berpendapat...”
Mamanya tersenyum menggoda. “MAMA!!!” seru Nara, dengan wajah yang merah
seperti tomat matang.
***
Kelas X-4 sedang sibuk observasi
diluar kelas. Memandangi tanaman-tanaman disekitar sambil mencatat tentang
keadaan tanaman itu. 3 Sekawan itu sibuk memandangi bunga mawar yang tumbuh
subur di taman sekolah dan sering kali disalahgunakan menjadi bunga untuk
menyatakan cinta. “Ra, petik satu deh bunga mawarnya” pinta Juwita. Nara yang
sedang sibuk menggambar rupa bunga mawar itu mengerutkan dahi. “Buat apa??”
tanya Nara. Juwita dan Ghina kompak memutar bola mata mereka. Inilah momen yang
paling mereka tidak suka dari Nara. Lemah otaknya!
“buat diteliti, Nara Ragil Aditya!!!
Astaga, gue ragu. Sebenernya lo masuk sini beneran atau nyogok sih?!” tanya
Juwita, kesal. Ghina tertawa. “Udah jangan gara-gara ini kita berantem. Udah
Ra. Petik aja satu..” pinta Ghina. Nara mengangguk dan berusaha memetik satu
mawar yang jarang duri. Namun... “aw!” seru Nara. Goresan di jari telunjuknya
mengeluarkan darah segar. “Ra, lo nggak papa??” tanya Ghina, cemas. Nara
menggeleng. “Lo ke UKS aja sana! Ntar infeksi lho!!” seru Ghina. “Bener??”
tanya Nara. “Iyaaa.. Sana minta izin sama ms. Devi!” seru Juwita. Nara
mengangguk dan buru-buru minta izin ke ms. Devi.
Nara memandang UKS dengan penuh kagum.
Memang SMU bergengsi! UKS aja luas banget!! Nara melangkah ke kotak P3K, saat
dia melewati tempat-tempat tidur dan melihat Fatih tertidur. Nara melupakan luka
telunjuknya dan menghampiri Fatih yang tertidur. Baru mau memandangi wajah
tampan Fatih, lagi-lagi suara itu mengejutkannya.
“Fatih udah suka sama Ghina. Lo nggak
akan bisa ngerubah itu!” ucap suara itu, pelan. Nara berbalik dan menatap cowok
itu untuk kesekian kalinya. Apakah ini takdir atau kebetulan?? Nara melewati
Yoga dan mengambil plester untuk menutupi lukanya. “Lo kenapa??” tanya Yoga. “Luka nggak sengaja kena duri bunga
mawar..” jawab Nara. Yoga mengangguk, kemudia melirik Nara. Niat isengnya mulai
tumbuh lagi.
“Kita kayaknya ketemu terus yaa?
Jangan-jangan kita jodoh lagii” goda Yoga. Nara mendelik. “Jodoh apaan?? Ogah
banget punya jodoh galak dan menyebalkan kayak lo! Udah gitu kayak hantu tahu
nggak?? Muncul tiba-tiba.. Hobinya bisik-bisik kayak nggak bisa ngomong kenceng
aja!” ucap Nara, sebal. Kenapa sih cowok ini jago membuatnya marah?! Seruan
Nara membuat Fatih terbangun. Namun
melihat Nara dan Yoga sedang sibuk berdebat, Fatih memilih untuk pura-pura
tidur, namun dalam hati menikmati perdebatan mereka.
Nara melangkah keluar UKS. “Jangan
lupa ngumpul!” seru Yoga. Nara memandang Yoga sekilas kemudian memeletkan
lidahnya. Yoga tidak bisa menahan tawa. Tingkah Nara persis seperti anak
berumur 5 tahun. Yoga melangkah mendekati tempat tidur Fatih dengan penuh
senyuman. “Udah nggak mati rasa bos??” tanya Fatih, sambil tetap tutup mata.
Yoga terkejut. Fatih membuka mata dan kemudian terkekeh pelan. “Lo cocok banget
sih sama junior satu itu. Lo nggak pernah tuh sebahagia pas sama gue, Sabrina,
atau Isna...” Yoga menatap Fatih, tajam. “Nggak usah sebut-sebut nama Isna
lagi!” tegur Yoga, galak. Fatih meringis. “Sorry
bro. Maaf banget” ucap Fatih. Yoga
mengangguk kaku. “Jadi, kapan gue bisa nimpuk kepala lo yang bebal itu?” Yoga
menatap Fatih, bingung.”Jujur aja deh.. Lo suka kan sama Nara?" lanjutnya.
Yoga diam, namun wajahnya mulai memerah. Persis seperti yang seing terjadi pada
Nara. “Ya elah.. Kita udah temenan lama, bos. Nggak usah ngomong juga gue pasti
tahu. Sabrina aja kemaren sampai ngajakin gue taruhan, apa lo suka atau nggak
sama Nara. Bayangkan betapa mudahnya ekspresi lo itu bisa terbaca.. Bego banget
yang bilang kalo lo itu dingin dan nggak punya belas kasihan dan perasaan..”
jelas Fatih, dengan nada menggoda.
“Gue mati rasa, bro.. You know it very well!”
bantah Yoga. Fatih menggeleng. “Kepala gue baru kena timpuk bola aja bisa tahu
kalo lo suka sama Nara! Gimana kalo pas gue dalam keadaan sehat dan hyperactive??” goda Fatih. Yoga
menggelengkan kepala. “Gue mati rasa. Titik.” Fatih tertawa terbahak. Karren
baru mau masuk untuk mengunjungi Fatih. Mendengar percakapan Fatih dan Yoga
membuatnya marah dan yakin bahwa dia harus melabrak Nara.
***
Diajak Karren, dengan alasan dipanggil
Yoga menimbulkan kecurigaan kepada Juwita dan Ghina. Buru-buru mereka berdua
mencari Sabrina, yang ternyata juga sedang sibuk mencari 5 anggota cheerleader yang belum datang. Mereka
makin khawatir karena nama Karren masuk dalam anggota cheers yang hilang. “Ayo kita cari Yoga dan Fatih. Mana tahu mereka
liat..” ajak Sabrina, berusaha postif.
Nara memandang telur-telur yang
dipegang oleh geng Karren. “Lo harus diberi pelajaran! Jangan karena Yoga baik
sama lo, lo jadi ngerasa penting!!” seru Karen. “Dekat gimana??!! Gue kan
berantem mulu sama dia!!” bantah Nara. Karren mengibas-ngibaskan tangannya. “Never lie to me!!” seru Karren, marah. “girls, silakan acara utamanya kita
mulai..” ucap Karren. “NO! NO! NO! NO! NO! NO! NO!!!!” seru Nara. Namun
terlambat. Telur-telur itu sudah melayang mengenai seragam, rambut, tangan, sepatu,
dan semua bagian tubuh Nara tanpa terkecuali. Nara meringis. Telur itu keras.
Terasa seperti batu-batu kerikil yang memukul badannya. Baunya amis. TUHAN, dia
harus gimana untuk pulang??? “STOP!!!” seru sebuah suara. Karren dan gengnya
menoleh. Yoga tampak terengah-engah. “Ngapain kalian semua??!!!” tanya Yoga
dengan nada tinggi. Karren dan gengnya terdiam. Yoga mendekati Nara, yang sudah
jatuh terduduk. Kemudian memberikan jaketnya kepada Nara. Nara menatap Yoga.
Tatapan Nara membuat hati Yoga teriris. Begitu rapuh dan ketakutan. Air mata
Nara menunjukkan bahwa dia menderita. “Ayo, gue antar lo pulang..” Yoga memapah
Nara dan memberikan kode kepada Sabrina dan Fatih. “Girls, kalian resmi bukan anggota cheers lagi!!” putus Sabrina. Sementara Fatih menunjukkan iPhone miliknya. “don’t be so scared girls. You’ll be very popular tomorrow in school’s
web” Sabrina dan Fatih pun toast
kemudian meninggalkan Karren dan gengnya. “Makasih Kakak..” ucap Ghina, sambil
tersenyum. “Sama-sama..” sahut Sabrina. Fatih
yang melihat senyuman Ghina pun semakin meleleh.
“Mobil lo bau gue..” gumam Nara,
pelan. Yoga memandang Nara. “Nggak papa.. Tenang aja..” sahut Yoga. “Kita mau
kemana??” tanya Nara. “Ke rumah gue. Lo mandi dan bersih-bersih sampe lo wangi
dirumah gue. Nyokap lo pasti bakal dendam kesumat kalo tahu anaknya kena timpuk
telur karena gue..” jawab Yoga. Nara sudah terlalu lemas. Dia tidak bisa
membantah lagi. Dia pun setengah sadar saat Yoga memapahnya ke dalam rumah
Yoga. “Ra, lo mandi dulu yaa??” Nara cuma bisa mengangguk dan melangkah pelan
ke kamar mandi dan memulai aktivitas mandi dan membersihkan bau amis telur dari
tubuhnya.
1 setengah jam berlalu. Yoga sedang
menonton kartun tentang 2 anak laki-laki yang menghabiskan liburan musim
panasnya dengan menciptakan hal-hal aneh, sementara kakak perempuan mereka
sibuk berusaha membuat mereka tertangkap basah oleh ibu mereka. Nara keluar
dari kamar Yoga, dengan mengenakan T-Shirt
yang kepanjangan di badan Nara dengan celana training.”Ga, lo nggak punya baju yang lebih panjang nggak? Kaos lo
yang ini Cuma sepanjang paha gue.. Yang semata kaki nggak punya??” tanya Nara,
polos. Yoga menatap Nara. Dia tidak bisa menahan senyum. “hahahahaha. Mau kaos
yang segitu??” goda Yoga. “Mau banget! Taruhan deh sama gue! Ini pasti dress cewek yang lo paksa buat jadi kaos
di badan lo!” ejek Nara. Yoga tertawa terbahak. Dia tidak menyangka akan
menikmati obrolan dengan Nara ini. “Makan yuk Ra..” ajak Yoga. Nara tampak
ragu. “Kenapa Ra??” tanya Yoga, ramah. “Lo tiba-tiba baik gini sama gue.. Lo
ngaku mau ngapain gue??!” tuduh Nara. “Gue emang baik Ra! Lo aja yang
nyebelin..” balas Yoga. Nara memasang wajah sebal. “Gue pulang aja deh mending
sekarang!” Yoga tertawa. “Bercanda Ra. Bercanda..” Yoga menarik tangan Nara
menuju meja makan. Nara teringat kata-kata Fatih. Yaa, tampaknya Yoga memang
sebaik apa yang dikatakan Fatih. “hahaha. Ayo makan dulu” ajak Yoga. Nara
mengangguk.
***
Di meja makan sudah tersedia banyak
pilihan makanan. Perut Nara makin keroncongan. “Gue tadi suruh pembantu buat masak.. Lo kan
suka makanan kayak gini.. Yuk, kita makan..” ajak Yoga. Nara dan Yoga pun makan
dalam diam. Tidak ada suara. Nara yang biasanya rebutan lauk dengan Tara, hanya
bisa diam. Mau tambah, tapi gengsi. Yoga melirik Nara lalu tersenyum.
"Lo mau? Ambil aja lagi.. Rumah sepi kok.
Daripada dibuang, mending lo makan.." ucap Yoga. Nara menatap Yoga sambil
meringis malu. Dilihatnya sepiring perkedel dibiarkan begitu saja.
"Lo nggak makan perkedel?" tanya
Nara. Yoga menggeleng. "Nggak suka. Nggak enak.." jawab Yoga. Nara
menatap Yoga. "Enak tahu!" Nara mengambil satu perkedel dan menatap
Yoga.
"aaaa..." ucap Nara. Yoga tampak
kesal. "Apa sih?!" tolak Yoga. Nara tetap memaksa Yoga membuka
mulutnya. Terpaksa, Yoga menurut. Perlahan, dia mengunyah perkedel itu.
"Enak kan? Kalo lo nggak makan perkedel,
lo nggak boleh masuk ke rumah gue tahu nggak??! Orang rumah tuh doyan banget
sama perkedel. Gue aja sering rebutan sama Tara.." jelas Nara, semangat.
Yoga tertawa. Betapa polosnya gadis ini. Nara merasa ada yang aneh dirumah itu.
Terlalu suram dan sepi.
"Orang tua lo kemana?" tanya Nara.
Yoga tidak berekspresi. "Pada kerja semua. Mereka aja nggak tau kalo gue
kenapa-kenapa. Rumah udah kayak kuburan aja.." jawab Yoga, ketus.
"Tapi rumah lo besar banget! 2 kali rumah
gue mungkin ada kali yaa??" puji Nara, benar-benar kagum.
Nara berdiri dan menyusun piring-piring kotor
di bak cucian. Setelah itu, Yoga mengajak Nara berkeliling. Mata Nara berhenti
pada sebuah foto yang dibingkai dengan pigura berbentuk hati.
"Ini siapa, Ga??" tanya Nara. Yoga
memandang foto itu dan mengambilnya, kemudian mengambil foto itu dan
melemparnya ke tempat sampah.
"Ga?" panggil Nara.
"Ayo, gue antar lo pulang..." putus
Yoga.
***
Pulang mengantar Nara, Yoga mengambil foto itu
dari tempat sampah. Wajah gadis yang memiliki senyum manis. Gadis yang pernah
membuat dia bahagia. Yoga menghela nafas, kesal. Gadis itu cuma masa lalu.
Gadis yang bernama Isna Firstiana itu MEMANG masa lalu. Dia sedang mati rasa
dengan yang namanya perempuan.
Namun, ada perasaan yang aneh pada Nara. Apa
ini? Apa perasaan ini namanya bukan mati rasa???
Dunia Fantasi
Jumat malam. Rumah Ghina. Ghina akan
diajak Fatih kencan di DUFAN. Ghina, yang memang juga memiliki perasaan untuk
Fatih, mengangguk setuju.
Dan karena itu, Ghina sibuk sekali. Ghina
mengacak-acak lemari bajunya. Beda dengan kakaknya yang fashionable, Ghina
lembih simple dan cuek. Tiba-tiba diajak nge-date begini, berhasil membuat
Ghina amburadul.
"Ini gimana?" tanya Ghina. Dia
mengenakan hot pants dengan T-Shirt. Nara, Juwita, dan Sabrina
kompak menggeleng. "Nggak!" seru mereka.
Ghina merengut kemudian memilih lagi. Kemudian
melangkah keluar dengan memakai kemeja dengan bahan lace dan rok mini. Ditambah dengan ripped stocking dan heels.
"Ini gimana?" tanya Ghina. Mereka kembali menggeleng.
"You're
going to have fun! Not being this awkward!" seru Sabrina. Ghina duduk
dan menatap kakak dan sahabat-sahabatnya.
"Aku kan bukan Kakak. Aku bukan cewek
feminin kayak Kakak. Kakak sih enak. Cantik, fashionable, ratu cheers
lagi!" ucap Ghina, lirih. Juwita
mengangguk. "hhmm, gimana kalo Kakak bantuin dia aja pilih baju??
Katanya calon fashion designer.."
tantang Juwita. Sabrina tersenyum, lalu mengangguk menerima tantangan Juwita.
"Do
you want to be feminime or casual, ms.
Lellan?" tanya Sabrina. Ghina tertawa. "I want to be me, please.." jawab Ghina. Sabrina mengangguk dan
kemudian tersenyum. "OK, then.."
sahut Sabrina.
***
Sabtu pagi. Fatih dan Yoga sudah menunggu di
ruang tamu. Fatih tampak gugup sementara Yoga sibuk memainkan HP-nya.
"Ga, gue gugup nih. Gue masih cakep
kan?" tanya Fatih. Yoga mengangguk, tanpa memandang Fatih. Fatih
sebal. “YOGA!” seru Fatih. Yoga menatap
Fatih. “Apa?!” tanya Yoga. “Lo nyebelin tahu nggak? Kayak orang autis! Apa sih
untungnya main HP mulu? Mending lo berusaha meyakinkan diri buat nembak Nara!”
ejek Fatih. Yoga langsung melempar bantal ke badan Fatih.
“hahaha. Salting kan lo! Udah sana, makanya
tembak dia.. Payah, payah..” Fatih semakin semangat menghina Yoga. Yoga
melempar bantal lagi. Fatih dan Yoga tertawa.
“When do
you guys stop being childish?” tanya Sabrina. Yoga dan Fatih meringis.
Sabrina memang udah seperti ibu untuk mereka berdua. “Ghina mana?” tanya Fatih.
“Ada.. Tenang aja, gue nggak bakal ngumpetin adek gue dari lo..” goda Sabrina,
yang tampak makin fashionable dengan
T-Shirt lengan panjang puth garis kuning, hot pants dan ankle boots..
Dan keluarlah 3 Sekawan itu Juwita tampak cuek
mengenakan T-Shirt putih polos dengan
sweater hitam garis putih, dan pipe-jeans
dengan oxford shoes warna cokelat
muda. Fatih melongo saat melihat gadis
yang ditaksirnya keluar dari kamar. Ghina tampak sangat manis dengan floral dress selutut bewarna pink dan cardigan putih, dengan flat shoes warna pink. Dan Yoga pun
ikutan dibuat kagum dengan pakaian Nara yang —menurutnya—sangat manis. Nara
memakai T-Shirt warna pink dengan pipe jeans bewarna biru, dia memakai sepatu kets bewarna biru tua.
“Let’s
go!” seru Fatih, dengan semangat membara a la orang yang sedang jatuh
cinta.
***
Mereka
naik mobil terpisah. Fatih dengan Ghina, di sedan bewarna merah. Juwita dan
Sabrina, di SUV bewarna hitam. Dan Nara bersama Yoga di mobil Jazz miliknya.
Nara cuma bisa merengut sambil memandang
jendela di mobil. Yoga melirik Nara. "Lo kenapa?" tanya Yoga. "
nggak papa. Cuma merhatiin langit. Gelap. Kayaknya mau hujan. Nggak
bagus.." jawab Nara. "Lo nggak suka hujan?" Nara menggeleng.
"Nggak.. Hujan tuh nggak sehat. Bikin sakit. Bikin banjir dimana-mana.
Enakkan juga panas. Matahari tuh bikin semangat, walaupun panas!" seru
Nara.
Yoga menatap Nara. "Gue lebih suka hujan.
Hujan tuh bikin hati jadi teduh. Bikin gue galau" ucap Yoga. Nara tertawa.
"Galau kok suka sih?! Galau itu adalah hal yang paling menyebalkan yang
pernah gue alami!" balas Nara. Yoga kini menatap Nara.
"Emang lo pernah galau?" tanya Yoga,
penasaran. Nara mendelik sebal pada Yoga.
"Menghina! Emang gue robot, nggak punya
perasaan?! Pernah lah galau! Pas hujan lagi. Bikin gue makin sebel aja sama
musim hujan!" jawab Nara.
Yoga menatap Nara. Secara fisik, Nara memang
tidak bisa dikategorikan cantik. Biasa saja malah. Namun wajahnya yang lengkap
dengan 2 lesung pipi, membuat Nara tampak manis dan menggemaskan.
"Emang lo diapain sama hujan??" Yoga
masih penasaran. Nara tertawa. "bukan sama hujan! Sama seorang cowok
jahat!! Gue dulu suka banget sama cowok itu. Pas kita jadian, dia minta jangan
sampai ada yang tahu dengan status kita. Ya udah, karena gue cinta mati sama dia...
Gue turutin. Kita pacaran ngumpet-ngumpet, biar orang nggak tahu. Tapi, suatu
hari dia bertindak menyebalkan! Pas lagi hujan deras dan gue ngharep dia ngajak
gue pulang bareng, dia malah nawarin cewek lain! Gue ditinggal sama dia,
padahal dia liat gue!! Sumpah.. Habis itu gue nangis dirumah!! Gue hapus
sms-sms dia dan gue robek semua foto dia!" cerita Nara, berapi-api.
"Terus??"
"Besoknya, dia gue kerjain. Biarin kena
karma.. Gue traktir dia makan mie ayam tapi gue taruh 10 sendok sambel. Setelah
itu, dia nggak masuk seminggu karena diare!" cerita Nara, semangat.
Yoga tertawa. "Jadi cuma karena itu lo
benci sama hujan?" Nara menggeleng. "Benci sih nggak... Cuma ill-feel aja.. Tahu nggak? Kalo pas
hujan, Ghina sama Juwita harus tahan emosi sama gue. Karena biasanya pas hujan,
mood gue tuh bagus banget buat diajak
berantem..." jelas Nara. Yoga tertawa.
Betapa manisnya gadis ini! Yoga rasanya ingin
memeluk Nara kuat-kuat sampai dia lelah. Namun Yoga tahu, dia harus mampu
menahannya
***
Gerimis-gerimis kecil tidak terlalu
mengganggu kegiatan yang mereka lakukan. Namun, untuk mencegah sakit mereka
memilih makan siang lebih dulu. Sesuai dugaan, Nara merengut. Dia benci segala
bentuk hujan! Gerimis lah. Hujan panas lah. Apalagi hujan deras.
Juwita dan Ghina sudah mengingatkan yang lain
agar tidak mengganggu Nara. Tapi, Yoga tidak peduli. Dia pun memulai
perbedatan.
"Muka lo nggak usah begitu! Nggak
banget!" Nara menatap Yoga.
"Diem deh! Berisik!" balas Nara,
ketus.
"Ini bukan hujan tahu! Ini namanya
gerimis! Bedain dong antara gerimis dan hujan!" ucap Yoga.
"Gerimis itu kan awal dari hujan!"
sahut Nara.
"Beda! Gerimis itu rintik-rintik! Hujan
itu kayak tumpahan air!"
"Bodo! Pokoknya dimata gue, hujan dan
gerimis itu sama!"
"Kok bisa ada sih cewek bodoh kayak
lo?!"
"Biar! Daripada lo, egois! Nggak mau
ngalah!"
Fatih dan Ghina memilih untuk menahan senyum
mereka. Sementara Juwita dan Sabrina sudah tertawa keras, membuat Yoga dan Nara
memandang mereka.
"Apa yang lucu?!" tanya mereka
kompak.
"You
guys.." jawab Sabrina.
"Kalian kayak Tom and Jerry, tahu nggak? Berantem terus! Nggak pernah sekali
damai..." tambah Juwita.
"Tapi, dalam hati yang paling dalam,
mereka saling peduli dan menyayangi.." goda Fatih, lalu toast dengan
Sabrina dan Juwita.
"Mending kalian jujur sama diri sendiri
deh.. Kalian itu serasi banget" Ghina tersenyum. Nara dan Yoga saling
berpandangan. Mereka memasang wajah tidak suka, namun dalam hati.. Mereka
merasa jantung mereka berdebar kencang....
***
Fatih dan Ghina duduk di bianglala. Ghina
menatap pemandangan yang sangat indah itu, sementara Fatih tampak sangat gugup.
Fatih menunggu hingga bianglala berhenti di puncak. Beberapa saat kemudian,
bianglala sudah berhenti di puncak. Ghina tampak ketakutan sekaligus kagum.
"Ghina.." panggil Fatih. Ghina
menoleh, lalu tersenyum.
"Ya?" tanya Ghina.
"hhmm~ mungkin kamu udah tahu apa maksud
aku ngajak kamu ke sini dan naik bianglala"
"Sepertinya begitu..." Ghina masih
tetap tersenyum. Bianglala sudah bergerak turun.
"Lalu?? Apa respon kamu?" tanya
Fatih.
"Well,
you knew it..." jawab Ghina, wajahnya mulai memerah. Fatih tertawa
keras. Lalu spontan memeluk Ghina. "I
guess I'm in love!!" seru Fatih. Ghina tertawa bahagia.
***
Nara, Juwita, Sabrina, dan Yoga sudah menunggu
di bawah. Begitu Fatih dan Ghina keluar, Nara dan Juwita langsung menyerbu
Ghina.
"Jadi?" tanya Juwita. Ghina cuma
diam, namun wajahnya memerah. "AAAHH! Congrats!!"
seru Nara dan Juwita, lalu mereka berpelukan.
Sabrina dan Yoga menepuk pundak Fatih.
"Selamat yaa" ucap Yoga. Fatih tersenyum.
"Jadi, kapan lo bilang ke dia kalo lo
suka sama dia??" tanya Fatih sambil melirik Nara dengan matanya. Yoga
terdiam.
"It's
already obvious that you're into her, lil' fella.." tambah Sabrina.
Yoga meringis malu.
"Banget yaa??" tanya Yoga.
Sabrina menatap sobat yang paling dia sayang itu. "Gue nggak mau liat lo
mati rasa lama-lama. She's gone. Dia nggak layak lo galauin. Dia udah jadi masa
lalu" Sabrina melirik Nara. "Dan lagi, Nara manis kok. Gue udah kenal
dia lama. You guys are just a perfect
mates.." lanjut Sabrina, sambil tersenyum. Yoga menatap Sabrina, lalu
tersenyum lembut.
"Makasih yaa.." Dan Yoga pun
menghampiri Nara, kemudian mengajak gadis itu pulang.
***
Nara sudah tertidur begitu masuk mobil.
Perlahan, sambil memasangkan seat belt pada Nara, Yoga mendengar suara Nara
mendengkur.
"Dasar gadis bodoh dan ceroboh.."
gumamnya pelan.
Yoga memandang Nara, ragu-ragu. Pelan, dia
mendekatkan wajahnya ke wajah Nara. Kemudian mengecup bibir gadis itu lembut.
Beberapa detik kemudian, Yoga mengangkat wajahnya dan menyentuh bibirnya,
dengan senyuman...
***
Tara masih bangun saat Yoga menggendong Nara,
masuk ke kamar.
"Belum tidur Ta?" tanya Yoga. Tara
menggeleng. "Aku nggak bisa tidur kalo nggak ada Nara.. Hehehe" jawab
Tara. Yoga memandang Mama Nara, lalu tersenyum. "Tante, saya permisi
pulang yaa. Salam buat Oom.." ucap Yoga, lalu melangkah pergi.
"Dia cakep yaa?" tanya Mama Nara,
sebelum menyusul Yoga. "Dia super
charming Mam! Sumpah!" jawab Tara, senang.
Di dalam mobil, Yoga kembali mengacak
rambutnya. Melepas kacamatanya dan mengusap-usap wajahnya kasar. Wajah Yoga
perlahan memerah! Gadis yang bernama Nara itu, sukses membuat dunianya jungkir
balik! Yoga merasa bahwa dia sedang kasmaran, dan dia sangat menikmati itu...
Gadis Baru
Yoga seterkejut yang bisa dia
pikirkan. Dia melepas kacamatamya kemudian memasangnya kembali. Baru beberapa
hari yang lalu, dia meyakinkan dirinya kalau dia sedang kasmaran dengan Nara.
Namun mengapa gadis ini harus kembali? Gadis itu berdiri kemudian menghampiri
Yoga dan memeluknya.
"I
missed you a lott.." bisik gadis itu. Yoga diam. Tidak bisa
berkata-kata kecuali, "You??"
balas Yoga.
***
Fatih memandang Yoga dengan prihatin, sambil
makan di cafetaria.
"Lo nggak papa?" tanya Fatih. "Menurut lo?? Pas gue udah
yakin tentang perasaan gue sama cewek lain... Dia dateng lagi! Hebat! Dan Isna
nggak cerita ke gue kalo dia udah balik dari London.." lanjut Yoga, kesal.
Di kejauhan, tampak Nara, Juwita, dan Ghina sedang makan.
"Gue masih sayang sama Isna... Tapi, gue
kayaknya juga lagi suka sama Nara..." ucap Yoga, galau.
"Come on, bro.. Who do you like
better?" tanya Fatih, prihatin.
"Dunno....."
jawab Yoga, sambil memandang Nara yang sedang tertawa karena lelucon Juwita...
***
Nara cuma bisa melongo saat melihat
ada seorang gadis cantik yang mengikuti kemana pun Yoga pergi. Kemana pun Yoga
melangkah, gadis itu selalu ikut. Nara mulai sebal. Dia mendekati Livi, senior
di klub fotografi.
"Itu siapa sih?" tanya Nara, sambil
melirik Isna. Livi mengangkat bahunya.
"Nggak tahu juga deh. Tapi yang aku
denger dari anak-anak lain, katanya dia itu cewek yang disayangi sama Yoga.
Cuma, pas SMP, cewek itu dilabrak Karren, jadi dia pindah ke London" jawab
Livi.
"Namanya siapa?" tanya Nara,
penasaran.
"Isna Firstiana..." jawab gadis itu.
Nara dan Livi mendongak.
"Hai, aku Isna.." sapa Isna. Nara
tampak gugup. Ada aura yang jelas sekali dalam gadis itu. "Hai, gue
Nara" sapa Nara.
Yoga memandang Nara dan Nara membalas pandangan
itu sekilas lalu. Yoga menunduk. Berpura-pura membersihkan kamera SLR miliknya.
Yoga resah. Sepertinya, Nara sedang marah padanya...
***
Fatih tampak sangat sebal. Mau tidak mau, dia
pindah duduk sebangku dengan Sabrina. Isna memilih duduk sebangku dengan Yoga.
Fatih membanting buku cetak biologinya. Membuat semua anak memperhatikan dia.
"Apa lo pada liat-liat?! Nggak
suka??!" tanya Fatih, keras.
"Fatih.." tegur Sabrina. Fatih
memandang Sabrina.
"Biarin.. Biar tuh bocah tahu gue lagi
kesel sama dia.." sindir Fatih, tajam. Yoga memandang Isna. "Kamu
pindah aja deh... Aku nggak enak sama Fatih." Isna memandang Fatih
sekilas. "Biarin.. Aku kan kangen sama kamu..." ucap Isna, lalu
merangkul tangan Yoga.
***
Dan begitulah waktu berlalu. Nara semakin
sebal, karena setiap memandang Yoga,
pasti ada Isna. Fatih dan Sabrina memilih untuk menghindari Yoga dan makan
bareng sama 3 Sekawan itu.
Ghina memandang Nara yang cuma mengaduk-aduk
kuah sup ayamnya, sambil memandang sebal ke arah Isna yang sok mesra dengan
Yoga.
"Kenapa Ra?" tanya Ghina. "BT..."
jawab Nara, singkat. "BT karena jealous
yaa??" goda Fatih. Tingkat kesensitifan Nara tersinggung. Dia membanting
sendok sup, lalu berdiri. "Diem deh! Jangan sok tahu!" seru Nara,
hingga terdengar oleh Yoga. Nara melangkah pergi. Ghina menyenggol lengan
Fatih.
"Kamu sihh" gerutu Ghina. "Kan
nggak hujan, jadi aku kira nggak masalah.." sahut Fatih, yang disambut
dengan jitakan pelan dari Sabrina.
Yoga tetap tersenyum saat bersama Isna, namun
hatinya resah. Apakah Nara marah karena cemburu dengan Isna????
Tanpa Sebab
Pengumuman tentang diklat klub
fotografi membuat Nara melongo. 2 hari! Yang benar saja! 2 hari ngeliatin Yoga
dan Isna??! Bencana!!
"Lo ikut kan?" Nara terlonjak kaget.
Dia berbalik dan memandang Yoga sedang menatapnya tajam.
"Kalo gue nggak mau gimana?" tanya
Nara.
"Wajib buat anggota klub.." jawab
Yoga.
"Kalo gue sakit gimana?"
"Gue nggak bodoh kayak lo! Gue nggak akan
percaya..." jawab Yoga. Nara melangkah pergi.
"Nara Ragil Aditya!" panggil Yoga.
Nara berhenti.
"Apa?"
"Lo harus ikut diklat! Kalo nggak ikut,
lo nggak boleh ikut kegiatan ekskul fotografi.." ancam Yoga. Nara berbalik
dan terus melangkah pergi.
***
Nara berdiri di depan sekolah bersama Livi.
"Nanti aku duduk bareng kakak yaa??" pinta Nara. Livi mengangguk.
"Sipp. Tenang aja" jawab Livi.
Di bus, Yoga duduk di bangku samping Nara.
Nara duduk berdua dengan Livi, sementara Yoga bareng Isna. Yoga yang kangen
berantem dengan Nara, memohon untuk Livi pindah. Nara menutup mata, saat Yoga
duduk dan menatap Nara.
"Ra, lo marah ya sama gue??" tanya
Yoga.
"Nggak.. Ngapain gue marah?" balas
Nara.
"Ra, bilang aja apa yang bikin lo BT sama
gue.." ucap Yoga, melas.
Nara malah diam. Dia mengambil novelnya dan
mengambil posisi paling mantap untuk membaca.
"Gue nggak marah sama lo.. Tenang
aja.." jawab Nara, lirih. Yoga menatap Nara. Dia yakin, Nara pasti
berbohong.
***
Begitu tiba di villa, Nara memilih sekamar dengan
teman-teman Livi. Nara membantu mereka mempersiapkan makan siang. Nara tertawa.
Ternyata, kakak-kakak kelas itu sangat kompak dan lucu. Nara sempat memandang
Yoga yang diikuti Isna. Perasaannya sedikit kesal. Namun dia memilih diam saja.
Yoga memandang semua anggota klub. "Hari
ini, kalian akan keliling daerah villa dan cari foto yang bagus! Yang menang,
nanti malam nggak usah kerja sama sekali!" ucapan Yoga disambut riuh oleh
anak-anak. "Kalian kerja sendiri.." tambah Yoga. Isna merengut.
"Awas aja yang nggak kerja sendiri!" ancam Yoga. Isna menghampiri
Yoga.
"Aku kan nggak bisa, Ga.." ucap
Isna.
"Latihan.. Nggak selamanya kan kamu
bersikap manja begini." sahut Yoga, lalu meninggalkan Isna.
***
Nara memandang pegunungan dan mulai
memfotonya. Burung-burung yang berterbangan di dekat awan, gunung yang tinggi,
dan orang yang sedang berjalan di atas gunung. Dia men-zoom kemudian
menjepretnya. Sempurna! Senyuman lembut menghampiri wajah Nara.
"Ra.." sapa Yoga.
"Apa lagi Ga?" tanya Nara, malas.
"Kita perlu ngomong.. Gue nggak bisa gini
terus. Lo tiba-tiba marah sama gue. Gue nggak tau Ra, gue salah apa.."
ucap Yoga, melas banget.
Nara memandang Yoga. "Lupain aja Ga...
Gue nggak marah sama lo.." jawab Nara. Yoga memandang Nara, sedih.
"Ra..." panggil Yoga. Nara melangkah
pergi meninggalkan Yoga.
Yang mereka berdua tidak tahu, ada Isna yang memperhatikan dengan penuh
rasa kecewa....
Mencuri Hati
Yoga menghempaskan tubuhnya ke sofa
empuk, saat Fatih bermain Play-Station 3 milik Yoga. Fatih memandang Yoga
sekilas.
"Gimana diklatnya bos?" tanya Fatih.
"Suram" jawab Yoga, sambil menutupi
wajahnya dengan bantal sofa.
"Suram gimana? Pemandangan ada 2
begitu!"
"Ya itu dia! Yang satu udah kayak stalker. Kemana gue pergi, dia ikut.
Yang satu diemin gue, tanpa gue tahu gue salah apa"
"Menurut gue, Nara jealous deh sama Isna. Secara gitu yaa, lo kemana-mana gandengan
sama Isna, padahal selama ini lo suka nyari masalah sama Nara.."
"Nara nggak suka sama gue..." Fatih
mem-pause gamenya dan memandang Yoga.
"Gue mau tanya... Lo dapet feeling dari mana dia nggak suka sama
lo??"
"Karena dia selalu marah tiap gue ajak
ngobrol.."
"Sadar nggak sih kalo setiap dia ngobrol
sama lo, wajahnya selalu merah?" tanya Fatih. Yoga memandang Fatih, sambil
mengingat-ingat.
"Nggak semua sih.. Tapi, iya.. Ada
beberapa obrolan yang bikin pipi dia merah.." jawab Yoga.
"So??"
"Ah, gue nggak mau berpendapat! Nanti
kalo kenyataan nggak seperti itu gue yang galau"
"Ya udah. Ntar sore gue mau ngajak Ghina
sama yang lain nonton. Gimana? Mau ikut?" ajak Fatih.
"Gila lo! Gue baru pulang jam 10 tadi..
Jam berapa lo mau pergi??" tanya Yoga.
"Jam 7 lah paling. Gimana??"
"Nara ikut??"
"Ntar gue atur..."
"Kalo dia ikut, gue baru mau ikut.."
Lalu melempar bantal sofa ke kepala Fatih kemudian beranjak pergi.
***
"NARA!" seru Ghina. Nara langsung
terbangun. "Apa?!" tanya Nara, lelah.
"Bangun!" Juwita menarik Nara. Nara terduduk di kasur dengan
mata mengantuk. "Kenapa sih?? Jangan rusuh deh!" ucap Nara.
"Bangun, mandi, terus pake baju bagus! Kita mau nonton!" ajak Ghina. "Nonton ya udah sana nonton. Gue
nggak ikut, mau dirumah aja, tidur.. Gue capek banget!" tolak Nara.
"Capek apa coba?!" tanya Juwita, sambil
bertolak pinggang. "Capek hati
ngeliatin Kak Yoga sama pacarnya.." jawab Tara, yang tiba-tiba muncul dari
luar. Nara langsung memerah. "Tara, nggak usah ngegosip deh!" seru
Nara, malu.
"Aku nggak gosip! Kan kamu sendiri tadi
yang bilang sambil beres-beres baju.." sahut Tara, lalu memeletkan
lidahnya.
"TARA!" teriakan Nara membuat Mama
Nara menghampiri mereka."Kok kalian berisik sih? Papa lagi tidur
tuh!" seru Mama Nara."Udah, Rara ikut aja! Lumayan kan, daripada
dirumah bawel.."
"Nara capek Mama.." ucap Nara, memelas. "Kalo lo ikut,
gue traktir makan pizza pepperoni!"
tawar Juwita. Mata Nara berbinar, lalu mengangguk setuju. "Ya udah, sana
mandi!" perintah Juwita. Nara langsung menurut.
Ghina menatap Tara. "Tara mau ikut?"
tanya Ghina. "Mau sihh, tapi..." Ghina tersenyum. "Ya udah, sana
ganti baju.." Tara bertepuk tangan riuh, kemudian segera berganti baju.
***
Nara memasang wajah merengut. Bukan
karena Tara ikut, tapi karena melihat sosok yang paling tidak ingin dilihatnya
berdiri di samping Fatih, sambil memperhatikan banner film. Fatih menyenggol
lengan Yoga pelan, membuat Yoga menatap ke arah Nara.
"Karena ada Tara, kita jangan nonton Breaking Dawn ya.. Nonton Puss in Boots aja" ajak Sabrina. "Tapi
Tara mau nonton Breaking Dawn.. Tara
mau liat wajah nelangsa Jacob, karena Bella dan Edward.." sahut Tara.
"Nggak boleh! Emang kamu nggak baca di
novelnya, ada adegan 17 tahun ke atas?" tolak Nara. Tara mendelik sebal.
"Kamu parno banget sih?? Aku nggak akan sekotor itu lah pikirannya.."
bantah Tara. Yoga memandang Nara. Nara bukan tipe cewek munafik. Pas dia tidak
setuju, dia pasti langsung bilang.
"Ya udah, Tara maunya apa?" tanya
Ghina. Tara tersenyum. "Breaking
Dawn, of course!" jawab Tara, riang. Ghina menatap Fatih. "Kamu
beli tiket gih.." ucap Ghina. Fatih mengangguk. Yoga mendekati Tara.
"Mau pop corn nggak??"
tawar Yoga. "Mau dong!" Nara
memandang langkah Tara dan Yoga. Mereka terlalu akur! Bahaya! Siaga 3! Siaga 3!
***
Nara memandang curiga ke bangku bioskop.
Tinggal 2 bangku yang tersisa. Untuknya dan Yoga. Nara menatap Tara yang
pura-pura tidak memperhatikan, duduk disamping Ghina.
"Ta, kamu duduk situ dong. Aku mau deket
Ghina.." pinta Nara.
"Aku mau disini gimana??" tolak
Tara.
"Tara... Kakak duduk disitu. Tolong
banget kamu pindah.." ucap Nara.
Nara tidak pernah menggunakan kata 'kakak'
saat mengobrol dengan Tara. Jadi, bisa dipastikan, begitu Nara mengucapkan kata
itu, Tara langsung bergeser untuk duduk disamping Yoga. "Kamu kenapa sih
nggak mau duduk disamping Kak Yoga?? Kak Yoga kan baik.. Mau beliin aku pop corn dan soda. Nggak kayak kamu, pelit dan parnoan..." goda Tara,
sambil mencomot pop corn. Wajah Nara
langsung memerah. Apalagi melihat Yoga mengangkat muka dari HPnya dan tersenyum
lebar.
"Nggak usah senyum!" tegur Nara pada
Yoga. Yoga langsung diam.
Film pun dimulai. Betapa nelangsa Jacob saat
menerima undangan dari Bella dan Edward. Yoga menatap Nara, kemudian mencolek
lengannya. Nara menoleh, menatap Yoga.
"Apa??" tanya Nara.
"Nggak papa" jawab Yoga.
"Nggak usah ngajak berantem deh! Gue mau
nonton!!"
"Ya ampun.. Gitu doang ngajak berantem?!
Gimana kalo gue bawa-bawa pisau sama bensin??"
"Berarti lo ngajak gue kawin!!"
"Ya udah, ayo kita kawin sekarang!"
"Ogah banget! Ntar gue dikutuk sama soulmate lo!"
Tara memandang Nara dan Yoga, kemudian
memasang wajah kesal. "Kamu pindah deh! Aku deket Kak Ghina aja! Mau
nonton, susah banget..." Tara menarik tangan Nara, hingga Nara duduk
disamping Yoga. Mendadak karene dibentak Tara, mereka berdua hening.
"Soulmate
lo mana?" tanya Nara, membuka percakapan.
"Siapa? Isna?" Nara cuma mengangguk.
"Gue tinggal. Tadi gue kabur ke rumah
Fatih sebelum dia dateng.." jelas Yoga.
"oohh.." sahut Nara. Padahal dalam
hati dia merasa sangat lega dan bahagia. "Kenapa
emang?"
"Nggak papa. Pengen nanya aja.."
"Kirain...."
"Kirain apa?" Nara jadi heran.
"Kirain lo jealous sama Isna.." Wajah Nara langsung merah tomat. Untung
saja bioskop gelap, jadi tidak terlihat. Dia memukul lengan Yoga.
"Jangan ngarang! Enak aja lo!" ucap
Nara. Yoga terkekeh. "Mana tahu kan.. Habis lo tiba-tiba diemin gue.. Gue
kira lo jealous sama Isna.."
Nara menatap Yoga.
"Nggak kok.." dusta Nara. Yoga
tersenyum masam. "Iyaa, gue yakin lo nggak mungkin jealous sama Isna.. Tapi kata Fatih, lo marah karena lo suka gue...
Jujur aja, pas dia bilang gitu... Gue seneng banget..." ucap Yoga.
Jantung Nara berdebar kencang. Nara hanya bisa
melongo menatap Yoga. Mendadak Yoga menyentuh pipi Nara dan membuatnya kembali
menonton film. "Gue tahu gue keren, tapi jangan segitunya lah kagum sama
gue.." goda Yoga. Nara memeletkan lidahnya. Yoga tersenyum. Dia memandang
Nara. Dia yakin, nanti malam dia akan bermimpi indah.
***
Nara tidak bisa tidur! Dia sukses galau karena
kata-kata Yoga di bioskop. Nara memukul-mukul kepalanya, membuat Tara
terbangun.
"Heiii, tidur! Udah jam 11 malam!"
perintah Tara. "Iyaa bawel!" sahut Nara. Dia melangkah mendekati meja
belajar dan mengambil kamera SLRnya. Tersenyum karena pemandangan indah di
kamera itu. Perlahan, dia tertidur di meja belajar.
Papa Nara baru saja pulang kerja dan memeriksa
keadaan anak-anaknya. Papa Nara tertegun melihat Nara tidur di meja belajar.
Papa Nara mendekat dan matanya tertuju pada sebuah kamera yang ada di atas
meja. Papa Nara mengambilnya kemudian menyalakannya. Melihat foto-foto yang
membuat Papa Nara tersenyum penuh arti
***
"Kameraku mana?!" teriak Nara,
heboh. Nara keluar dari kamar dan menatap keluarganya. Papa meringis salah
tingkah. "Sama Papa, Ra. Tadi malam Papa liat foto-foto di kamera kamu,
terus ada yang Papa suka.." jawab Papa. Nara tersenyum masam. "Ya
udah kalo gitu.." sahut Nara, lalu berjalan untuk memakai sepatu.
"Nara masih suka fotografi kan?"
"Banget Pa. Kenapa?"
"Nggak papa. Papa penasaran aja.. Udah
siap? Biar kita berangkat..." ucap Papa Nara, lalu tersenyum.
***
Hari Senin.
Yoga menjadi pemimpin upacara. Nara
baris paling depan. Yoga berhenti tepat di depan Nara. Wangi Yoga membuat Nara
gugup. Dia harus menghindar. Sesaat sebelum Yoga menyiapkan pasukan, Nara sudah
berbalik dan mengajak Juwita pergi, dengan alasan ingin ke UKS karena pusing.
Hari Selasa.
Nara melihat ada Yoga dari ujung
koridor bersama Sabrina dan Fatih. Nara langsung merebut novel The Duchess milik Ghina dan berpura-pura membacanya. Saat melewati Yoga, baru
dia kembalikan.
Hari Rabu.
Nara bertubrukan dengan Yoga. Nara
langsung pergi, sebelum Yoga mengajaknya bicara.
Hari Kamis.
Harusnya klub fotografi kumpul. Namun
Yoga berkata hari ini libur, tanpa mengumumkan kepada Nara. Berharap Nara akan
datang. Namun gadis itu tak juga datang.
Hari Jumat.
Tara memperhatikan kakaknya yang makin
gemar mengambil gambar matahari dan embun hujan di jendela. Sementara Fatih
melihat Yoga yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Seorang Yoga Bayuputra,
cowok yang dikenal dingin dan nggak ada belas kasihan sama semua admirernya nampak semakin galau karena Nara....
Ujian
Tidak terasa waktu sudah terlalu cepat
berlalu. Sudah tiba saatnya ulangan semester ganjil. Beda dengan sekolah lain,
SMU NUSA BANGSA tidak menerapkan ulangan mid, namun membuat ulangan mid menjadi
ulangan-ulangan harian.
Nara memandang ruang ujiannya. Ruang 21. Nara
menghela nafas. Tadi malam, dia belajar matematika dan sejarah. Seandainya SMU
NUSA BANGSA tidak menaruh hidden camera di berbagai tempat... Nara pasti
akan gampang mencontek Juwita.
Nara memandang siapa yang akan menjadi table-mate selama seminggu. Jantung Nara berdebar kencang. Yoga!! Yoga
Bayuputra, akan menjadi table-matenya. Sudah beberapa bulan dia tidak mengobrol
dengan Yoga, membuatnya merasa sangat gugup.
Nara melangkah masuk ke dalam ruang ujian dan
duduk di tempatnya, yang ada di pojok. Apakah ini hanya kebetulan atau memang
takdir? Nara menghela nafas, lelah. Nara mengambil buku cetak matematikanya dan
mulai menghitung. Melanjutkan apa yang telah dikerjakannya dari rumah tadi.
"ciyee Yoga!!" goda Fatih, keras.
Yoga yang baru satu langkah masuk ke dalam kelas, menatap Fatih.
"Apaan sih?? Jangan rusuh deh!"
sahut Yoga, sambil melangkah mendekati meja Nara. Nara yang mendengar suara
langkah Yoga, mulai berdebar.
"Stay
cool Nara. Just stay cool" gumam Nara, pelan.
Yoga berhenti tepat di depan meja. Matanya
menatap Nara. "Boleh permisi, gue duduk di pojok.." ucap Yoga. Nara
mengangguk.
Yoga cuma diam sambil belajar, membuat Nara
makin gugup. Daripada dia gugup, lebih baik dia melanjutkan mengerjakan tugas
matematikanya.
"Yogaaaaa..." panggil Isna. Yoga
langsung merengut. Dia langsung menarik buku dari tangan Nara dan memaksa Nara
di dekatnya.
"Yoga..." ulang Isna. Yoga
mendongak. "Apa Isna??" tanya Yoga.
"Ajarin aku.." jawab Isna.
"Aku juga mau ngajarin dia.. Kamu belajar
sama yang lain aja yaa..." sahut Yoga.
"Aku maunya sama kamu!!" seru Isna.
"Aku nggak mau sama kamu.." jawab
Yoga.
Nara memandang Yoga tajam. Apa-apaan cowok
ini?! Mungkin dia korslet, jadi tidak bisa memperhatikan kalau Isna itu adalah
gadis yang cantik jelita. Isna menatap Yoga. Menghentakkan kakinya, kemudian
melangkah pergi. Nara langsung memukul paha Yoga.
"Aduuhh!!" seru Yoga.
"Lo bilang gue bodoh, tapi faktanya lo
lebih idiot daripada gue!" ucap Nara.
"Lo bilang apa? Gue idiot?! Lo tuh! Udah
bodoh, ceroboh, suka goyang-goyang, hobi nabrak lagi!"
"Biarin! Daripada nyebelin dan
egois?!" Nara dan Yoga saling tatap ke manik mata.
"CIYEE..." anak XI IPA 1 serentak
membentuk koor yang dikomando oleh Fatih. Yoga menatap teman-temannya.
"Yoga ternyata gitu ya? Kenapa kalo
dikelas kalem?" goda Mario, teman sekelas Yoga.
"Yoga diem-diem suka nerkam lho,
dek.." goda Satya, teman sekelas Yoga yang lain.
"Yoga kalo sama gue dingin.. Tapi kenapa
sama adek kelas nggak??" goda Willona, lalu tertawa. Fatih makin bersemangat
mengoda. “Yoga jatuh cinta!! At last!”
seru Sabrina. Wajah Yoga sudah merah sekarang.
"Berisik..." ucap Yoga, lalu menutup
mukanya dengan tangan dan lanjut belajar. Nara hanya bisa tertawa pelan
***
Dan begitulah waktu ujian berlalu.
Nara semakin luluh karena Yoga sering memberi jawaban kepada Nara, jika Nara
tidak bisa. Seperti saat ulangan fisika. Nara lupa beberapa rumus. Nara mulai
gelisah. Menatap Juwita, berharap dia menangkap sinyal telepati dari Nara.
Namun nihil. Yoga melirik Nara sekilas. Berpura-pura tidak peduli, tapi dengan
lancar menuliskan rumus dengan lancar di kertas coretan.
Saat Yoga berdiri membuat Nara takjub. Fisika
dikerjakan hanya dengan 30 menit?! Yoga menunduk kemudian berbisik, "Tuh
udah gue bantuin.. Awas lo kalo bertingkah nyebelin lagi.." Nara memandang
Yoga, yang membuat Nara kemudian terdiam dan cuma bisa mengangguk salah
tingkah.
***
Nara sedang benar-benar dalam krisis kebelet.
Sesudah memperhitungkan semua kemungkinan, dia akhirnya memilih untuk izin ke
toilet. Di toilet, Nara bertemu dengan Isna yang sedang mencuci tangan. Isna
menghentikan aktivitasnya kemudian menatap Nara tajam. Nara lega karena sudah
mengeluarkan rasa gelisahnya. Begitu keluar, Isna masih ada di depan westafel.
"Kamu ngapain?" tanya Nara, ramah.
Isna malah mengibaskan tangan, tanda tidak peduli. Matanya menatap Nara tajam.
"Jauhin Yoga. Dia punyaku.."
ucapnya, memberi ultimatum.
"Maksudnya? Kita aja nggak deket
kok.." bantah Nara.
"Nggak deket?? Oh iya, kayak aku bakal
percaya.. Mana ada orang yang nggak deket tapi berantem?! Plus senyum-senyum
lagi!" bibir Isna bergetar. Nara memandang Isna. "Ya udah.. Gue bakal jauhin Yoga..
Puas?" tanya Nara. Isna mengangguk puas. Air mata dan bibir bergetarnya
hilang. Dia melangkah pergi, tapi sebelumnya sengaja menabrakkan bahunya ke
Nara. Badan Nara mendadak gemetar. Dia buru-buru keluar dari toilet, sebelum
dia terlanjur menangis.
***
Pada ulangan kimia, Nara mengabaikan coretan
Yoga. Mengabaikan setiap kebaikan hati
Yoga. Mulai bersikap dingin lagi. Tampaknya, Ghina dan Juwita juga sadar akan
itu. Mereka pun segera menginterogasi Nara.
"Lo kenapa sama Yoga??" tanya
Juwita.
"Galau.." jawab Nara.
"Galau kenapa?" tanya Ghina. Nara
menghela nafas. Matanya mulai memerah.
"Siapa yang bikin lo sedih?!" tanya
Ghina.
"Diri gue sendiri..." jawab Nara,
lalu berjalan pergi.
***
Sabrina sedang mengobrol dengan Fatih ketika
melihat Isna berjalan ke belakang sekolah. Penasaran, mereka mengikuti langkah
Isna. Mereka berdua sangat terkejut melihat Isna tampak ramah dan akrab dengan
Karren, cewek yang pernah mem-bully
Nara dan kabarnya juga dulu mem-bully
Isna di SMP. Sabrina dan Fatih saling bertatapan. Mengapa gadis manis seperti
Isna akrab dengan Karren, sang drama and
bully queen???
Rencana Rahasia
Nara tergolek lemas di meja kantin. Campuran
antara terkejut dan galau. Nara mendapat nilai 90 untuk pelajaran fisika.
Walaupun dia dapat nilai bagus, Nara harus mengakui bahwa bantuan Yoga sangat
berpengaruh. Ghina dan Juwita yang sudah tahu, hanya bisa prihatin.
"Lo mesti bilang makasih sama
Yoga.." ucap Ghina.
"Yea~
like hell it would be happen.." sahut Juwita.
"Kenapa?"
"Nggak perhatiin kalo tiap mereka ketemu,
mereka pura-pura nggak kenal??"
"Iya juga yaa.. Harusnya nggak boleh
gitu.. Masa tiba-tiba jauhin tanpa sebab? Nara tega juga ternyata ya? Kasihan
Yoga..."
Nara memandang kedua sahabatnya dengan gemas.
"Gue emang benci sama back-stabber...
Tapi, jangan frontal di depan gue juga kali ngejeknyaaa..." ucap Nara.
Ghina dan Juwita tertawa terbahak, lalu berebut mengacak rambut Nara.
***
Yoga cuma diam sambil mengetuk-ngetukkan HPnya
ke meja. Dia senang karena Isna pergi entah kemana tanpa bilang-bilang saat jam
kosong. Namun dia tetap merasa galau. Satya dan Mario mendekati dia dan bertatap-tatapan
jahil. Mereka merebut buku cetak kimia milik Sabrina dan mengambil aba-aba.
'PLAAK' Yoga langsung berdiri. "Satya!!
Mario!! Sakit, tahu nggak??!!" seru Yoga. Mario dan Satya malah tertawa
terbahak. "heeii teman-teman! Yoga lagi galau!!" seru Satya. Semua
mata menoleh. Menghentikan aktivitas dan menatap Yoga. "Galau kenapa?
Karena adek kelas kemaren yaa??" goda Mario. Fatih tertawa. "Bantuin
tuh woy.. Kasihan gue. Dia dapet 95 buat Kimia gara-gara salah nulis nama.
Harusnya Yoga Bayuputra, malah Yoga Aditya.. Gara-gara nama belakang cewek itu
ada Aditya juga..." Fatih membuka aib. Wajah Yoga sudah merah sekarang.
Menatap Satya, Mario, dan Fatih dengan tatapan ingin membunuh.
"Mau kita bantuin nggak, Ga?" tanya
Willona. Semua teman bersuara dengan penuh semangat. Yoga menatap
teman-temannya. "Serius nih?" tanya Yoga. Semua mengangguk. Sabrina
menghampiri Yoga dan merangkulnya. "We
are pals forever!!" seru Sabrina, keras disambut tawa riuh
teman-temannya. "So are guys ready?!"
tanya Sabrina. "YEAHHHH~" jawab anak-anak, semangat. Sabrina
tersenyum. Perlahan, semangat positif muncul dari Yoga dan dia mulai tersenyum
senang.
***
Nara memandang undangan pesta dansa, 'Christmas Ball'. "Apa ini??"
tanya Nara. "Undangan. Lo mesti dateng.." jawab Ghina. "Kenapa
mesti dateng?! Nggak ahh, nggak mauu~" tolak Nara. Juwita memandang Nara,
galak. "Berani lo nggak dateng??" mental Nara menciut. "Iyaa,
dateng, dateng.." jawab Nara dengan wajah sebal. Ghina melangkah keluar
dan bertemu Fatih dan Sabrina yang sedang menunggu di depan kelas X.4. "Done.." ucap Ghina. "Thanks babe.." sahut Fatih, lalu
mengecup pipi Ghina. Sabrina menjitak kepala Fatih dan menariknya pergi.
***
Nara bergerak cepat menuju rumah, saat
melihat sebuah mobil Jazz silver dirumahnya. Dia terkejut melihat Yoga sedang
mengobrol sangat akrab dengan Papa, Mama, dan Tara. Nara menghela nafas kesal.
Seandainya dia tidak menuruti ajakan Ghina untuk menemani dia membeli keperluan
pesta, dia pasti sudah mengusir cowok menyebalkan satu ini dan tidak membiarkan
dia mengobrol akrab dengan keluarga Nara. Yoga melirik Nara dari kacamatanya
kemudian tersenyum. Dia kembali menatap Papa, Mama, dan Tara. "Makasih
banyak ya Tante, Oom, Tara.. Saya pamit pulang.." ucap Yoga, lalu berdiri.
"Iya, hati-hati di jalan nak Yoga.." ucap Mama Nara. Yoga melangkah
mendekati Nara. "Baru pulang Ra??" tanya Yoga, ramah. Nara hanya
mengangguk. "Gue pulang ya Ra.." pamit Yoga. Nara tidak menjawab.
Malah masuk ke dalam rumah. Yoga melangkah lunglai ke mobil Jazz miliknya. Memandang
ke rumah Nara dan mendesah. "Gue salah apa sih Ra??" gumam Yoga,
kemudian menstarter mobilnya dan pergi.
***
Rumah Yoga penuh dengan siswa XI IPA 1.
Willona sibuk mendesain lay-out. Satya dan Mario sibuk mengatur tata letak
cahaya lampu. Sabrina mengajarkan Yoga berdansa waltz. Fatih dan beberapa anak
lainnya sibuk memilih lagu yang pas. Namun, semua berhenti saat heels Isna
mengetuk lantai. "Hai.. Lagi pada ngapain?
Kenapa kalian nggak ngajak aku??" Isna bertanya ramah. Semua anak hanya
bisa memandang Yoga. Yoga membenarkan posisi kacamata dan menatap Isna tajam.
"Kamu mau apa?" tanya Yoga. Isna menunjukkan undangan ‘Christmas Ball’ kepada Yoga. "Aku
cuma mau memastikan kalo kamu dateng ke Christmas
Ball samaku.. Soalnya aku udah beli korsage
yang sesuyai dengan kita berdua, warna hujan" jawab Isna, lalu
tersenyum. Yoga diam. Dia jadi mengingat kembali momen indah bersama Nara. Yoga
tersadar dari lamunan saat mendengar Fatih menjawab kencang, "Ya udah. Lo
tenang aja.. Dia pasti dateng sama lo.." Isna tersenyum senang. "OK then.. Bye guys! See you there,
Yoga!" dan Isna pun pergi.
Yoga menatap Fatih dengan tatapan
tidak percaya. "Apa-apaan itu tadi?" geram Yoga. "Lo jangan
marah dulu Ga. Gue sama Sabrina punya pendapat sendiri tentang dia, yang mungkin
nggak bakal lo percaya.. Lo sabar aja.." jawab Fatih, setengah berbisik.
Yoga memandang Fatih dengan penuh tanya. "Lo nggak bohong kan??"
tanya Yoga. Fatih memandang Yoga. "Do you
think I dare lie to you?" Fatih balas bertanya. Yoga menghela nafas,
lalu menggeleng. “Ya udah. Itu tahu..” sahut Fatih, kemudian kembali
menyibukkan diri dengan kumpulan CD yang bertebar di lantai. Yoga menghela
nafas lelah. Dia ingin semua masalah ini cepat selesai agar dia bisa menghapus
momen saat Isna datang dan mempertahankan momen bersama Nara. Jantungnya
berdetak kencang saat memikirkan Nara. Yoga terkejut dengan perasaannya. Apakah
ini yang namanya jatuh cinta?? Fatih
balas bertanya. Yoga menghela nafas. Dia ingin semua masalah ini cepat selesai
agar dia bisa menghapus momen saat Isna datang dan mempertahankan momen bersama
Nara. Yoga terkejut dengan perasaannya. Apakah ini yang namanya jatuh cinta???
Pengakuan Cinta
Christmas Ball yang diadakan di aula penuh
dengan murid-murid. Semua berdandan dengan harapan dapat membuat pasangan
mereka terpesona. Yoga, Fatih, Satya, dan Mario menunggu
dengan gelisah di depan jam besar sekolah. Menghela nafas, berputar-putar, dan
melirik jam berkali-kali.
"Udah siap?" tanya
Willona."Belum!" seru mereka kompak. "Lama banget.. Pesta udah
mau dimulai kan?" tanya Willona. "Kayak nggak tahu gimana cewek
dandan.." jawab Mario. Willona mau membalas namun dia terdiam dan
bergumam, "gosh! They are so
beautiful!" Mereka langsung berbalik dan terpesona.
Sabrina, sang cheerleader queen mengenakan gaun hasil designnya. tube bewarna
emas cerah, sementara terusan kebawah berbentuk tumpukan-tumpukan kain satin
bewarna abu-abu sepanjang mata kaki, dan karena itu gaun tersebut terlihat
semakin sempurna ditubuh Sabrina, membuat Satya terkagum-kagum.
Nara, sang calon photographer handal, mengenakan dress bewarna krem one-shoulder
selutut. Walaupun sederhana, gaun itu membuat Yoga melongo.
Juwita, sang anggota tim basket inti itu
mengenakan gaun bewarna hitam di atas lutut dengan motif bunga-bunga, membuat
Mario berdecak dengan senyum bahagia.
Sebagai calon dokter, Ghina tahu bagaimana
harus berpakaian. Ghina memilih gaun hitam dengan bahan lace dengan motif
bunga-bunga. Dan karena gaun itu, Ghina mendapat perhatian penuh dari Fatih.
***
Isna melihat ke segala arah untuk mencari
Yoga. Kemudian matanya tertuju pada seorang gadis yang terlihat kaku berdansa
dengan Yoga. Rasa marah dan obsesif membuatnya yakin dia harus melakukan
sesuatu. Isna melangkah menghampiri Yoga, menarik gadis yang sedang berdansa,
kemudian menampar pipinya keras.
Semua orang berhenti berdansa. Musik pun
berhenti. Yang tersisa hanyalah Nara yang meringis sambil menahan tangis dan
deru nafas memburu Isna. "Isna?!!" seru Yoga, marah. Isna menatap
Yoga dengan pandangan yang sangat berbeda dengan Isna yang dulu. "Apa?!
Aku mau kasih dia pelajaran, biar dia jera deketin kamu!" jawab Isna.
"Apa??" Yoga tampak sangat terkejut.
"Aku cinta banget sama kamu! Aku sampai rela berpura-pura jadi gadis manis
dan innocent yang rela tersenyum terus biar kamu tetap disamping aku! Dan aku
pengen liat seberapa besar kamu sayang samaku. Jadi aku minta Karren, sahabat
baikku berpura-pura mem-bully aku dan
mengatur kepergianku ke Inggris. Kamu kira untuk apa? Hanya untuk tahu seberapa
besar aku dimata kamu!! Dan tiba-tiba aku dapat kabar dari Karren, kamu suka
sama dia.." Isna menunjuk Nara. "Aku udah nyuruh Karren mem-bully dia, tapi dia nggak jera! Jadi aku
pulang, berharap kamu masih nungguin aku.. Tapi aku malah berhadapan dengan suasana yang
makin suram! Dasar perusak!!" seru Isna, mengamuk sambil berusaha mencakar
wajah Nara. Nara bersembunyi dibalik Yoga dengan penuh ketakutan. Ternyata,
inilah Isna Firstiana yang sebenarnya. Kejam, palsu, obsesif, kasar, dan tidak berperasaan.
Yoga menggenggam tangan Nara erat dan
memandang Isna sinis, "Untung aja lo sempat pergi dari hidup gue.."
bisiknya. Isna masih tampak tidak terima. Dia lalu bertanya dengan suara
lantang. “Apa sih bagusnya dia daripada aku??! Apa yang bikin kamu cepat lupain
aku??!" tanya Isna, marah. Yoga melirik Nara sekilas, lalu menatap Isna
tajam. "Lo nggak pernah terganti Na. Sampai kapan pun.. Lo tuh cewek yang
paling gue sayang.. Lo cewek yang bikin gue mati rasa. Cuma, lo dateng di saat
yang salah. Lo dateng dengan harapan yang belum tentu bisa gue kabulkan lagi..
Mungkin, kalo lo dateng lebih cepat, semua nggak bakal begini.. Kenapa gue bisa
cepat lupain lo? Karena dia nggak lebih cantik daripada lo. Dia lebih nyebelin,
lebih bebal, nggak suka hujan, punya hobi yang super norak dan nggak
jelas.." Nara mendelik sebal ke arah Yoga. "Tapi, cuma dia yang
berhasil masuk ke zona nyaman gue dan menjungkir-balikkan dunia gue.."
lanjut Yoga, lalu tersenyum. Yoga
menggenggam tangan Nara erat dan menarik Nara keluar dari hall menuju taman sekolah. Meninggalkan Isna yang mulai terisak.
Fatih memandang teman-teman sekelasnya yang
masih tidak percaya dengan kata-kata Yoga barusan. "Guys, it's show time!!" serunya, semangat. Siswa-siswi XI IPA
1 langsung buru-buru menuju taman sekolah.
"Lo nggak papa?" tanya Yoga, sambil
membelai pipi Nara lembut. Wajah Nara mendadak memerah. Dia cuma bisa
menganggukkan kepalanya. "Sakit sihh, cuma nggak parah banget kayak tadi..
Gue berasa di sinetron! Hahaha. Tapi, kalo tahu bakal ditampar, mending dirumah
nonton Ugly Betty bareng Tara, sambil ngemil.." keluhnya. Yoga makin
merasa bersalah. "Maaf ya Ra.. Maaf banget.." ucap Yoga, dengan nada
memelas. Nara tersenyum tipis. "Iya, nggak papa.." Yoga pun tersenyum
lega.
Perlahan, mistletoe
turun dari atas pohon besar di taman sekolah. Yoga dan Nara mendongak. Yoga
menatap Nara yang masih memandangi mistletoe.
Inilah kode untuk menyatakan perasaannya pada Nara.
"hhmm~ Ra, gue mau ngomong.." ucap
Yoga. "Ngomong aja.." Nara masih memandang kagum mistletoe. "Ra.. Gue mau ngomong.. Dengerin dong.." Yoga
mulai gugup, menarik lengan Nara. Nara menatap Yoga kesal.
"Apaaa??!" Yoga menatap Nara dengan
tatapan aneh. Tangannya gemetaran. Nara memandang Yoga, lalu tertawa terbahak.
"Lo kenapa sih Ga??"
Fatih sudah tidak sabar lagi. Dia melangkah
menghampiri Nara dan Fatih. Menatap Nara penuh arti dan berkata, "Nara
Ragil Aditya, mau nggak jadi pacarnya Yoga??" tembak Fatih langsung. Wajah
Nara dan Yoga kompak memerah. Nara cuma menunduk salah tingkah.
"Mau nggak Ra??" desak Fatih. Nara
menatap Yoga, kemudian tersenyum lembut. "Mau.." jawabnya. Semua anak
XI IPA 1 kompak bertepuk tangan riuh. Satya dan Mario memutar lagu ‘Mistletoe-Justin Bieber’ lewat speaker sekolah. Yoga memandang Nara. "May I have this dance?" tanya Yoga.
"Sure you may.." jawab
Nara.
Nara dan Yoga berdansa dengan penuh senyuman.
Seakan yakin bahwa happy ending itu
ada di dunia nyata. Yoga dan Nara terus berdansa dengan wajah bahagia, sesuai
dengan harapan anak-anak XI IPA 1 dan sahabat-sahabat Nara. Fatih menghampiri
Ghina, kemudian tersenyum lembut. “Dansa yuk..” ajak fatih. Ghina menatap Fatih
dengan tatapan polos. “Aku nggak bisa dansa, Fatih.. nanti kaki kamu keinjak..
Kasihan..” tolak Ghina. Fatih malah menggelengkan kepala. “Keinjak juga nggak masalah.
Ayo, sini nanti aku ajarin..” Fatih menarik tangan Ghina dan ikut berdansa di
lantai taaman sekolah. Juwita sedang bersenandung saat Mario melompat turun
dari atas pohon. Juwitamenatap Mariotajam. “Ngagetin tahu nggak??” ucap Juwita,
Mario tersenyum girang. “Imma under the
mistletoe.. How about joining me?? Being alone under mistletoe isn’t romantic
at all” tawar Mario. Juwita tertawa. “Seriously???
You’re zero for dancing..” ejek Juwita. “Who cares??” Mario tersenyum lalu menarik Juwita berdansa. Sabrina
sibuk membereskan bekas-bekas daun dan pita untuk membuat mistletoe, saat Satya datang. “Sabrina, mistletoe jangan dibuang.. Sayang. Mending buat gue aja..” Sabrina
mengerutkan dahi. “Buat apa?? Nanti kalo mau, ambil aja yang punya Nara dan
Yoga..” tanya Sabrina. Satya merebut mistletoe
dari tangan Sabrina dan berjinjit untuk mengikatkan dibatang pohon. Sabrina dan
Satya tertawa kompak karena mistletoe
hanya seukuran mata Satya. Padahal, harusnya bisa lebih tinggi lagi. Mereka
berdua berdansa dengan penuh aura kebahagiaan. Lampu kerlap-kerlip taman
sekolah, hasil kerja anak-anak cowok menutupi beberapa hal indah di taman sekolah....
“I’m
feeling one thing, your lips on my lips,
That’s
a Merry Merry Christmas...” Mistletoe-Justin
Bieber
Waktu Berputar
Pagi hari di bulan Februari, tanggal 14. Nara
memberikan Yoga sekotak cokelat buatan sendiri, sementara Yoga memberi Nara
sebuah boneka Patrick Star yang besar. Nara marah-marah saat Yoga memberi
boneka itu.
"Kenapa Patrick sih?! Kenapa nggak Teddy
Bear atau Winnie the Pooh??" tanya Nara. "Soalnya Patrick itu sama
kayak lo. Ceroboh dan bodoh!" jawab Yoga, cepat. Nara merengut.
"Nyebelin kan?? Gue marah nih!" balas Nara. "Yaa, gitu aja
ngambek Ra. Udah, simpen dulu tuh boneka di kamar.." saran Yoga.
"Ogah banget di kamar.. Mau gue taruh di gudang!" sahut Nara, lalu
masuk ke dalam rumah.
Nara kembali keluar bersama Papa, Mama, dan
Tara. "Hati-hati Yoga. Oom titip Nara." ucap Papa Nara. "Kak
Yoga awas kena diare habis makan cokelat Nara.." goda Tara. Nara langsung
melotot. "Awas kamu nanti!" ancam Nara, disambut tawa Tara. "Ya
udah, Oom, Tante, Tara, kami pergi dulu.." pamit Yoga dan mereka pun
pergi.
***
Lapangan sekolah dipadati banyak murid. Nara
dan Yoga yang baru datang, tampak bingung. "Ada apa ya Ra?" tanya
Yoga. Nara cuma mengangkat bahu. Ghina dan Juwita berlari mendekati Nara.
"Ada apa sih?" tanya Nara. "Katanya sih ada murid yang dapat
beasiswa ke Amerika.." jawab Juwita. Nara cuma manggut-manggut.
Kepala Sekolah, mr. Sebastian tiba di podium
bersama dengan 2 orang asing. Senyum bahagia diwajah mr. Sebastian menambah
rasa penasaran para murid. "Good
morning for all of my beloved ones. Today, I'm here today with pride to tell
you that one of your friend is succeed won a competition on web world wide!"
seru mr. Sebastian bangga. "And, why
do these men here?? Because... She's not only won, but she's on the first
place!" Anak-anak makin penasaran. Beberapa mata menatap Ghina, tapi
Ghina tetap berkata bahwa dia tidak pernah ikut kontes apa-apa via web.
"For
the prize, she'll have a full scholarship to Academy of Art University.."
Para murid langsung bertepuk tangan riuh. Siapa yang tidak tahu universitas
hebat satu itu? Universitas dimana para alumnusnya pasti mendapat pekerjaan
yang bagus di bidang fotografi dan seni. "Please
congratulate your dearest friend, Nara Ragil Aditya!!" seru mr.
Sebastian. Mendadak hening. Nara yang tampak semangat bersama 2 sahabatnya
mendadak lemas. Semua mata, termasuk mata Yoga menatapnya tajam.
"Gue??" tanya Nara.
***
Papa
dan Mama Nara sudah duduk di ruang Kepala Sekolah. Nara masih tidak percaya
bahwa dialah pemenangnya. Menerima beberapa dokumen dan foto yang membuat dia
menang, berhasil menjadikannya seakan orang ling-lung. Nara menatap Papanya,
meminta penjelasan.
"Papa liat foto-foto di kamera kamu dan
Papa ingat kalo ada website yang mengadakan kompetisi itu. Papa ingat gimana
obsesi kamu jadi fotografer handal.. Makanya, Papa ikutkan kamu.." jelas
Papa.
"Tapi kenapa Papa nggak minta
persetujuanku dulu??" tanya Nara, frustasi. "Papa udah tanya kan?
Papa udah tanya apa kamu cinta sama fotografi, dan kamu jawab ya.." jawab
Papa.
Nara memandang mr. Sebastian dengan penuh
harap. "When will I go, Sir?? After
I graduated?" tanya Nara. "Nope.
In your documents, it's been clear that you must go soon. And if you are still
a student, you'll continue your studies there.. As a compromize being accepted
to the academy.." jawab mr. Sebastian sangat jelas.
"English
please?" tanya Mama Nara. "She
has to leave for 2 weeks since today.." putus mr. Sebastian. Nara
memandang Papa dan Mamanya. "Jadi gimana Ra??" tanya Mama Nara. Nara
cuma diam. "Just give me some time.." gumam Nara, pelan.
***
Nara menghindari setiap pandangan mata
semua orang. Menghindari Yoga dengan cara berpura-pura tidur saat Yoga datang
pada jam istirahat, tidak makan di cafetaria,
dan memohon pada Juwita untuk pulang bareng. Nara tahu Yoga butuh penjelasan.
Namun dia sendiri pun tidak tahu harus menjelaskan apa. Nara tidak mengangkat
semua telepon Yoga dan tidak membalas satu pesan singkat pun. Nara hanya bisa
berdiam diri, tanpa tahu apa yang sedang dia perbuat. Nara memang bermimpi
untuk masuk ke universitas itu. Karena obsesinya menjadi photographer yang handal. Nara akhirnya memilih untuk
menggelatakkan tubuh di atas temapt tidur. Tidak peduli dengan apa yang sedang
terjadi..
***
Yoga membetulkan posisi kacamatanya.
Ingin membanting HPnya namun dia tidak tega. Ingin berteriak, tapi dia tidak
ingin pembantunya cemas. Akhirnya, Yoga pada pilihan terakhir. Memukul-mukul
bantal dengan emosi yang campur aduk. Terdengar pintu diketuk. Yoga
menghentikan aktivitasnya dan membuka pintu kamar. Terkejut dengan Isna yang
sedang tersenyum, ramah padanya. “Mau apa??” tanya Yoga, galak. “Mau nghibur
kamu..” jawab Isna. Yoga mengibaskan tangan dan menggeleng. “Nggak usah
repot-repot.. Gue nggak perlu dikasihani..” sahut Yoga dingin, lalu membanting
pintu. “AARRGHHH!!!!!” serunya kencang. Yoga tidak bisa menuggu. Dia harus
menyelesaikan masalah ini. Nanti dia akan pergi ke rumah Nara. Meminta
penjelasan dan memohon agar dia jangan pergi.
***
Nara kenal betul sifat egois Yoga.
Yang tidak mau mendengar pendapat dan saran dari orang lain. Nara tahu dia
harus menjelaskan semua pada Yoga. Dia melangkah mendekati ruang tamu. Yoga
sedang menunduk bermain HP. “Hai..” sapa Nara. Yoga mendongak dan menataap
gadis yang berhasil membuat dunianya jungkir balik. “You owe me stories..” ucap Yoga. Nara mengangguk pelan. “Aku nggak
akan kabur.. Aku bakal jelasin semua. Dari awal sampai keputusanku gimana..”
ucap Nara. Yoga cuma mengangguk. Nara sudah menggunakan kata-kata ‘aku-kamu’,
berarti dia sedang ingin serius. “Papa yang ngirim foto-fotoku ke lomba itu
dengan tujuan semoga aku menang dan bisa diterima di Academy of Art University, karena Papa tahu gimana pengennya aku
masuk universitas fotografi.. Dan aku tahu, aku nggak boleh marah sama dia tapi
harusnya aku bersyukur karena punya Papa sebaik dan bisa ngerttin aku kayak dia..”
ucap Nara sambil memandang langit-langit rumah. Yoga menatap Nara. “Jadi, apa keputusan
lo??” tanya Yoga, pelan. “Gue harus pergi Ga.. Karena kesempatan kayak gini
nggak mungkin datang 2 kali.. Dapetin cowok egois kayak lo, juga nggak mungkin
2 kali.. Tapi, gue harus ngejar yang ini, karena ini mimpi gue.. Gue nggak
berharap apa-apa dari lo.. Cuma berharap semoga lo ngerti posisi dan keadaan
gue..” jawab Nara, diplomatis. Nara memandang Yoga. Mata Nara sudah mulai
berkaca-kaca. Yoga termenung. Kedatangannya adalah mencegah Nara pergi, namun
sekarang dia merasa sangat jahat jika meminta Nara untuk tetap tinggal. “Gue
bakal nungguin lo..” ucap Yoga. Nara menatap Yoga. Dia terpaksa tertawa. “Nggak
perlu..” jawab Nara. Yoga menatap Nara trepat dimanik mata. “Lo ingat kan
gimana dulu gue nungguin Isna?? Gue bisa ngelakuin
kayak gitu sekali lagi.. Gue pasti setia nungguin lo disini. Tenang ajaa..”
ucap Yoga. “Gue nggak mau bernasib sama kayak Isna.. Gue takut terlalu
berharap. Gue takut gue bakal kalah sama ‘Nara’
yang lain..” sahut Nara. “Nara itu cuma satu. Cuma lo doang. Tenang aja, gue
nggak bakal bikin lo bernasib sama dengan yang lalu..” jawaban Yoga membuat
Nara tidak bisa menghentikan tangisnya. Dia memeluk Yoga, erat. Dari balik
dinding, Papa, Mama, dan Tara tersenyum tipis. Berharap janji Yoga benar-benar
tidak hilang ditelan waktu...
Pergi
Untuk Kembali
Nara
menggenggam erat hand-bag hitamnya.
Dia tampak cemas, seolah menunggu sesuatu yang tak pasti. Keluarganya, Ghina,
Juwita, Sabrina, dan Fatih telah menemaninya sejauh ini. Sabrinalah yang
menerangakan bagaimana cara dia untuk beradaptasi di Amerika, Fatih dan Ghina
yang sibuk mengurus passport dan visanya, sementara Juwita membantu Nara
untuk menyelesaikan semua tugas sekolah sebelum dia berangkat ke Amerika. Namun
Yoga?? Yoga malah entah kemana. Nara menghela nafas lelah. Dia menyerah.
Dia mengaduk-aduk tasnya dan mengambil
sebuah scrap-book buatan sendiri
kemudian memberikannya kepada Fatih. “Nanti tolong kasih ke Yoga ya..” ucapnya
pelan. Fatih Cuma bisa mengangguk. Nara memeluk Papa-Mamanya. “Kalo ada
apa-apa, telepon Papa. Kalo nggak betah, bilang Papa.. Biar Papa sama Mama juga
Tara datang kunjungin kamu. Jaga diri ya sayang. Papa sama Mama bakal terus
doain kamu..” ucap Papanya. Nara menghapus air
matanya dan tersenyum. “Hati-hati sayang.. Mama berdoa semoga semuanya
lancar..” ucap Mamanya. Nara menghampiri Tara yang sudah menangis. “Kamu kenapa
nangis?? Bukannya seru ya kalo nggak ada aku? Bisa ngerebut remote TV??” goda Nara. Tara merengut.
“Nggak lucu!” sahut Tara, galak. “Take care yaa..” ucap Nara. “Kamu juga. Kamu
harus sering-sering skype aku!! Awas kalo
nggak!! Kamu nggak boleh pulang..” ancam Tara. Nara memberi sikap hormat pada
Tara. “Siap komandan!” seru Nara.
Nara menghampiri kedua sobatnya dan
memeluk mereka erat. “I’m gonna miss you
girlsssss.....” ucap Nara. Nara memeluk Sabrina dan berbisik, “Kalo ketemu
Satya, pukul dia. Dia ada hutang samaku..” Sabrina tertawa. “Aye, Sir!” ucap Sabrina. Nara memeluk
Fatih erat. “Jagain temenku yaa.. Jangan dibikin sedih..” Fatih cuma mengangguk
sambil tersenyum. Nara melangkah masuk ke dalam bandara untuk check-in. “Aku
berangkat yaa...” ucap Nara, lalu masuk tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Polisi bandara wanita menatap Nara yang sedang menahan tangis sambil tersenyum.
“Kalau memang ingin nangis, nangis aja.. Ditahan malah akan jadi beban.”
sarannya. Nara tersenyum maksa. “Makasih yaa...” sahutnya.
***
Yoga mendengar HPnya bergetar.
Buru-buru dia mengeceknya. ‘Aku berangakat yaa.’ Sesak di dada saat melihat
pesan itu adalah pesan siaran. Yang berarti, pesan itu tidak hanya untuk
dirinya namun juga untuk orang lain. Hpnya bergetar lagi. Dengan malas, dia
membacanya. ‘Wish you’ll keep your
promise’. Pesan itu bewarna hitam, berarti hanya untuknya. Buru-buru dia
mengetikkan balasan, namun balasan itu pending. Yoga menggerutu sebal. Dia
menyesal tidak ikut mengantar Nara ke bandara. Tanpa permisi, Fatih masuk ke
kamar Yoga dan menggeletakkan badannya
disamping Yoga, kemudian menyerahkan scrap-book
kepada Yoga. “Apaan nih?” tanya Yoga, bingung. “Baca aja.. Kalo gue yang nerima
itu dari Ghina, sampai mampus juga gue tungguin dia balik..” Fatih
memukul-mukul perut rata yoga kemudian melangkah pergi. Yoga langsung mebuka scrap-book itu dan terpesona.
***
Isi scrap-book itu adalah segala hal tentang Nara. Tentang
ketakutannya, tentang hobinya, tentang mata pelajaran favorit seklaigus yang
paling ingin dia bumihanguskan dari dunia, keluarganya, segala rahasianya,
dan.... 3 foto Yoga yang secara candid diambil Nara. Yoga mengerutkan dahinya.
Foto-foto itu memang hasil editan Nara, namun.. Kapan Nara mengambil foto-foto
itu?? Pada halaman terakhir, tulisan yang terbentuk dari berbagai jenis huruf
dari majalah-majalah sangat membuatnya mendadak rindu kepada Nara. Seandainya dia
ikut mengantar Nara, dia pasti tidak akan merasa tersiksa seperti ini. Yoga
mengacak-acak rambutnya. Apa mau dikata? Nara telah pergi. Meninggalkan dirinya
dengan harapan yang tak pasti. Berapa lamakah dia harus menahan rasa galau
ini??
***
"Are you done with the day-dreaming? C'mon Nara. You are already 24..
You're mature enough to realize that day-dream is useless.." Emma
mengejutkan Nara. Nara tersenyum. "Don't
speak it out loud! That's embarrasing.. How's Symoné??" Symoné, adalah nama panggilan untuk
mobil VW Emma. "He's okay.. So, are
you ready to go home?" tanya Emma. Nara mengangguk. "Come on then.." ajak Emma. Perjalanan
menuju bandara San Francisco terasa
sangat cepat bagi Nara. Sebentar lagi, dia akan pulang ke rumahnya di
Indonesia. Bertemu dengan Papa, Mama, dan Tara yang sudah remaja. Bertemu
dengan Ghina yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Fatih, Juwita yang
sudah bertunangan dengan Mario, dan menggendong baby Greyson, putra Sabrina dan Satya. Nara kembali mengingat Yoga.
Nara menghela nafas. Dia tidak boleh peduli dengan Yoga, karena setiap
mengingat Yoga, dia pasti rindu saat-saat bersama Yoga.
Akhirnya mereka sampai di bandara. Emma
menggenggam hand-bag Nara erat. Tidak
rela untuk membiarkan Nara pergi. "What?"
tanya Nara. "I can't let you go.."
jawab Emma. "hahaha. Why?"
tanya Nara. "You've been my bestie
for 4 years.." jawab Emma. "Em,
I'll miss you too.. But I gotta go home. Indonesia misses me.." ucap
Nara. Emma tertawa. "Like hell! I'll
visit you.. How about that?" tanya Emma. Nara mengangguk. "Sure.. Now let me go.." ucap Nara.
Emma menurut. Setelah lepas dari genggaman Emma, Nara masuk ke dalam ruang
untuk segera check-in. Buru-buru
berlari karena pesawat sudah boarding.
Di pesawat, Nara memilih tidur. Perjalanannya pulang ke Jakarta akan memakan
waktu yang panjang dan membosankan.
***
Nara tiba dirumahnya sudah hampir pukul 4
pagi. Nara tidak melihat ada mobil, yang memberi pertanda bahwa Papanya belum
pulang. Nara masih ingat kebiasaan keluarganya. Menyembunyikan kunci rumah di
bawah pohon kaktus. Perlahan, Nara membuka pagar dan membuka rumahnya. "SURPRISE!!"
seru semua orang. Nara melotot karena kaget. Namun setelah melihat semua teman
dan keluarganya, dia kembali ceria. "Aku kangen kaliannnn..." ucap
Nara, lalu memeluk mereka satu-satu. "Kamu udah lupa ya sama mobil kita
Ra? Papa cuma parkirin di rumah Pak Winto, kamu nggak kepikiran.." ucap
Papanya. Nara tertawa. "Aku selama disana, cuma tahu VW doang Papa.."
sahut Nara, bercanda, lalu menggendong baby
Greyson. "Nara, istirahat dulu yuk.. Nanti, kamu kan bisa main lagi
sama Greyson.." saran Mamanya. Nara menurut. "Ra, mau kerjaan?"
tanya Mario. Nara menoleh dan mengacungkan jempolnya. "Sippp. Nanti kita
omongin yaa" Mario pun mengangguk...
Epilog
Pekerjaan yang diberikan Mario cukup
menggiurkan. Mario, yang menjabat sebagai ketua yayasan SMU NUSA BANGSA
menggantikan ayahnya meminta Nara untuk hanya memfoto anak-anak SMU NUSA BANGSA
dengan bayaran US$500 per jam, karena Nara secara tidak langsung sudah menjadi
fotografer bertaraf internasional, karena dia lulusan universitas ternama
Amerika.
***
Yoga sedang menikmati udara di taman sekolah,
lalu memandang design lay-out yang
sudah dia buat. Dia cukup tidak rela merenovasi taman sekolah, karena
menurutnya taman itu punya momen yang membuat dia selalu ingin ke sana. Dia
memandang ke arah luar taman dan tertegun. Dia mengenal sosok yang
membelakanginya. Rambut keriting itu... NARA! Nara sedang sibuk mengambil foto
pohon-pohon sekolah. Yoga merasa ada yang menggelitik dirinya. Rasa rindu,
galau, dan senang yang tidak bisa terbendung mendadak meluap. Tangannya
gemetaran. Buru-buru dia berlari menghampiri Nara. "Nara?" sapa Yoga.
Nara berbalik dan menatap Yoga.
Nara tidak bisa mempercayai apa yang ada di
depan matanya. Dia mengerjap berulang-ulang. Memaksa mata dan hatinya untuk
jangan main-main. Namun Yoga tetap berdiri disitu dengan senyuman yang sama. Tangan Nara gemetar memegang kamera SLRnya.
"Yoga??" bisik Nara, pelan. Yoga mengangguk. Nara tidak bisa menahan
lagi. Nara langsung memeluk Yoga erat. "I've been missing you for 8 years, cowok egois!!" ucap Nara.
Penantian panjangnya terbayar sudah. Janjinya telah dia genapi. Gadis yang sama
telah membuat dunianya jungkir balik, gadis yang sama juga lah yang selalu
membuat Yoga mengingat Nara setiap matahari bersinar. Sudah kembali untuk
menghentikan rasa galaunya. Yoga memeluk Nara lebih erat, seakan tak rela
melepaskan gadis itu pergi lagi. Perlahan, Yoga meletakkan kepalanya di atas
kepala Nara. Semyuman menghiasi wajahnya. Dia menghela nafas lalu menjawab,
"I know, cewek bodoh dan
ceroboh.." jawab Yoga, pelan....
I'm so thankful for the moments so glad I
got to know ya
The times that we had I'll keep like a
photograph
And hold you in my heart forever
I'll always remember you
Nara’s
Last Page on Her Scrap-Book

Tidak ada komentar:
Posting Komentar